MOBIL yang kami tumpangi berhenti di perbatasan sejak Sabtu 19 November 2022, pukul 16.00 WIB. Saat itu, matahari masih bersinar terang di perbatasan. Tak ada tanda tanda hujan.
Sejumlah roda empat hingga ronda 6 dan 8, terlihat mengantri jauh. Jalan dari Tamiang menuju Langkat Sumatera Utara terlihat padat merayap. Namun kondisi yang berbeda terlihat dari arah yang berlawanan. Arus dari Langkat ke Tamiang justru sepi.
Keadaan ini membuat sejumlah roda dua menerobos di jalur berlawanan menuju ke Sumatera Utara.
Kami yang menumpang roda empat terpaksa mengelus dada melihat aksi pengendara roda dua.
“Jangan memotong antrian. Sabar saja. Memotong antrian justru membuat macet dan memperburuk keadaan,” ujar senator DPD RI asal Aceh, HM Fadhil Rahmi Lc MA, yang berada satu mobil dengan penulis.
Pria yang akrab disapa Syech Fadhil ini memang hendak menuju Bandara Kualanamu, Sumut. Ini karena yang bersangkutan harus terbang ke luar daerah dalam rangka tugas. Keberangkatan pesawat dijadwalkan pukul 05.25 WIB, Minggu dini hari.
Sebelumnya, pada Sabtu pagi sekitar pukul 10.00 WIB, Syech Fadhil dan rombongan baru saja selesai membuka acara Kejuaraan Karateka Lemkari Kota Langsa. Di Langsa, Syech Fadhil juga bertemu dengan sejumlah warga di lokasi berbeda.
Dari Langsa, rencananya kita melanjutkan perjalanan via darat menuju ke Sumatera Utara. Informasi adanya longsor di perbatasan Tamiang, memang sudah kami ketahui sejak Sabtu pagi. Namun tak alternatif lain untuk bisa tiba di Kualanamu tepat waktu.
Apalagi hari mulai sore saat semua agenda selesai di Langsa dan Tamiang.

Mendengar permintaan Syech Fadhil, dua tenaga ahli-nya, Ahmad Syukran dan Ustadz Mirzan, mengangguk tanda setuju.
Kami hampir dua jam tertahan sebelum memasuki kawasan Seumadam. Sejumlah mobil roda empat yang tidak sabaran memilih memotong antrian hingga akhirnya menyebabkan macet panjang.
“Estimasi kemacatan di Google Map sekitar 8 kilometer. Hampir 4 jam. Jadi kita bersabar saja. Isya Allah akan tiba tepat waktu,” ujar Syech Fadhil lagi.
Ya, di Google Map saat itu memasang garis merah untuk jarak hampir 8 kilometer.
Usai Magrib, rombongan kami baru bergerak kurang dari satu kilometer. Beberapa sopir terdengar memaki mobil yang menerobos antrian. Suasana saat itu macet total dari arah Tamiang menuju Sumatera Utara.
Beberapa mobil barang terlihat menepi. Mereka memutuskan untuk berhenti.
“Tidak mungkin lewat pak. Lebih baik kami mundur saja,” kata Muzakir, seorang sopir truk ber-plat BK.
Hujan lebat kemudian membasahi daerah perbatasan. Para penumpang dan pengemudi memilih masuk ke mobil untuk bertenduh.
Sekitar tiga mobil pemadam terlihat turun dari arah Langkat menuju ke Tamiang.
“Longsornya sudah teratasi. Sudah bisa dilalui. Tapi macet belum. Ada banyak mobil menyerobot antrian dan akhirnya terjebak macet di depan. Makanya dari arah Langkat ke Tamiang terlihat kosong. Di depan, mobil adu muka,” ujar seorang petugas dari atas mobil.
Kondisi ini membuat sejumlah sopi truk merepet dari arah luar.
“Itu pasti mobil mobil yang menerobos tadi.” Suara itu terdengar.
Sekitar pukul 22. OO WIB, mobil yang kami tumpangi baru bisa bergerak lamban. Namun memasuki kawasan Seumadam, macet kembali terjadi. Kali ini macet terjadi dari dua arah. Baik dari Tamiang menuju Langkat maupun sebaliknya.
Beberapa mobil plat pribadi dan mobil plat merah minta diprioritaskan. Mereka menerobos antrian dan akhirnya menyebabkan macet parah.
Sejumlah polisi terlihat geleng-geleng kepala. Baik dari arah Aceh menuju Sumatera Utara maupun sebaliknya, tak ada yang mau mengalah.
Kondisi hujan lebat dan listrik padam di perbatasan membuat suasana kian parah.

Syech Fadhil akhirnya memutuskan turun dari mobil. Dia mengajak sejumlah polisi di lokasi dan beberapa warga untuk mencari solusi bersama.
Para pengemudi dari arah Tamiang menuju Langkat akhirnya mengalah. Mereka membiarkan mobil dari Langkat menuju Tamiang untuk masuk terlebih dahulu. Polisi menerapkan aturan buka tutup. Beberapa warga dan Syech Fadhil turun memandu pengemudi agar tak terjadi laka lantas. Beberapa kali, pengemudi Sepmor hampir tertabrak tapi bisa dihindari berkah Kerjasama warga dengan petugas di sana.
Rombongan kami tertahan di kawasan Seumadam hingga pukul 23.45 WIB. Hujan saat itu turun dengan deras.
Hujan akhirnya juga menyebabkan longsor terjadi di bukit Seumadam. Aturan buka tutup kembali diterapkan.
Petugas dan warga kembali berjibaku dengan longsor. Minggu dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, longsor susulan akhirnya bisa ditangani. Namun mobil yang bisa melewati area tadi dibatasi sehingga macet kembali panjang.
Keadaan ini kemudian diperparah dengan kondisi sejumlah sopir yang tertidur saat antrian hingga akhirnya menyebabkan macet.
Mobil yang kami tumpangi baru bisa keluar dari kawasan Seumadam pada pukul 04.00 WIB dini hari.
Beruntung ada kios kios kecil di samping jalan sehingga lelah dan lapar bisa teratasi.
Kami tiba di Kualanamu sekitar pukul 06.30 WIB. Saat itu, pesawat yang semestinya ditumpangi Syech Fadhil, sudah terbang tinggi.










