Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

Kos itu Milik Siapa?

Atjeh Watch by Atjeh Watch
16/04/2022
in Opini
0
Kos itu Milik Siapa?

Oleh: Riko Juanda

KATA ORANG, kita harus bebas dan merdeka, kita juga harus menjadi pemikir dan bukan pengekor. Namun, beda dengan cerita satu ini.

Sebelumnya, saya ingin mengingatkan tentang tulisan saya ini yang kian kacau dan mungkin cerita ini agak kesal bagi pembaca karena penulisnya tidak sehebat seperti seorang Fiersa Besari, Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, Soe Hok Gie dan para penulis dan pemikir lainnya.

Saya ingin menceritakan kegelisahan saya terhadap kawan-kawan saya yang satu kos dengan saya.

Kosnya sih sudah terkenal bagusnya, tapi sayang. Saya sendiri agak kebingungan terhadap teman-teman saya yang sering jumpa dengan penyewa Kos yang dulu. Ya, katakanlah dia pendahulu Kos.

Seperti biasa, kawan-kawan satu Kos mengajak saya ke warung kopi (warkop) untuk ngopi bersama dan berdiskusi dengan pendahulu-pendahulu itu. Katanya, kita coba cari solusi dan diskusi dengan pendahulu, barulah nanti kita akan ketemu solusinya, ya akhirnya saya mau ikut dari pada sendirian di Kos.

Sesaat tiba di warkop dan duduk semeja berdiskusi tentang masalah mau buat apa dan bagaimana ke depan, pendahulu menjawabnya dengan baik dan bisa meyakinkan teman-teman saya.

Nah, setelah satu, dua dan kesekian kalinya lama-lama saya bingung ini jalannya kemana ya?, kok arah pembicaraan yang dibawa kearah pendahulu yang dulu. Saya sedikit merenung, dalam benak saya terlintas pikiran negatif, “Apakah dia sedang mencari keuntungan?”.

Apa sih yang diinginkan, sehingga arah yang dibawa jauh dari pada larangan empunya Kos. Apakah selama ini kami melakukan sesuatu bukan atas niat kami, atau kami terlampau masuk dan berkecimpung didalam politik pemerasan keuntungan pendahulu?.

Namanya juga Kos, sudah tentu memiliki peraturan yang ditetapkan. Semisal, kita tidak boleh membawa orang asing, lawan jenis ke dalam kamar Kos, juga tidak boleh pulang terlalu larut malam dan lain sebagainya.

Peraturan itu layaknya seperti buku yang disimpan rapi di dalam lemari yang tidak tersentuh sekalipun, demikian pula peraturan yang ada namun seperti hanya formalitas semata.

Saya sendiri dilema akan hal ini, kita sebenarnya apa sih, kita ini siapa, siapa yang kita turuti?. Peraturan Kos atau peraturan pendahulu?.

Yang namanya Kos tentu ada peraturan keras yang ditetapkan seperti tidak boleh merusak apalagi diperjual belikan. Jikalau kita sudah ada di dalamnya tentu harus patuh terhadap apa yang sudah ditentukan.

Hari demi hari berjalan begitu saja sebagai mana hari-hari sebelumnya. Perbedaan mulai diciptakan. Saling tuduh menuduh, mereka tidak benar dan terjadilah keributan sampai-sampai aparat keamanan berada didepan dan melerai pertikaian yang terjadi diantara kami.

Hal ini semakin aneh, mungkin bagi yang sadar saja akan imprealis akal yang dilakukan pendahulu yang bukan lagi anak Kos, mereka hanya pernah menyewanya dan tinggal di Kos, tapi ini seolah-olah tempat tinggal kami itu adalah milik para terdahulu, semua yang akan kita kerjakan itu referensi dan kiblatnya ke pendahulu.

Jika rusak kran atau airnya macet kita harus tanyakan ke pendahulu. Mau apa-apa di Kos harus tanyakan ke pendahulu.

Pertikaian yang terdahulu tidak terselesaikan sebagaimana semestinya. Dan ini disebabkan para pendahulu yang lama dengan pendahulu yang baru-baru ini meninggalkan Kos yang kami tempati.

