Oleh Thariq Faiz. Penulis adalah mahasiswa baru Al Azhar asal Aceh.
Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Bagaimana tidak, sebagai pelajar yang telah menyelesaikan pendidikan tingkat atasnya pada tahun 2021 di MAS Darul Ulum Banda Aceh, keinginan untuk diterima di kampus impian pada tahun yang sama merupakan hadiah terbesar dari sekian panjang usaha dan doa-doa yang dirapalkan selama ini.
Namun, bagaimana jika ternyata hadiah itu tertunda? Tidak di tahun yang sama melainkan dua tahun setelahnya. Begitulah yang saya rasakan. 2021-2023 menjadi saksi perjalanan mengambil Kembali hadiah yang tertunda tadinya.
Di tahun yang sama setelah kelulusan, tepatnya di bulan April, saya harus berdamai dengan Kemenag (Kementrian Agama); Sebagai jalur utama untuk melanjutkan studi di timur tengah tepatnya di Al Azhar, Kairo, Mesir. Skor yang saya dapatkan pada tes tulis belum bisa menembus persyaratan untuk lanjut ke tahap wawancara. Alhasil, gugur menjadi konsekuensi pasti. Tangisan disusul rasa penyesalan turut mewarnai keadaan saya pasca kejadian tersebut.
Saya berpikir untuk mengubur mimpi berkuliah di sana, mengingat jalur seleksi kedua (PUSIBA) untuk berkuliah di sana juga belum ada kejelasan dibuka atau tidak.
Penyesalan tersebut berganti rasa bahagia setelah mendapatkan kabar kelulusan saya di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada prodi Bahasa dan Sastra Arab melalui jalur SPAN PTKIN (Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri). Saya memilih untuk mendaftar ulang di kampus tersebut dan menjadikannya batu loncatan sembari menunggu dibukanya jalur seleksi kedua.
Qadarullah, di penghujung tahun yang sama, rasa bahagia itu bertambah dengan dibukanya jalur seleksi kedua (PUSIBA) untuk angkatan keenam. Berbeda dengan jalur yang dibuka oleh Kemenag, Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab atau akrab disapa PUSIBA menawarkan tujuh level pembelajaran kepada setiap pendaftarnya dan estimasi per level hanya sebulan. Istimewanya dari jalur kedua ini adalah setiap pendaftar sudah dipastikan lulus di universitas Al Azhar, namun sebagaimana yang telah disebutkan di atas, setiap pendaftar harus mampu menyelesaikan tujuh level tersebut.
Tanpa pikir panjang, saya mendaftar PUSIBA di akhir Desember. Pembelajaran dimulai bulan Januari dan tuntas level tujuh di akhir Juli 2022. Sembari mengikuti kegiatan pembelajaran yang telah ditetapkan oleh PUSIBA, perkuliahan di UIN Ar Raniry tetap berjalan dan pada saat itu saya sudah di penghujung semester dua. Masih di bulan yang sama, proses pemberkasan sudah mulai digencarkan. Dimulai dengan pengumpulan passport kepada PUSIBA. Masing-masing mediator tak terkecuali IKAT Aceh (Ikatan Alumni Timur Tengah Aceh) telah memanaskan lokomotifnya untuk secepat mungkin mengirimkan passport tiap-tiap calon mahasiswa baru secara kolektif.
Syahdan, sebulan sesudah huru-hara pengumpulan passport, pemberkasan sudah naik ke tahap selanjutnya; akta kelahiran, ijazah, pas foto, surat keterangan sehat dan lain sebagainya. Berkas-berkas yang telah dikumpulkan oleh IKAT kemudian dikirimkan ke OIAA Jakarta pada bulan September guna diverifikasi dan diterjemahkan untuk kemudian dikirimkan ke Mesir untuk didaftarakan ke Universitas Al-Azhar Kairo. Hal tersebut membuat saya mencium bau-bau keberangkatan sudah di depan mata. Ternyata saya keliru dan terlalu cepat menarik kesimpulan. Dan saya telah memilih untuk meneruskan kuliah di semester tiga.
Masih di September, mediator saya: IKAT, telah memberikan gambaran proses pemberkasan. Di samping itu, list ukuran jaket persatuan sudah mulai memanjang dan link formulir pemberkasan sudah mulai disebar sekaligus pemilihan jurusan yang sesuai dengan keinginan masing-masing.
Ketertarikan terhadap bahasa Arab dan segala hal yang berkaitan dengannya telah mengantarkan saya memilih jurusan lughah arabiyyah ‘ammah di fakultas lughah universitas Al Azhar. Isu-isu keberangkatan sudah mulai tersebar, yaitu di bulan januari. Artinya, jika sampai di sana bulan januari maka seluruh calon mahasiswa baru akan mengikuti ujian tingkat pertama yang diadakan oleh Al-Azhar. Bagaimana ceritanya jika belajar di kampus saja belum tapi langsung ikut ujian?
