BANDA ACEH – Riri Khorirah, MA dari Komnas Perempuan menegaskan apabila teroris bukan hanya didominasi oleh laki-laki, tetapi sudah merambah kepada perempuan dan anak.
“Motivasi perempuan yang bergabung ke ISIS dari ekonomi, ideologi, dan fanatisme,” kata Riri Khorirah saat tampil sebagai pembicara dialog “Perempuan Agen Perdamaian” yang digelar FKPT dan Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) di Hotel Hermes, Kamis (12/11).
Riri menjelaskan dari tahun 2015 sampai 2020, lebih 40 orang perempuan yang ditangkap karena terlibat tindak pidana terorisme, termasuk 6 orang melakukan aksi bom bunuh diri.
“Pelaku biasanya adalah orang-orang yang menganut ideologi tertentu,” lanjutnya.
Menurut Riri peran perempuan dalam jaringan Teroris sudah dimulai sejak 2009.
Selain itu, kata Riri- terorisme terjadi akibat pergeseran makna jihad di kalangan kelompok radikal, yakni jihad tandim (diketahui pimpinan/ berdasarkan fatwa) menjadi Jihad fardiah (setiap orang bisa melakukan jihad) & jihad dhafi’ (defensif dari asing).
“Ini artinya setiap orang laki-laki, perempuan dan anak-anak memiliki tanggungjawab yang sama untuk menjalankan amaliyah jihad. Pergi ke surga satu keluarga dipilih daripada hidup penuh stigma dan bullying,” demikian Riri Khorirah.
Acara Dialog “Perempuan Agen Perdamaian” dibuka Wakil Walikota Banda Aceh Zainal Arifin. Menampilkan pembicara Kasubdit Pengawasan BNPT Republik Republik Indonesia H. Moch. Chairil Anwar, Komnas Perempuan dan BNPT Riri Khariroh, M.A dan Kabid Perempuan dan Anak FKPT Aceh Suraiya Kamaruzzaman, ST, L.LM., MT.
Hadir Ketua FKPT Dr Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Perwakilan Kesbangpol Aceh, Perwakilan Komandan Kodim 0101/BS, Perwakilan Kapolresta Banda Aceh, dan Perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anek.[ji]










