BANDA ACEH – Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA), Azhari Cage SIP, meminta kepada seluruh jajaran eks kombatan GAM untuk tak terpengaruh dengan ajakan demo Wali Nanggroe pada 26 Maret mendatang.
Ajakan demo tersebut disuarakan oleh Syeky, salah seorang warga Aceh yang pernah tinggal di Australia.
“Saya meminta agar KPA dan masyarakat tidak terpengaruh dan terlibat dengan ajakan untuk demo Wali Nanggroe yang disuarakan oleh Syeky pada 26 Maret,” kata Azhari Cage.
Azhari Cage juga meminta kepada setiap panglima wilayah, panglima muda dan panglima sagoe ban sigom Aceh untuk mengambil tindakan tegas dan terukur bagi setiap anggota KPA yang ternyata ikut ikutan dalam demo tadi.
“Apalagi dimasa pendemi corona seperti sekarang, tentu nya berkumpul akan menimbulkan pelanggaran hukum yaitu melanggar protokol kesehatan.”
“Garis komando kita jelas yaitu masih satu garis dibawah kepemimpinan wali dan panglima komando Teungku H Muzakir Manaf,” ujar alumni militer GAM 1999 Camp Bateu Leusoeng Seumirah Nisam ini.
Menurutnya, berbicara tentang perdamaian dan realisasi MoU Helsinki tentu bukan hanya tanggung jawab Wali dan para juru runding, tapi disana juga ada 3 pihak yaitu perwakilan GAM, Pemerintah Republik Indonesia dan CMI serta Uni Eropa.
“Jadi jangan terpancing dengan provokasi bahwa belum berjalannya semua butir MoU seakan-akan kesalahan ditimpakan kepada Wali Teungku Malik Mahmud. Padahal beliau sudah sangat berusaha berbuat untuk kemaslahatan dan kebaikan Aceh.”
“Intinya semua kewenangan Aceh yang ada dalam MoU wajib kita tuntut kepada pemerintah Republik Indonesia dan CMI serta Uni Eropa yang menjadi penengah perundingan di Helsinki. Kita selama ini diam karna menghormati hukum dan menghormati setiap orang tapi apabila menyangkut dengan marwah pimpinan kita,” kata mantan ketua Komisi I DPR Aceh ini lagi.