Pertanyaan ini dijawab oleh IKAT dengan mengadakan bimbel persiapan ujian tingkat pertama yang diadakan oleh Al Azhar tersebut selama beberapa waktu. Tujuannya tidak hanya memberikan gambaran ataupun menghilangkan shock pada diri calon mahasiswa baru (Camaba), namun lebih jauh, IKAT berharap jika nyatanya keberangkatan calon mahasiswa baru benar di bulan januari maka seluruh mahasiswa sudah siap untuk menelan seluruh soalsoal yang diberikan dalam ujian tingkat petama, sehingga tidak ada mata kuliah yang harus diulang.
Sebulan kemudian; oktober, kegiatan bimbel persiapan ujian tingkat pertama resmi dibuka sebagaimana janji IKAT kepada seluruh calon mahasiswa baru. Grup-grup Whatsapp sesuai dengan jurusan masing-masing sudah dibentuk dan Bimbel berjalan sebagaimana mestinya. November 2022 IKAT mengeluarkan rangkuman biaya pemberkasan juga keberangkatan yang harus dibayar oleh tiap-tiap calon mahasiswa baru.
Untuk menenangkan hati camaba juga orang tua wali sekaligus memberikan informasi mengenai kabar pemberkasan juga keberangkatan, IKAT mengadakan pertemuan dengan seluruh calon mahasiswa baru angakatan keenam dan ketujuh (Kemenag membuka jalur seleksi pada bulan September 2022 dan semua yang lulus seleksi tersebut dialihkan ke PUSIBA untuk mengikuti kegiatan pembelajaran), di pantai Lhoknga, Aceh Besar pada hari selasa, 6 Desember 2022.
Pasca pertemuan tersebut, isu keberangkatan di bulan januari semakin kuat, sehingga IKAT memberikan dua pilihan kepada para Camaba melalui agenda Zoom pada tanggal 13 Desember 2022. Kedua pilihan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya masingmasing ditambah konsekuensi yang harus diamini oleh tiap camaba. Pilihan pertama yaitu ijraat (daftar ulang) dan pilihan kedua adalah sebaliknya.
Dua pilihan tersebut tidak menemukan titik terang hingga memasuki bulan Januari 2023. Semuanya berpegang kepada keyakinannya masing-masing. Di bulan yang sama pun grup wali Camaba dibentuk. Rentetan pertanyaan bermunculan mengisi grup tersebut. bahkan hingga akhir januari sekalipun berita tentang visa belum tersiar.
Memasuki bulan februari, saya masih berkutat dengan perkuliahan di UIN Ar Raniry dan sudah duduk di semester empat. Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat. 14 Februari 2023 visa keberangkatan sudah turun untuk tahap pertama. Sudah begitu adatnya, visa turun berangsur-angsur. Nama saya masih belum tertera di tahap pertama visa keluar.
Berlalu visa tahap kedua namun masih belum tertera nama Thariq Faiz, hingga pada tahap selanjutnya pada urutan 475 nama tersebut bertengger anggun. Menandakan bahwa kali ini benar-benar keberangkatan sudah di depan mata. Jika menarik kesimpulan sekarang juga tidak akan keliru.
Namun, meskipun sudah keluar, visa yang diberikan bukan untuk pelajar melainkan hanya visa masuk yang mempunyai batas waktu hanya tiga bulan. Terhitung dari waktu keluarnya visa maka masa kedaluarsa visa saya adalah bulan mei begitupun kawan-kawan mahasiswa yang lain. Berkaca terhadap hal tersebut, IKAT berinisiatif untuk memberangkatkan para camaba yang telah lebih dahulu mendapatkan visa masuk. Terhitung ada 78 orang Camaba yang akan berangkat untuk melanjutkan studinya di Al Azhar. IKAT membagi keberangkatan ke dalam dua kloter. Kloter pertama akan berangkat pada tanggal 2 April 2023 dengan total 64 orang ditambah dua orang pendamping. Sisanya akan berangkat pada tanggal 2 Mei 2023.
Saya termasuk ke dalam daftar camaba yang akan berangkat pada kloter pertama, sehingga hadiah dari sekian panjang kesabaran itu terwujud. Berangkat adalah anugerah terbesar untuk saat ini. Segala kebutuhan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, baik itu pakaian, alat tulis, berkas-berkas yang sekiranya perlu nantinya ketika di Mesir, dan lain sebagainya.
Namun rasa sedih meninggalkan kampung halaman juga ikut terseret ke dalamnya. Sebagai orang yang baru pertama sekali merantau, saya masih kelagapan menata hati, haha. Perlengkapan semua beres, namun hati yang tidak beres.
