Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Dayah

Pesantren Tabina; dari Rehab, Skill Mekanik hingga Wirausaha

Admin1 by Admin1
08/07/2021
in Dayah
0

GEDUNG itu berjejar di atas puncak. Beberapa bangunan lantai dua berdiri kokoh.

Dari sana, pemandangan laut Kota Lhokseumawe terlihat cukup memanja mata.

Ada kapal minyak besar yang sedang berlabuh jangka di dekat dermaga Arun serta kapal kapal kecil yang melintas laut Aceh dengan jelas terlihat dari sana.

Ya, lokasi pesantren ini memang tak jauh dari objek wisata Gua Jepang Kota Banda Aceh. Dari sana, pemandangan nan indah tersaji setiap harinya.

Memasuki dalam gedung, ada beberapa ruang yang terlihat sibuk dengan aktivitas.

Di ruang guru, bebera pria terlihat sedang membaca buku. Ada juga yang terlihat mencatat sesuai di atas kertas.

Sementara di ruang belajar, beberapa pria muda terlihat berseragam. Mereka memakai peci hitam serta focus menyimak informasi guru di sana.

Di bagian lain, tiga siswa terlihat sedang mengotak-atik mesin. Mereka bekerja dengan cekatan.

Dalam beberapa menit.

“Drump…..drump…drum.” Suara itu terdengar.

Pria muda di dekat mesin tersenyum.

“Alhamdulillah berhasil,” ujarnya sambil mengelap percikan oli di tangan.

Ketiganya kemudian mendekati rombongan kami, berjabat tangan dan kemudian kembali sibuk dengan aktivitas semula.

Aktivitas ini terekam di Pesantren Tabina Aceh Kota Lhokseumawe beberapa pekan lalu.

Berdasarkan informasi yang diperoleh atjehwatch.com, Tabina Aceh berdiri sejak 2013 lalu.

Yayasan Tabina Aceh awalnya focus pada rehab pasien ketergantungan narkoba di Aceh dengan fasilitas dan dokter yang memadai.

Yayasan ini diketuai Teungku Muhammad Nur M.Si, mantan aktivis semasa Aceh masih berkonflik.

“Sejak berdiri, kita telah merehab hampir 5 ribuan pasien yang mengalami ketergantungan narkoba di Aceh,” ujar Teungku M Nur.

Para pasien, katanya, berasal dari berbagai umum. Mayoritas yang di ‘dayah-kan’ di sana juga beragam status sosial.

Mereka disembuhkan dari ketergantungan narkoba, dididik dengan ilmu agama serta diajakan cara berwirausaha.

“Ada karena konflik keluarga, ada juga karena pengaruh sosial. Dari cocok hingga kecanduan dan menjadi pemakai. Semuanya kita rehab dengan system pondok.”

“Mereka mendapat fasilitas kesehatan dan juga bimbingan spiritual atau pendidikan agama,” kata pria yang akrab disapa Teungku Madnu Amerika ini lagi.

“Jadi tak sekedar direhab supaya sembuh dari ketergantungan obat-obatan, tapi juga dididik dengan pendidikan agama serta kemampuan skill. Sehingga ketika kembali ke masyarakat lebih siap dan berubah lebih baik,” kata dia.

Dalam beberapa kasus, kata Teungku Muhammad Nur, para pecandu narkoba sering kali mendapat sorotan negative saat kembali dalam kehidupan masyarakat usai menjalani rehab. Beberapa di antaranya malah ditolak oleh keluarga.

Teungku Muhammad Nur berharap para pasien rehab bisa mendapat pendidikan agama sekaligus kemampuan skill. Pembinaan serta pendidikan yang baik dinilai sangat penting bagi para alumni panti rehab narkoba.

“Mudah-mudahan ini menjadi solusi bagi persoalan narkoba yang kian mengerogoti generasi muda di Aceh,” ujar Teungku Muhammad Nur.

Teungku Muhammad Nur MSi, juga mengatakan jumlah pecandu narkoba kian mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di Aceh. Para pecandu narkoba di Aceh rata-rata berasal dari kalangan menengah ke bawah.

“Jadi kalau ada anggapan bahwa pecandu narkoba itu berasal dari kalangan menengah ke atas, adalah salah. Karena mayoritas pecandu yang kita rawat justru dari kalangan menengah ke bawah. Itu jumlahnya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Itu adalah faktanya,” kata Teungku Muhammad Nur.

“Faktor utama seseorang lari ke sabu-sabu adalah stress dan tekanan. Mungkin kalau orang kaya, saat stress bisa jalan-jalan ke luar daerah. Nah, kalau kalangan menengah ke bawah, larinya ke sabu-sabu,” ujar Teungku Muhammad Nur lagi.

Teungku Muhammad Nur M.Si

Yayasan Tabina di Lhokseumawe sendiri mampu menampung atau rehap untuk 150 orang. Para pecandu ini datang dari berbagai kalangan di Aceh.

