LIMA sepeda motor melaju dengan kecepatan sedang di jalanan Pulo Aceh, Rabu siang 3 Maret 2021.
Dari Desa Lampuyang, Kecamatan Pulo Aceh, kami memulai perjalanan sekitar pukul 13.02 WIB. Ada beberapa desa yang dilalui. Pemandangan indah terpapar sepanjang jalan.
Laut biru dengan pasir putir menyerupai kalung mutiara.
Kami sering kali tergoda untuk berhenti dan mengabadikan ‘kemolekan’ pantai di sana lewat kamera.
Di barisan depan, ada senator DPD RI, HM Fadhil Rahmi Lc. Ia membonceng di belakang pemuda Pulo Aceh yang menjadi pemandu kami. Pemuda tadi bernama Muhajir.
Ia terlihat cukup lihai dalam berkendaraan serta melintasi rute ‘naik turun’ gunung di Pulo Aceh.
“Jalannya sekarang sudah cukup bagus. Kalau dulu, susah dilalui,” kata Muhajir.
Setelah melalui perjalanan sejam lebih, kami akhirnya tiba di desa terakhir Pulau Breueh.
Perjalanan berhenti di Desa Meulingge. Muhajir kemudian mengarahkan kami ke tanjakan sisi kanan jalan hingga titik terakhir jalan beraspal.
Di titik itulah Mercusuar Pulo Aceh berdiri dengan kokoh.
“Tak lengkap berkunjung ke Pulo Aceh tanpa pengunjungi Mercusuar ini,” kata Muhajir sambil tersebut.
+++
Ya, mercusuar merupakan ikon Pulo Aceh. Mercusuar ini juga disebut dengan nama Mercusuar Willem Torren III.
Pemilik nama terakhir adalah Raja Belanda dan Adipati Agung Luksemburg. Mungkin nama tersebut disemaikan karena mercusuar ini dibangun pada tahun 1875 atau semasa Raja Willem Torren berkuasa.

Willem Torren sendiri memiliki nama lengkap Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk van Oranje-Nassau.
Willem lahir di Brussels, Belgia, pada 17 Februari 1817 dan meninggal di Het Loo, 23 November 1890 pada umur 73 tahun.
Pada 23 November 1890, dia meninggal dunia dan mewariskan tahta kepada putrinya, Wilhelmina yang ketika itu baru berumur 10 tahun.
Willem Torren dikenal sebagai Bapak Ekonominya Belanda. Willem dikenal giat membangun ekonomi serta infrastruktur di wilayah Hindia Belanda, dan Pulau Aceh termasuk salah satu wilayah yang menjadi bagian dari program pembangunan infrastruktur pemerintah Belanda di masa itu.
Mercusuar di Pulo Aceh ternyata merupakan salah satu dari tiga mercusuar yang menjadi warisan Belanda di dunia ketika masa penjajahan dahulu. Adapun dua mercusuar lainnya berada di Belanda yang kini sudah dijadikan museum, sementara satunya lagi berada di kepulauan Karibia.
Mercusuar ini memiliki tinggi 85 meter dengan warna dindingnya yang khas bercat merah dan putih.
Fungsi mercusuar ini sendiri sebagai sumber cahaya untuk membantu navigasi kapal laut.
+++
Senator DPD RI, HM Fadhil Rahmi Lc, mengaku takjud dengan pemandangan yang terlihat dari puncak Mercusuar Willem Torren III.
“Luar biasa dan sangat indah. Ini harus dilestarikan,” ujar Syech Fadhil.
Mercusuar Willem Torren III sendiri kini dijaga oleh petugas di bawah Ditjen Perhubungan. Ada 4 petugas di sana. Dua berstatus PNS dan dua lainnya non PNS.
Mercusuar tersebut kini jadi icon wisata di Pulo Aceh.
Syech Fadhil berharap para petugas dapat memberikan pemahaman yang baik kepada pengunjung dan bersikap yang ramah sehingga icon ini jadi kebanggan Aceh untuk masa masa selanjutnya. []











