Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature

Ilyas Leubee; Singa Aceh dari Dataran Tinggi Gayo

Atjeh Watch by Atjeh Watch
22/06/2023
in Feature
0
Ilyas Leubee; Singa Aceh dari Dataran Tinggi Gayo

RUMAH itu berpondasi semi panggung. Dinding dan lantainya terbuat dari papan. Beberapa bagian dinding terlihat mulai lapuk. Demikian juga dengan beberapa kaca depan yang terlihat rusak serta jatuh.

Warna cat juga mulai luntur karena dimakan usia. Sedangkan atap bangunan terbuat dari seng yang kini kecoklatan akibat terpaan hujan dan angin.

Konon dari rumah inilah seorang tokoh besar asal Aceh tinggal dan memimpin perjuangan Aceh.

Di depan rumah tadi, seorang Wanita berjilbab ungu menanti kedatangan kami, awal Agustus 2022 lalu. Ia adalah menantu dari Teungku Ilyas Leubee atau istri dari Teungku Munadi.

Sedangkan nama terakhir muncul belakangan. Ia menyapa kami satu persatu dan mempersilakan kami masuk ke dalam rumah panggung tadi.

Turun hadir dalam rombongan tersebut, seorang anggota KPA Bener Meriah yang akrab disapa Itomo. Ia mantan anggota GAM wilayah Linge yang kini dipercayakan sebagai sekretaris PA Bener Meriah.

“Inilah keadaan rumah kami,” kata Teungku Munadi. Ia membuka pintu dan membiarkan rombongan masuk.

Di bagian depan sebelah kiri, ada kamar yang terkunci. Kamar tersebut adalah milik Teungku Ilyas Leubee.

“Di sini ayah saya biasanya menghabiskan hari-harinya jika sedang berada di rumah. Beliau menulis serta mengetik surat menyurat dari kamar ini,” ujar Teungku Munadi.

Usai kamar tadi, kami turun ke bagian dapur yang kini telah disemen. Di sisi kanan, ada tempat duduk ukuran besar yang dijadikan tempat penerimaan tamu. Disanalah kami duduk melingkar dengan latar foto Teungku Ilyas Leubee.

Teungku Munadi menjamu kami dengan sajian kopi Gayo.

+++

Teungku Ilyas Leube adalah tokoh besar dari daratan tinggi Gayo. Ia lahir di Kenawat, Laut Tawar, Aceh Tengah, pada 1923.

Berdarah biru, dia tercatat sebagai Reje Linge ke XIX. Namun Ilyas tak pernah memposisikan diri dalam pergaulan kalangan elit. Dia lebih suka berada di tengah-tengah petani kopi di Tanah Gayo. Hidup dalam kesederhaan dan bersahaja.

“Walau bersertifikasi raja dan ninggrat dalam pergaualan, tetapi memposisikan diri sama dengan rakyat biasa,” cerita Teungku Munadi.

Ilyas lebih dikenal sebagai sosok yang taat dalam menjalankan ajaran Islam. Tokoh sekaliber Daud Beureueh tertarik dan bahkan menjadikannya sebagai salah seorang intelektual yang juga tokoh ulama di DI/TII. Leube di belakang nama Ilyas bukanlah pemberian ayah kandungnya, Bude Entan.

Konon, Teungku Ilyas Leubee menimba ilmu sekolah di Bireuen.

Ia merupakan salah satu murid berprestasi yang bagus, selain itu ia juga fasih dalam ilmu agama. Maka Daud Beureueh menjulukinya Leube. Konon, kata Leube bermakna orang yang banyak pengetahuan di bidang agama dan mudah bergaul dengan siapa saja.

Nama ujung Ilyas melakat hingga pada anak-anaknya. Selain Daud Beureueh, M. Nur Ibrahim dan Ayah Gani juga guru Ilyas Leube saat di Bireuen.

