BLANGPIDIE – Salah satu indikasi seorang pemimpin itu dicintai oleh rakyatnya ialah, ia dapat mengayomi rakyatnya, melayani, menyayangi, membela, dan tidak berbuat zalim kepada rakyat.
“Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi (teraniaya), karena doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).
Disini penulis sedang menceritakan sosok pemimpin yang di idam-idamkan masyarakat, karena pada konsepnya pemimpin atau Raja sejati tidak akan pernah menghiyanati rakyatnya.
Kemudian, pemimpin yang baik itu tentunya akan dicintai dan dihormati masyarakatnya karena dianggap loyalis, punya prinsip dengan membela dan mendahului kepentingan umum daripada kepentingan pribadinya.
Banyak cara yang kita ketahui dan dilihat dengan kasat mata bagaiman sang pemimpin itu disayangi oleh rakyatnya. Seperti halnya Wakil Ketua DPR Aceh, Safaruddin, S. Sos MSP saat turun ketengah masyarakat dalam agenda Silaturrahmi dan Dialog Interaktif, Reses ke I Tahun 2023 di Gampong Suak Nibong Kecamatan Tangan-tangan Kabupaten Aceh Barat Daya, Safaruddin disambut dengan meriah secara adat daerah sekitar, ia disambut dengan tarian Surune Kalee, disuguhkan Ranub Batee serta dikenakan Kupiah Meukuetop bak seorang Raja, Sabtu (11/02/2023) sore.
Kehadiran sosok pimpinan parlemen di tingkat Provinsi itu ikut disambut oleh petua adat masyarakat setempat, seperti Imuem Mukim, Tuha Peut, Keujrun Blang, Seunebok, para Keuchik serta tokoh masyarakat Tangan-tangan.
“Sudah banyak hal dirasakan masyarakat Abdya, umumnya masyarakat Barat Selatan Aceh semenjak Safaruddin memimpin DPRA. Mulai dari rumah duafa, bantuan ekonomi, sosial, infrastruktur hingga pertanian. Maka tidak heran jika saat ini masyarakat Abdya khususnya, sangat mencintai dan memghormati Wakil DPR Aceh, Safaruddin,” ungkap Arman, salah seorang masyarakat disela-sela resesnya itu.
Kembali ke persoalan, agar seorang pemimpin mampu melayani, paling tidak ada tiga aspek dalam melayani rakyat, sehingga menjadi pemimpin yang dicintai. Pertama, Alkhidmah Bil-Qalb (melayani dengan hati).
Ciri pemimpin yang dapat melayani dengan hati adalah tujuan utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan rakyat yang dipimpinnya. Orientasinya bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan, tetapi untuk kepentingan rakyat yang dipimpinnya.
Kedua, Alkhidmah Bil-Aql (melayani dengan kepala/pikiran). Tiga hal penting dalam melayani dengan pikiran, yaitu memiliki visi yang jelas, responsif (seorang pemimpin harus selalu tanggap dalam setiap persoalan, kebutuhan, dan harapan dari rakyat yang dipimpinnya.
Ketiga, Alkhidmah Bil-Yad (melayani dengan tangan). Yaitu pemimpin yang tidak sekadar memuaskan rakyat yang dipimpinnya, tetapi fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan sekadar kesuksesan duniawi, mau belajar, dan selalu menyelaraskan dirinya terhadap komitmen untuk ibadah dan melayani sesamanya.
Selain kemampuan dalam melayani, seorang pemimpin harus memiliki kualitas di atas rata-rata dari rakyat yang dipimpinnya. Kualitas itu menyangkut dalam hal keyakinan (iman), kepribadian (integritas), dan keahlian memimpin atau skill of leadership.
Kualitas tersebut harus menyatu dalam keseluruhan tindakan, sehingga kata sejalan dengan tindakan. Janji yang disampaikan pada saat kampanye akan direalisasikan setelah dirinya menjadi pemimpin.
Kepemimpinan adalah amanah dan setiap amanah dimintai pertanggungjawaban. Jadi, pemimpin yang dibutuhkan adalah yang dapat melayani bukan yang minta dilayani, memberi keteladanan, sehingga dapat mengantarkan kepada suasana keramahan dalam kepemimpinan. [Rusman]