“Di awal mereka kita rehab, kita selalu bertanya pada keluarga. Rata-rata memang penyebabnya adalah stress. Banyak masalah, berasal dari keluarga broken home. Ada juga yang mencoba sabu karena informasi yang salah,” ujar Teungku Muhammad Nur.

Salah satu contoh informasi yang salah tadi, katanya, seperti adanya asumsi yang berkembang di masyarakat bahwa dengan mengkonsumsi sabu-sabu akan membuat pria dewasa lebih perkasa di atas ranjang.

“Dari coba-coba, akhirnya jadi pecandu. Kemudian terpaksa direhab. Kini sabu-sabu begitu mudah diperoleh. Ini yang kita khawatir. Generasi muda di Aceh sedang dalam ancaman. Anak-anak kini juga terjangkit kecanduan menghirup lem cap kambing,” katanya lagi.

Setelah berdiri hampir 8 tahun, para alumni Pesantren Tabina Aceh sendiri, kini berjumlah hampir 5 ribu.

“Ada yang menjadi abdi negara, pengusaha serta guru agama di tengah-tengah masyarakat. Karena memang ilmu agama yang didapatkan di sini berguna bagi pengembangan rohani bagi mereka,” katanya.

Penguatan Skill dan Wirausaha

Tak hanya rehab, Pesantren Tabina juga membuka SMK Islam terpadu atau SMK IT sejak awal 2018 lalu.

Selain pendidikan agama, para santri juga akan mendapatkan pendidikan umum di SMK Islam.

SMK Islam terpadu Pesantren Tabina Aceh yang fokus untuk dua jurusan, pertama Teknik Mekanik Industri dan yang ke dua Teknik Pendingin,” kata Teungku Muhammad Nur.

SMK IT sendiri telah berjalan hampir tiga tahun lamanya. Tahun pertama, jumlah santri yang diterima sebanyak 25 orang. Sedangkan tahun kedua berjumlah 45 orang. Jumlah guru yang mengajar sendiri mencapai 25 orang.

“Tahun ini sudah diterima santriwati dan siswa putri tapi belum pemondokan. Mereka masih sebatas belajar di SMK IT. Sore nya pulang. Sedangkan para santri laki-laki kita pondokan dan menjalani pendidikan agama seperti pesantren pada umumnya,” kata dia.

Sementara itu, Faisal ST, Msc, Gr selaku kepala sekolah SMK IT Pesantren Tabina Aceh juga mengatakan yang diajarkan di sana adalah sistem pendidikan fokasional berbasiskan kewirausahaan.

“Kita kombinasikan dengan pendidikan pesantren yang akan melahirkan generasi hebat bermutu tinggi dan berakhlakul karimah,” katanya. [Advertorial]

Tulisan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islami (dayah) di Aceh.

Previous Post

Pemuda Bejat Perkosa Pacar Bersama Dua Temannya

Next Post

Terkait Virus Corona Varian Alpha, DPRA Minta Pemerintah Perketat Penjagaan Perbatasan

Next Post

Terkait Virus Corona Varian Alpha, DPRA Minta Pemerintah Perketat Penjagaan Perbatasan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

BBPOM Aceh Musnahkan 224 Produk Tak Penuhi Syarat

BBPOM Aceh Musnahkan 224 Produk Tak Penuhi Syarat

01/04/2026
Pemkab Aceh Jaya dan Ketua DPRK Temui Wakil Menteri Perumahan Bahas Permukiman Nelayan

Pemkab Aceh Jaya dan Ketua DPRK Temui Wakil Menteri Perumahan Bahas Permukiman Nelayan

01/04/2026
Cak Imin Resmi Kukuhkan Pengurus DPW PKB Aceh 2026–2031

Cak Imin Resmi Kukuhkan Pengurus DPW PKB Aceh 2026–2031

01/04/2026
Prabowo Tawarkan PM Jepang Kerja Sama Hilirisasi Rare Earth RI

Prabowo Tawarkan PM Jepang Kerja Sama Hilirisasi Rare Earth RI

01/04/2026
Trump Sindir ‘Bestie’ yang Ogah Bantu Serang Iran: Beli BBM di Kami

Trump Sindir ‘Bestie’ yang Ogah Bantu Serang Iran: Beli BBM di Kami

01/04/2026

Terpopuler

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

27/03/2026

Demokrat Aceh Besar “Pasang Badan”: Nurdiansyah Alasta Loyal, Pemersatu, dan Layak Pimpin Demokrat Aceh

Rumah Warga Abdya di Banda Aceh Dijarah Maling, Warga Minta Polisi Serius

KPA Pase Mulai ‘Gerah’ dengan Kepemimpinan Abang Samalanga di DPR Aceh

Pesantren Tabina; dari Rehab, Skill Mekanik hingga Wirausaha

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com