Seiring berjalannya waktu mendekati hari keberangkatan, siap tidak siap ya harus siap. Semuanya harus beres, tak terkecuali hati. Minggu, 2 April 2023, waktu keberangkatan tiba.
Melalui bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), dimana momen saling peluk, mendoakan, melambaikan tangan lebih tulus ketimbang biasanya.
Momen tersebut terhenti sebentar oleh karena adanya seremonial pelepasan Camaba Al Azhar yang dibuka oleh ketua IKAT Aceh yang baru saja terpilih yaitu Teungk H. Khalid Muddatstsir, Lc., M.Ag. kemudian disusul kata-kata sambutan oleh mantan ketua IKAT Aceh periode 2019-2022, Tgk. H. Muhammad Fadhillah, Lc., M. Us. Lalu arahan juga nasihat dari anggota DPD RI yang juga pernah menjabat ketua IKAT Aceh periode 2012-2019, Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, Lc. MA, beliau berpesan hanya dua poin.
Pertama, pasang niat yang baik dan jaga niat tersebut, karena di Mesir apa yang kamu cari ada. Kedua, kita sudah menjadi keluarga dan harus saling membantu. Keluarga Aceh. Terakhir, kata-kata sambutan dari perwakilan wali camaba yang berpesan agar menghilangkan sekat-sekat almamater, karena kita sudah menjadi satu keluarga. Keluarga Aceh.
Selepas seremonial pelepasan tersebut, momen yang sebelumnya terhenti kini berlanjut Kembali. Namun, harus segera berakhir karena sudah mendekati waktu take off, yang menandakan bahwa perpisahan semakin jelas dan entah kapan akan berjumpa lagi. Keberangkatan dengan rute Banda Aceh-Jakarta-Abu Dhabi-Cairo akan ditempuh selama dua hari tiga malam (2-4 April 2023).
Suara isak tangis saling bersaut-sautan. Saling bertukar doa dan harapan menjadi pemandangan yang sangat familiar. Rela tidak rela semuanya akan saling mengucapkan selamat tinggal. Semuanya punya alasan kuat untuk melepas anak, saudara, sepupu, bahkan teman sekalipun; menuntut ilmu.
“Mamak dukung semua jalan Aiz pilih. Jangan takut,” ucap manusia yang ikut menangis ketika Kemenag belum mengizinkanku lulus dua tahun silam.
“Jangan gundah-gundah, serahkan semua sama Allah. Semangat terus ya,” sambung sosok manusia yang kupanggil ayah, dengan segala tanggung jawabnya selalu berusaha menasehati di segala kondisi. Berbekal dua nasihat tersebut dan doa-doa dari sanak famili juga kerabat dan teman-teman, urat-urat kaki ini menjadi kokoh dan niat menjadi mantap. Siap untuk berangkat.
perjalanan dua hari tiga malam tidak begitu terasa. Seumur-umur hanya mengenal Etihad Airways sebatas sponsor yang bertengger di jersey Manchester City dan tidak pernah terbayang bagaimana bentuk juga suasana maskapai tersebut. Namun, tuhan tidak tidur, semuanya hanya tentang waktu. Etihad Airways menjadi maskapai penerbangan ku juga teman-teman yang akan berangkat menuju negeri Kinanah (via Jakarta-Abu Dhabi-Cairo). Etihad Airways mendarat mulus di Cairo International Airport pada 4 April 2023. Pemeriksaan demi pemeriksaan berjalan lancar meskipun harus ribut dengan panasnya Mesir. Mesir sedang memasuki musim peralihan dari dingin ke panas. Cuaca pada saat itu memang tergolong panas namun percaya atau tidak, kulit tropis ini merasakan angin dingin, sehingga tidak berkeringat.
Setelah beberapa menit berkutat dengan cuaca. Agaknya bandara yang terletak di jantung kota Mesir menjadi spot foto utama bagi setiap camaba yang telah sampai di Mesir. Tak ayal jika banyak yang sudah berdiri dengan segala model gaya untuk sekedar berfoto sebelum bis penjemputan datang.
Tak lama berselang, bis penjemputan datang. Tebak siapa yang datang. Ya, KMA Mesir. Keluarga Mahasiswa Aceh atau KMA cabang Mesir memimpin penjemputan seluruh Camaba. Para panitia saling bahu membahu menggotong koper-koper sebesar gaban untuk dimasukkan ke dalam bis. Para camaba yang saling kenal dengan panitia berjabat seakan keluarga yang telah lama berpisah. Atfomesr haru terbentuk di pelataran bandara. Sampai segitukah mumayyizat KMA yang sering dibicarakan itu?
Bis meluncur di jalanan ibukota menuju Meuligoe KMA yang terletak di Hay ‘Asyir, salah satu distrik di Kairo, Mesir. Pemandagan demi pemandangan begitu memanjakan mata. Tak lebih seputar gedung, kendaraan, bunyi klakson yang memekakkan telinga, ditambah pemandangan yang serba kuning khas negeri padang pasir.
