JANTHO – Antropolog Dr. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, M.A. yang juga Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar- Raniry mengatakan, berdasar hasil riset menunjukan bahwa pemilu 2024 bakal banyak potensi lahirnya radikalisme dan terorisme, dan itu paling rentan di Aceh, wilayah Tengah Aceh, Banten, Bima, dan Makasar.
“Itu daerah-daerah yang rentan potensi Radikalisme dan Terorisme tahun 2023 s.d 2024. Bisa terjadi Reproduksi Musuh dalam Internal Masyarakat, semisal Beda Capres, Beda Keyakinan,” kata Kamaruzzaman Bustamam Ahmad atau KBA saat menjadi pembicara Training of Trainer Guru Pelopor Moderasi Beragama dan Lomba Pembuatan Video Pendek yang digelar FKPT Aceh dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Gedung Dekranas Aceh Besar, Blang Bintang, Rabu (12/10/2022).
Menurut KBA, riset menyebutkan potensi pemilu 2024 akan banyak melahirkan buzzer-buzzer yang dibayar untuk memproduksi dan menyebarkan informasi maupun konten-konten.
Sebagai contoh–lanjut KBA–apabila seorang ibu memikili keyakinan terhadap salah satu kandidat Capres, maka dia akan menularkannya kepada anak. Bahkan produksi Kebencian juga berpotensi dihidupkan dilingkungan sekolah sekalipun, yang melibatkan anak-anak dibawah umur.
“Contoh paling simple yang pernah kami saat kami menggelar kegiatan bersana Kesbangpol Aceh, ada Pengaduan seorang Ibu, anak perempuannya yang kelas 5 SD, pulang kerumah sudah berani mengatakan Kafir. Karena anak-anak itu, tingkat militansi dan intoleransinya sudah infans. Cek dan Kroscek, dia ternyata ada memiliki Paman yang berada di Pulau Jawa, dan aktif berkomunikasi dengan anak tersebut melalui Dunia Maya/secara Virtual yang sering menyuplai Energi Kebencian, itu Real,” jelasnya.
Makanya jangan heran nantinya, pelaku terorisme kedepan lahir dari anak-anak shaleh atau kaum remaja yang tidak pernah bermasalah dilingkungan sosial. “Ini Potensi yang saya Katakan,” lanjutnya.
Jadi–jelas KBA–kecanduan Radikalisme dan Terorisme saat ini lebih banyak menjadi Pemicu lantaran banyak orang membagikan informasi melalui whatsApp, telegram dan sebagainya, yang muatannya emosional bukan Rasional.
“Informasi yang disebarkan umumnya informasi yang memancing emosi seseorang atau banyak orang,” kata Kamaruzzaman Bustamam Ahmad.
KBA juga menyampaikan homegrowm Terrorism, pergerakan Terorisme tidak diproduksi dari dalam dan tepi Hutan, tepi sungai maupun tepi laut. Tetapi di produksi dari dalam Rumah, sehingga banyak aksi terorisme terjadi dari Produksi Dalam Rumah, seperti kasus Bom Panci.
“Jika kita berbicara masalah Aceh, beratrti ada berbicara Kerajaan Diplomasi, Ilmu-ulama dan Perperangan-Perjuangan-Pengkhianatan (Istilah Kopi, Beuleukat dan Bude). Tipologi Masyarakat Aceh selama ini didominasi karakter yang suka Berperang,” jelasnya.
Sementara–lanjutnya–basis sepiritual Aceh, ada tiga yaitu: Han, Han Roh, Han Jroeh, dan Han Jeut. “Spirit ini kekuatan Masyarakat, kenapa Snought Hongronyoe Melakukan Penelitian Spirit Orang Aceh. Apabila Basis Spiritual Orang Aceh (Spirit, Budaya dan Agama) dapat dikelola, maka dia dapat menggerakkan,” ujar KBA.








