BANDA ACEH – Rangkaian webinar sebagai bagian dari Gerakan Nasional Literasi Digital yang pada 20 Mei 2021 lalu telah dibuka oleh Presiden Jokowi kembali bergulir. Kali ini di Kota Sabang dengan mengusung tema “Adaptasi Masyarakat Menuju Era Digital”. Kegiatan ini berlangsung Kamis, 17 Juni 2021, pukul 09.00—12.00 WIB, mengupas tentang apa saja yang perlu diketahui masyarakat saat berinteraksi di ranah digital.
Webinar yang menyasar target segmen umum ini sukses dihadiri sekitar 350 peserta secara daring. Hadir dan memberikan materinya secara virtual, para narasumber yang berkompeten di bidangnya, yakni professional bussines coach, Prayudi Widyanto; owner Deene Galery, Niken Rizki Amalia; Instruktur Balai Latihan Kerja Maritim Kota Sabang, M Ikramsyah Putra; presenter TVRI Aceh Ida Fitriani, dan Wali Kota Sabang, Nazaruddin, sebagai keynote speaker. Suchi Mentari bertindak sebagai key opinion leader dan memberikan pengalamannya. Para narasumber tersebut memperbincangkan tentang empat pilar literasi digital, yakni digital culture, digital ethic, digital safety dan digital skill.
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah terkait literasi digital. “Hasil survei literasi digital yang kita lakukan bersama siberkreasi dan katadata pada 2020 menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital kita masih di bawah tingkatan baik,” katanya lewat diskusi virtual.
Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI ini menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.
Pada sesi pertama, Prayudi Widiyanto, menyampaikan topik “Digital Skill untuk Masyarakat Umum”. Digital skill sudah ada sebelum internet ada, kemampuan ini semakin lama semakin terhubung dengan jaringan internet. Sejak pandemi Covid-19, internet menjadi satu-satunya cara orang bersosialisasi, yang memunculkan begitu banyak kreativitas karena bertumpunya semua kegiatan kepada media sosial.
“Pergerakan kegiatan dari offline ke online, membuat kita harus memiliki digital skill yang sepadan dengan perkembangan digital. Kita perlu mengubah mindset dari offline ke online. Ubah fix mindset ‘kegiatan terhambat akibat adanya pandemi Covid-19’ menjadi growth mindset, yaitu membangun kebiasaan baru menggunakan perangkat digital sebagai sarana penghubung. Manfaatkan perubahan yang terjadi dan ambil hal positif dari suatu masalah,” katanya.
Pembicara kedua, Niken Rizki Amalia menyampaikan topik “Memahami Fitur Keamanan di Berbagai Aplikasi Digital”. Indonesia kata dia termasuk dalam sepuluh negara pemakai internet tertinggi di dunia. Aplikasi digital juga sudah memberikan fitur-fitur keamanan, oleh karena itu pengguna internet juga harus pintar untuk menjaga data pribadi dengan menggunakan fitur-fitur tersebut. Jika terjadi pelanggar di internet, seperti konten yang tidak sesuai atau orang yang menggunakan konten orang lain, jika ada laporan dari masyarakat, maka bisa diproses.
“Sanksi yang biasa didapatkan di sosial media yaitu peringatan pertama, take down, penangguhan akun sementara, pemblokiran akun secara permanen. Yang harus dilakukan untuk keamanan aplikasi digital yaitu, gunakan password yang kuat, Two Factor Authentication, cek izin aplikasi di handphone, menggunakan email untuk registrasi akun, jangan asal klik link, dan ubah password secara berkala,” katanya.
Tampil sebagai pembicara ketiga, M Ikramsyah Putra, menyampaikan materi “Etika Berinteraksi dengan Email, Google Drive, dan Dropbox”. Email menjadi acuan identitas seseorang di dunia digital. Email membuat seseorang terhubung dengan berbagai kegiatan atau aplikasi di dunia internet. Alamat email di Google misalnya, bisa membuat pemiliknya masuk ke berbagai platform atau aplikasi. Etika dalam dunia digital diarahkan pada kemampuan individu di dunia yang tidak terlihat secara langsung.
“Apa pun yang ada di dunia digital sehari-hari mencerminkan kehidupan asli kita. Etika berbahasa, pilihlah bahasa yang sopan, etika membalas pesan, sebaiknya membalas lebih bagus. Jika kita sudah memiliki Gmail, akun kita sudah tersambung ke akun Google Drive. Google Drive dapat digunakan untuk menyimpan file besar karena email tidak dapat menyimpan file terlalu besar. Sama hal nya dengan Google Drive, Dropbox juga dapat menyimpan berbagai file dengan ukuran besar.”
Pembicara keempat, Ida Fitriani, mengisi webinar dengan tema “Membangun Pribadi yang Beretika dan Bermoral dalam Berdigital”. Komunikasi digital bisa dilakukan dengan siapa pun tanpa harus tatap muka, namun tetap harus diperhatikan agar tidak keluar dari etika.
“Kita harus mengatasi dengan cepat perkembangan teknologi dan dibarengi dengan kemampuan digital kita. Hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi di dunia digital di antaranya, info yang tidak valid, jangan mudah terprovokasi, jangan terpancing info hoax. Hal yang tidak boleh dibagi di media sosial, pertama yaitu data pribadi, masalah pribadi, geolokasi terkini, foto barang mewah, pertanyaan kritis mengenai konten sensitif. Jejak digital bisa menjadi boomerang untuk diri sendiri, dan juga oversharing dapat memberikan efek psikologis,” katanya.
Suchi Mentari selaku key opinion leader menyampaikan literasi digital sangat diperlukan di era saat ini. Kita perlu dibimbing untuk menggunakan atau memanfaatkan media sosial dengan baik. Contohnya UMKM yang menggunakan digital untuk berjualan. Hati-hati dalam menyebarkan informasi dan manfaatkan dengan hal-hal yang bermanfaat.
Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar ini, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Salah satunya Putri memberikan pertanyaan kepada M Ikramsyah Putra, bagaimana UMKM di Pulau Weh mengatasi macetnya omset karena pandemi dengan digital skill?
Narasumber menjawab selama pandemi banyak orang yang berpindah haluan atau pekerjaan, tapi kita bisa memanfaatkan link digital untuk mendorong pemasaran UMKM di Pulau Weh dengan menggunakan Facebook misalnya, pasar juga menjadi luas tidak hanya di Aceh, dan tidak terpaku untuk pembeli langsung.
Webinar ini merupakan satu dari rangkaian tiga kali webinar yang diselenggarakan di Kota Sabang. Masyarakat diharapkan dapat hadir pada webinar-webinar yang akan datang. Webinar berikutnya akan diselenggarakan pada tanggal 4 Agustus 2021.
Kegiatan massif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.
Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen.[]










