DARI Cafe Hai, Matang, Kabupaten Bireuen, Al-Farlaky kembali mengambil alih kemudi. Ia mengambil kecepatan tinggi dengan harapan cepat sampai ke tujuan.
Beberapa kali, mobil yang kami tumpangi seolah melayang saat tiba ditanjakan jalan.
Kami tiba di Idi Rayeuk sekitar pukul 02.30 WIB. Sebelum penjara Idi, mobil belok kanan ke arah Buket Langa. Pawang Jamal sempat ragu antara iya dengan tidak bahwa lorong tersebut adalah jalan menuju rumah orangtuanya.
Sekitar sekilometer menuju ke rumah orangtua Pawang Jamal, jalan rusak dan penuh lobang. Baru sesampai di Buket Langa, jalan kembali teraspal dengan mulus.
Mobil berhenti di depan rumah berkontruksi kayu semi panggung. Di depan, belasan warga ternyata masih menunggu.
Seorang wanita kurus berjilbab merah bergegas menuju pintu mobil.
“Abang lon, abang lon,” ujarnya.
Ia memeluk Pawang Jamal dengan erat saat pria itu turun dari mobil.
Wanita tadi adalah Jamaliah. Dia adik dari Pawang Jamal. Sosok inilah yang aktif meminta bantu ke para pihak untuk kebebasan Pawang Jamal.
Jamaliah histeris. Ia kemudian pingsan tak sadarkan diri.
Jamaliah digotong oleh sejumlah warga untuk dibawa masuk ke rumah di sisi kiri.
Hanya berselang 10 menit kemudian, giliran adik bungsu Pawang Jamal lainnya yang jatuh pingsan usai histeris.
Istri Pawang Jamal muncul. Ia membawa serta ketiga anaknya yang masih kecil.
Istri Pawang Jamal terisak-isak memeluk suaminya yang baru tiba itu. Ia kemudian kembali pingsan tak sadarkan diri.
Sedangkan ketiga anak Pawang Jamal saling pandang.
Pawang Jamal bergegas memeluk anak lelakinya yang paling bungsu. Anak tersebut berusia 10 bulan saat Pawang Jamal ditangkap dan mendekam di penjara Myanmar. Kini anak lelakinya itu berusia 3 tahun lebih. Ia masih belum mengenal sang ayah.
Perempuan Pawang Jamal yang bungsu mendekati ayahnya. Ia juga ingin dipeluk. Demikian juga anak perempuan keduanya. Mereka kini duduk di kelas 5 dan 3 sekolah dasar.
Sedangkan Al-Farlaky hanya memantau dari belakang. Wajahnya terlihat haru melihat keluarga ini bisa berkumpul kembali.
Keuchik Buket Langa, kemudian mengajak seluruh rombongan dan warga untuk duduk di ruang tamu rumah orangtua Pawang Jamal. Termasuk dari Dinsos Aceh dan Dinsos Aceh Timur.
Di ruang tamu, perwakilan Dinsos kemudian menyerahkan kelengkapan dokumen Pawang.
“Untuk sementara gunakan paspor ini sebagai ganti KTP,” ujar perwakilan Dinsos.
KTP milik Pawang Jamal ditahan oleh Otoritas Myanmar dan tak dikembali walau sudah bebas dari tahanan.
Pawang Jamal sendiri mengucapkan terimakasih kepada para pihak yang telah membantu proses kebebasannya.
Ia berterimakasih kepada Iskandar Al-Farlaky serta Dinsos dan KBRI di Yangon.
Pawang Jamal mengaku kapok untuk menjaring ikan di luar batas negara.
“Saya berharap kedepan tak ada lagi nelayan seperti saya,” ujarnya.
Sementara itu, Iskandar Usman Al-Farlaky, juga berharap hal yang sama seperti yang disampaikan Pawang Jamal.
“Saat ini masih ada belasan nelayan Aceh yang ditangkap karena melewati batas negara saat melaut. Mereka masih mendekam di penjara di sana dan butuh advokasi kita bersama,” kata Iskandar.
“Mohon disosialisasi kepada nelayan kita,” katanya.
Di akhir pertemuan, Iskandar menyerahkan sedikit bantuan untuk keluarga Pawang Jamal dalam menghadapi Idul Fitri kedepan.
“Mohon diterima. Untuk sementara istirahat dulu dan berkumpul dengan keluarga,” kata Iskandar.
Pawang Jamal tersenyum. “Han lon ulang lee bang,” katanya sambil tersenyum ke arah Al-Farlaky.
Jelang imsak, rombongan ini izin pamit.










