Meulaboh – Untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Kabupaten Aceh Barat, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat melakukan pembinaan kepada sejumlah Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kabupaten setempat.
Hal tersebut berlangsung di aula Al Azhar Meulaboh, Selasa 8 Desember 2020.
Kasi Pendidikan Agama Islam Kankemenag Aceh Barat, H Khairul Azhar SAg MA mengatakan, kegiatan tersebut sebagai upaya meningkatkan manajemen guru pendidikan agama Islam (PAI) dalam melaksanakan pembelajaran yang berkualitas, serta meningkatkan kemandirian guru PAI dalam mengoperasikan aplikasi siaga.
Khairul menyebutkan, kegiatan yang dilaksanakan selama sehari tersebut diikuti oleh 40 guru pendidikan agama Islam (PAI) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat, terdiri dari asosiasi guru pendidikan agama Islam (AGPAI), forum kerja guru (FKG) kelompok kerja guru (KKG), dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI).
“Semoga kegiatan ini mampu mengoptimalkan dan melahirkan guru PAI yang handal dan berkualitas di era milenial,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat, H Khairul Azhar SAg mengatakan, guru pendidikan agama Islam merupakan salah satu penerus nabi dalam menyiarkan ajaran syariat.
Menurutnya, di zaman teknologi sekarang ini, guru pendidikan agama Islam (PAI) menjadi ujung tombak dalam memperbaiki akhlak generasi yang berkualitas dan mulia.
Khairul menjelaskan, saat ini dengan maraknya game online, perilaku anak-anak sekolah sudah sangat jarang terkontrol. Bahkan mereka sudah menjiwai memainkan game yang sudah dilarang oleh majelis permusyawaratan ulama (MPU) Aceh seperti game perang PUBG, dan game Domino. Bahkan sangat disayangkan game tersebut juga dijadikan sebagai judi online.
“Ini menjadi kewaspadaan di masyarakat, dan sangat perlu kita sikapi bersama, agar generasi kedepan tidak rusak,” tambahnya.
Selain itu juga, masih banyak siswa yang belum mampu membaca Alquran. Pada tahun 2018 lalu, anak-anak di Aceh yang tidak mampu membaca Alquran mencapai 50 persen. Sedangkan pada tingkat mahasiswa, yang tidak mampu membaca Alquran hampir 70 persen.
“Keberhasilan guru PAI dapat terlihat jika mampu menurunkan buta huruf baca Alquran bagi siswa di sekolah,” jelasnya.
Ia berpesan kepada seluruh guru PAI untuk selalu melakukan survei secara rutin terkait kemampuan siswa dalam membaca Alquran. Apabila ada siswa yang belum bisa membaca Alquran, hal itu menjadi fokus utama guru PAI dalam membina siswa tersebut.
“Kita fokuskan di tahun 2024 tidak ada lagi siswa yang tidak mampu membaca Alquran,” tekannya.
Ia menambahkan, seorang guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja, namun juga harus mengajarkan perilaku yang baik, dengan tetap mengimbangi ilmu secara teori, emosional dan spiritual.
“Harus ada reformasi akhlak, karena banyak orang yang pintar, namun tidak sedikit yang berbuat curang,” tambahnya.
Pada kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Barat, diwakili Kasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Ariski.[]










