Dataran tinggi Gayo memiliki pesona tersendiri. Selain panorama yang indah juga memiliki adat dan seni yang memukau. Daerah yang disebut Sultan Iskandar Muda sebagai ‘negeri di atas awan’ dalam suratnya ke Ratu Belanda ini kini menjadi salah satu destinasi wisata islami di Aceh.
Selain alam dataran tinggi Gayo memang memiliki keindahan yang tiada duanya. Adat istiadat yang kental dengan budaya islam, daerah di wilayah Aceh ini juga memiliki seni budaya yang memikat pengunjung dari berbagai kalangan.
Dua di antaranya seperti Tari Saman dan Didong.
Meskipun Tari Saman telah menjadi bagian dari budaya Aceh secara luas, asal-usulnya terkait erat dengan masyarakat Gayo.
Suku Gayo sendiri terletak di wilayah pegunungan tengah Aceh, terutama di Kabupaten Gayo Lues, Bener Meriah, dan sekitarnya. Tarian Saman telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Gayo dan sering dipentaskan dalam berbagai acara adat, upacara keagamaan, pernikahan, serta acara budaya lainnya.
Namun, seiring dengan popularitas dan keunikan Tari Saman, tarian ini juga telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan menjadi bagian penting dari kesenian nasional.
Tari Saman dikenal di seluruh Indonesia dan bahkan diakui secara internasional sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Sedangkan Didong adalah sebuah kesenian rakyat Gayo yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Dari berbagai sumber disebutkan, bahwa Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Salah seorang seniman yang peduli pada kesenian ini adalah Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah.
Selain Saman dan Didong, dataran tinggi Gayo juga memiliki seni ukir yang dinamakan Kerawang Gayo.
Kerawang merupakan hiasan ukiran yang biasanya ditemukan pada rumah adat, meja, pintu, jendela, dan perabotan lainnya. Seni ukir Kerawang Gayo memiliki keunikan dan keindahan motif-motifnya.
Ciri khas Kerawang Gayo terletak pada pola dan motif yang rumit, terukir dengan rapi dan detail. Motif-motif yang umum digunakan dalam Kerawang Gayo mencakup alam, seperti daun, bunga, pohon, dan binatang, serta simbol-simbol yang memiliki makna penting dalam budaya Gayo, seperti matahari, bulan, burung, atau bintang.
Ukiran Kerawang Gayo biasanya dilakukan dengan menggunakan alat tradisional, seperti pahat kayu atau pisau tajam, yang dipegang oleh tukang ukir yang berpengalaman. Proses ukiran ini membutuhkan ketelitian dan keahlian khusus agar hasilnya terlihat indah dan presisi.
Kerawang Gayo bukan hanya menjadi elemen dekoratif, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Seni ukir ini menjadi bentuk ekspresi seni dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam masyarakat Gayo. Kerawang Gayo juga menjadi simbol identitas budaya yang penting bagi masyarakat suku Gayo di Aceh.
Dengan keindahan dan nilai-nilai budayanya, Kerawang Gayo menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari warisan seni dan budaya Aceh yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Tiga hal tadi, merupakan keunggulan utama sektor pariwisata daerah-daerah di wilayah tengah Aceh, dalam menarik perhatian turis dari berbagai daerah. Tentunya, di luar pesona alam, yang memang cukup memukau. Selain itu, juga adat istiadat Gayo yang kental dengan nuansa islam juga menjadi pemikat tersendiri.
Di bidang seni, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh sendiri sukses menggelar Semarak Seni Negeri Antara yang digelar 12-13 Mei 2023 di Bale Musara Blangkejeren Gayo Lues.
Kegiatan yang bertujuan untuk mengangkat dan melestarikan kesenian teater daerah Aceh, khususnya Gayo Lues sudah ada sejak tahun 1980-an dan para pelaku seni teater Gayo Lues secara rutin dipagelarkan.