Ini sangat aneh, jauh dari kata bebas dan merdeka sehingga dikte itu masih dianut kalangan orang yang menyewa Kos. Kita ini siapa, Kosnya milik siapa,? Kalo ada permasalahan kita harus kemana dan kesiapa.?

Bibir yang tersenyum manis hanya dimiliki oleh pendahulu. Penyewa Kos seperti alat yang digunakan untuk memperbaiki nasib, ide yang kreatif seolah-olah terkubur dalam-dalam dan hanya akan menjadi simbol saja.

Kita ini aneh, kita terlalu dibanggakan dengan pujian dan sajian yang dihidangkan oleh pendahulu, sehingga kita lupa bagaimana membebaskan diri kita sendiri. Hal ini tidak akan pernah sirna ketika pemangku keuntungan tidak bisa kita lepaskan dan kita tempatkan ditempat semestinya.

Kau, aku dan kita semua terjerat bagaikan nyaring laba-laba. Dan kita sebagai jaringnya, laba-laba sebagai pendahulunya.

Kita terlalu meneriakkan kata pembebasan, namun nyatanya kita masih belum bebas dan masih sebagai alat yang dipakai orang lain. Apapun yang kita lakukan di Kos dan mau buat apa itu tergantung pendahulunya. Jikalau jangan ya jangan!. Jikalau harus ya harus!.

Dan ini tidak terlepas dan akan begitu saja sampai kapanpun. Kemerdekaan fikiran dan tindakan hanyalah bahan untuk di diskusikan saja. Dan hanya akan menjadi kebohongan-kebohongan yang diulang-ulang saja.

Kapan kita mulai, harus dimulai dari mana itu tergantung kita. Apakah kita masih memikirkan tidak boleh atau boleh, tanpa ingin tahu,? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Saya yakin, siapapun kita. Jika kita menemukan kemerdekaan diri kita sendiri, maka kita akan sukses dengan cara kita sendiri.

Catatan Juanda. Lhueng Asan, 22 November 2022

• Penulis merupakan Mahasiswa STIT Muhammadiyah Abdya juga aktif di OKP IMM.

Previous Post

Masyarakat Aceh di Bandung Diminta Bangun Tanah Rencong dari Luar

Next Post

Petani Sesalkan Tindakan Oknum Brigade Melarang Alsintan Swasta Bekerja

Next Post
Petani Sesalkan Tindakan Oknum Brigade Melarang Alsintan Swasta Bekerja

Petani Sesalkan Tindakan Oknum Brigade Melarang Alsintan Swasta Bekerja

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

MA Tolak Kasasi Anggota DPR Aceh ‘Pemukul Anak’ dan Tambah Vonis Jadi 8 Bulan Penjara

MA Tolak Kasasi Anggota DPR Aceh ‘Pemukul Anak’ dan Tambah Vonis Jadi 8 Bulan Penjara

27/03/2026
Lebaran, Harga Ikan Laut Segar di Aceh Melambung

Lebaran, Harga Ikan Laut Segar di Aceh Melambung

27/03/2026
Pemkab Aceh Barat Alokasi Rp1 Miliar Bangun Jalan Rusak ke Lokasi Bencana

Pemkab Aceh Barat Alokasi Rp1 Miliar Bangun Jalan Rusak ke Lokasi Bencana

27/03/2026
Verifikasi Penerima Tunjangan Profesi Guru di Aceh Besar Rampung Hari Ini

Verifikasi Penerima Tunjangan Profesi Guru di Aceh Besar Rampung Hari Ini

27/03/2026
Bupati Aceh Tengah Harap Program Sesuai dengan Skala Prioritas Daerah Terdampak

Bupati Aceh Tengah Harap Program Sesuai dengan Skala Prioritas Daerah Terdampak

27/03/2026

Terpopuler

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

27/03/2026

Prof Saifullah Resmi Mendaftar sebagai Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030

Jadi Daerah Basis Mualem-Dekfadh, Anggaran Dayah untuk Aceh Utara Kalah Jauh dari Bireuen di APBA 2026

Kos itu Milik Siapa?

Gagal Menangkan Mualem–Dek Fad di Bireuen, Peneliti: Pergantian Abang Samalanga Demi Masa Depan PA

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com