Kurang lebih setengah jam dimanjakan oleh pemandangan-pemandangan ibukota, bis sampai di halaman Meuligoe KMA. Ritual gotong-menggotong koper kembali dilakukan untuk dimasukkan ke dalam ruangan. Briefing singkat sekaligus penyambutan dari badan pengurus harian (BPH) KMA Mesir dilangsungkan hingga sebelum berbuka puasa. Juga majelis syura ikut berhadir memberi nasihat dan motivasi yang dipimpin oleh Tgk. Thaiburrifqi Ananda, Lc. Dipl. Serta beberapa anggota dari KMA itu sendiri. Beliau bertanya sekaligus berpesan “ke Mesir mau ngapain? Di sini semua yang kalian cari ada, kebaikan kah tau sebaliknya.”
Selepas seremonial penyambutan dan berbuka puasa puasa Bersama dilangsungkan, semua camaba mengambil poisisi masing-masing untuk beristirahat sebentar pasca dihantam lelahnya perjalanan. Satu persatu nama disebutkan beserta lokasi rumah yang akan ditinggali.
Bunyi roda koper kembali mengisi heningnya langit Mesir. Gonggongan anjing ikut serta memeriahkan proses penentuan tempat tinggal. Tuk-tuk atau bajaj nya Mesir tak kalah riuh mengalunkan bunyi klaksonnya seakan siapa yang paling merdu maka dia yang akan menguasai negara yang mula-mula mengakui kemerdekaan Indonesia ini.
Proses penentuan tempat tinggal berjalan mulus hingga saya di tempatkan di sebuah distrik yang jauh dari Meuligoe KMA. Distrik Gamaliyah. Ya, begitulah orang Mesir menyebutnya. Mereka mengganti penyebutan huruf jim dengan gha. Jamaliyah menjadi Gamaliyah. Unik, bukan? Hal tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak keunikan yang dimiliki orang Mesir. Hidup dengan keunikan-keunikan yang mereka tawarkan menjadikan rasa penasaran saya akan Mesir itu sendiri menjadi besar, sehingga rasa betah mekar tak terkira. Distrik Gamaliyah menghadirkan nuansa-nuansa historis. Bangunan-bangunan yang telah berusia senja, Lorong-lorong seperti labirin, juga bangunan-bangunan seperti benteng, dan Masjid sayyidina Husein menjadi inventaris distrik ini. Meskipun bangunan-bangunan tua tersebut telah digunakan sebagai tempat tinggal penduduk (termasuk saya). Seorang teman menyebutkan bahwa Gamaliyah dulunya adalah lokasi pemerintahan kerajaan. Tempat bersejarah. Namun sayang, tidak terawat.
Gamaliyah memiliki daya Tarik tersendiri bagi mahasiswa dunia khususnya Indonesia. Hal tersebut didasari oleh jaraknya yang dekat dengan kampus Al-Azhar, sehingga para pendatang tertarik untuk tinggal di distrik ini. Melihat fenomena tersebut, orang Mesir tidak tinggal diam. Usaha kost-kostan ala Mesir semakin menjamur dengan harga yang lumayan tinggi. Seni membaca keadaan tidak hanya dimiliki oleh orang Indonesia.
Lebih jauh, kini, genap tiga minggu saya menetap di Mesir. Langit yang bersih pada malam hari, kebiasaan masyarakat berbicara bahasa ‘ammiyah tidak fushah, rentetan klakson yang memekakkan telinga, tasbih yang tidak pernah lepas dari tangan sekalipun polisi, nada berbicara yang tinggi, sehingga membuat pangling ketika mendengar, sandal atau sepatu diletakkan di dalam masjid, dan segala keunikan lainnya menjadi alasan tersendiri untuk betah dan semangat menuntut ilmu di Mesir.
Meskipun demikian, Mesir dengan segala cita rasanya hanya menawarkan dua pilihan bagi para penuntut ilmu; menjadi Nabi Musa atau Fir’aun. Agaknya semua penuntut ilmu tak terkecuali saya yang telah memilih Mesir sebagai tempat studi lanjutannya sudah memahami kedua pilihan tersebut dengan sangat baik. Baik dan buruk. Keduanya tersedia di sini. Oleh sebab itu pentingnya menjaga niat dan selalu memperbaiki niat juga ingat tujuan ke negeri para ambiya ini.
Menjadi bagian dari negeri para ambiya adalah impian saya. Menjadi bagian dari universitas Al Azhar adalah cita-cita terbesar saya, dan menjadi bagian dari KMA Mesir adalah anugerah bagi saya. Terima kasih.[]