Sekretaris Daerah Gayo Lues, Jata dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas digelarnya even tersebut, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues berharap agar masyarakat dapat mengetahui kesenian dan kebudayaan yang ada di daerahnya melalui pagelaran Semarak Seni Negeri Antara yang diadakan ini serta menjadi ajang sebagai salah satu cara memelihara toleransi dan Kerukunan masyarakat.
“Kami sebagai pemerintah daerah Kabupaten Gayo Lues sangat mengapresiasikan kegiatan ini, semoga kita bisa kembali menggali potensi-potensi yang ada agar kita menjadi kabupaten yang tidak lupa akan adat budaya daerahnya,” ungkapnya.
Julukan sebagai negeri Antara, menurut Jata adalah julukan yang diberikan untuk daratan tinggi Gayo, dimana Gayo Lues merupakan salah satu rumpun dalam negeri Antara ini. Walaupun terdapat perbedaan bahasa tetapi memiliki budaya yang sama, yakni budaya yang diwariskan dari keluhuran seni dan budaya Islam.
“Untuk itulah, dalam kesempatan ini, saya mengajak kepada seluruh masyarakat untuk tetap memelihara dan menjaga keberagaman budaya sebagai modal untuk membangun generasi muda yang berkualitas dan kompetitif.
Hal ini sesuai dengan tema yang diusung yakni bersama kita rukun, berseni kita bahagia. Maka dari itu kami berharap agar even ini dapat mengimplementasikan nilai nilai integritas, etos kerja dan gotong royong sehingga mampu mempersatukan berbagai lapisan masyarakat melalui khazanah budaya,” jelas Jata.
Plt Sekretaris Daerah Gayo Lues juga berharap semoga event ini dapat menjadi peristiwa penting sekaligus momentum yang sangat berharga bagi seluruh masyarakat untuk melestarikan seni dan budaya khususnya seni teater dan aneka jenis tari-tarian yang ada di Gayo Lues.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, dalam sambutan sekaligus membuka acara lokalatih swabela masyarakat adat Aceh mengusung tema “Penetapan, Hutan Adat Pemajuan Kebudayaan dan Pemetaan Partisipasi” di Hotel Hermes Palace Kota Banda Aceh, Senin, 15 Mei 2023 atau hari yang sama, menyebutkan, hampir di seluruh daerah Aceh punya potensi bahari seperti sungai, gunung yang indah dan serta memiliki potensi alam yang sangat baik, terkenal dengan adat memuliakan tamu dan keramahtamahannya.
“Berdasarkan hasil riset dari masyarakat luar negeri yang menjadi indikator paling utama untuk berkunjung ke indonesia adalah mereka adat dan istiadat budaya kita, destinasi atau keindahan alam menjadi urutan nomor dua dan nomor tiga,” ungkap Almuniza.
Menurutnya destinasi bisa dimaksimalkan melalui penguatan budaya maupun adat istiadat dengan kearifan lokal masyarakat, dengan pola tetap menjunjung norma dan keislaman.
Ditambah lagi sambungnya, akan menjadi sebuah visi dan misi dalam konteks membangun peradaban masyarakat Aceh dan akan menguntungkan dalam pelestarian budaya, hal tersebut juga akan selaras dengan terselenggarakannya PKA ke-VIII dalam waktu dekat ini.
Almuniza juga berharap, anak muda Aceh harus menjadi generasi yang tercerdaskan dengan bijak menggunakan sosial media, menghindari konten-konten yang bisa memecah belah umat bangsa.
“Bagaimana perilaku kita di ruang publik hari ini di media sosial apakah sesuai dengan konteks keislaman atau adat istiadat, apakah kita pernah menyakiti perasaan orang lain, dan pada saat ini berkomuniakasi melalu media sosial menjadi trend di kalangan masyarakat dan akan mengurangi interaksi secara fisik, sehingga menjadi intropeksi kita bersama,” sebut Almuniza.
Kembali ke dataran tinggi Gayo, dengan sejumlah potensi tadi, daerah ini memang layak menjadi salah satu tujuan destinasi wisata islami di Aceh. Baik kerena alam, seni budaya serta adat istiadatnya.











