BLANGPIDIE – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh Dr. H. Muharrir Asy’ari, Lc, M.Ag melantik Afdhal Jihat, S. Ag. M. Pd sebagai Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Aceh Barat Daya periode 2022-2026, Rabu (16/03/2022).
Disaksikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Abdya Ir. Mismaruddin Mahdi, Dr. H. Muharrir Asy’ari juga mengukuhkan Abdul Kahar, S. Pd. I, M. Pd. I sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Abdya untuk periode 2022-2026.
Pada pidato pertamanya sebagai ketua STIT Muhammadiyah Abdya, Abdul Kahar mengatakan bahwa, amanah yang sedang di pikul itu sangatlah berat baginya. Ia berharap pada semua pihak dalam statuta Perguruan Tinggi Muhammadiyah Abdya untuk bisa membantu dirinya dalam menjalakan lembaga pendidikan Muhammadiyah itu.
“Kami berharap dukungan dan kerjasama untuk menjalankan kepemimpinan ini, saya yakin dan percaya jika kita bekerjasama maka apa yang kita inginkan akan kita dapatkan,” kata Abdul Kahar.
Dengan ucapan yang sama, Ketua STKIP Muhammadiyah Abdya Afdhal Jihat mengucapkan terimakasih kepada para senat Kampus yang telah melakukan rapat pemilihan pimpinan Kampus dan beberapa tahapan lainnnya.
“Terimakasih kepada seluruh komponen yang telah terlibat dalam proses pemilihan dan pelantikan pada hari ini. Mohon bimbingan dan arahan semua pihak kepada kami, semoga kami mampu menjalankan amanah ini,” ucap Afdhal Jihat.
Sementara itu, Ketua PWM Aceh Dr. H. Muharrir Asy’ari menyampaikan bahwah seorang pemimpin dikenal sebagai khalifah (pengganti). Maka, seorang pemimpin dituntut menyiapkan penerus dan pelanjut perjuangannya.
“Standar keberhasilan seorang pemimpin diantaranya ditentukan dalam keterampilannya dalam mencetak kader yang berkualitas, sudah sepatutnya bahwa pimpinan sebuah lembaga seperti perguruan tinggi ini berganti-ganti,” ungkap Muharrir Asy’ari.
Seorang pemimpin dituntut memiliki ketegasan dalam memberikan intruksi (amir). Sebab, lanjut Ketua PWM Aceh itu. Bagaimanapun kepandaian seorang pemimpin tetapi komando kebawah mengalami disfungsi, maka sebenarnya keberadaannya tidaklah efektif.
“Seorang pemimpin adalah pengembala dan pelayan yang dipimpinnya (ra’in dan khadim). Dia dicintai oleh yang dipimpinnya jika ia benar-benar mendengar dan melayani mereka. Sebagaimana perkataan Umar bin Khathab yang terkenal; “Sayyidul Qaumi Khadimuhum” (penghulu suatu kaum adalah yang dapat melayani mereka). Kualitas kepemimpinan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya berorasi (katsratur riwayah), tetapi banyaknya mendengar dan melayani (katsratul istima’ war ri’ayah),” jelasnya.
Ia mengucapkan selamat kepada pimpinan Sekolah Tinggi yang baru saja di dapuk, semoga menjadi seorang pemimpin yang bijak sesuai kittah perjuangan Muhammadiyah.
Agenda pengukuhan itu berlangsung di Aula STKIP Muhammadiyah setempat, dihadiri oleh mantan Ketua STKIP Drs. H. Ridwan Adami, MM, H. Mukhlis MS, MA, segenap civitas akademik STIT dan STKIP, Para PCM, PD Asyiah, PD NA, PDPM, mahasiswa serta tamu undangan lainnya.
Reporter: Rusman