Ilyas Leube mulai berinteraksi dengan Daud Beureueh sejak 1940 ketika sekolah di Bireuen, kemudian pada 1947—1949 saat perang di Medan Area, Sumatra Utara, dalam melawan Agresi Belanda ke-I dan ke-II.

Kemudian saat Daud Beureueh menjadi Gubernur Militer Aceh dan Tanah karo, Ilyas Leube diposisikan sebagai staf khusus.

Interaksi ini terus berlanjut pada pembentukan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) dan deklarasi DI/TII.

Perjuangan Daud Beureueh dan Ilyas Leube berlanjut pada DI/TII. Setelah turun dari gunung Ilyas Leube fokus membina masyarakat dan membangun usaha sendiri yakni kilang kopi.

Belakangan, Ilyas Leube kembali naik gunung saat melanjutkan perjuangannya dalam organisasi Aceh Merdeka (AM) bersama Hasan di Tiro. Ilyas Leube dan Hasan di Tiro sudah bersahabat sejak menimba ilmu di Pulau Jawa pada 1940-an. Ilyas Leube menimba ilmu di Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Sedangkan Hasan di Tiro di Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta.

Dua tokoh ini bertemu dalam sebuah ideologi yang sama. Itulah sebabnya, jejak mereka dimulai pada pergerakan politik pemuda nasional.

“Di sana mereka baru bertemu, sebelumnya hanya saling mendengar nama saja.”

Pada 1975, Ilyas Leube menunaikan ibadah Haji. Sedangkan Hasan di Tiro berada di Amerika.

“Begitu tahu Ilyas berada di Mekkah, Hasan Tiro langsung terbang untuk bertemu Ilyas Leube.”

Pada pertemuan ini mereka membicarakan soal Aceh Merdeka. Komunikasi dengan Hasan di Tiro berlanjut.

Konon, pada awal-awal 1976, Hasan di Tiro bersama Zainal Abidin Tiro dan Ayah Gani serta beberapa tokoh lain kembali menemui Ilyas di Takengon. Lima hari berkomunikasi tiada henti, membuat Hasan Tiro dan Ilyas Leube semakin dekat.

Hasan di Tiro diajak keliling Danau Laut Tawar dan berfoto bersama di Bontol Kubu (benteng pertahanan Gayo). Usai bertemu di sana, Hasan di Tiro kembali ke Amerika. Dalam pertemuan tersebut mereka janji bertemu di Gunung Halimon, kabupaten Pidie, pada akhir 1976.

Pada Deklarasi Aceh Merdeka di Gunong Halimon, Ilyas mendapat jabatan Menteri Kehakiman. Nama Ilyas Leube dalam struktur Aceh Merdeka juga ditempatkan dalam Dewan Syura bersama Ilyas Cot Plieng, Hasbi Geudong, dan Ayah Sabi. Sedangkan Hasan di Tiro adalah Wali Neugara Aceh.

Ilyas Leube yang pernah sekolah kehakiman di Banda Aceh pada tahun 1942 dikenal sosok yang gigih mempertahankan eksitensi Aceh Merdeka.

+++

Munadi sendiri memiliki memori yang begitu melekat tentang ayahnya itu semasa hidup.

“Ayahnya saya jarang di rumah. Ia bergerak dari desa yang satu ke desa lainnya untuk berpidato. Ia berpidato tentang Aceh dari mimbar yang satu ke mimbar lainnya,” kata dia.

Hal ini diiyakan oleh Itomo.

“Sewaktu kecil, saya sering mendengarkan Teungku Ilyas Leube berbicara. Ia mampu menghipnotis orang banyak dari atas mimbar,” ujar Itomo.

Sedangkan kalau sedang berada di rumah, menurut Munadi, sang ayah lebih banyak berada di dalam kamar.

Ia mengetik banyak surat yang ditunjukan kepada para pihak. Salah satunya adalah surat surat dagang mewakili perusahaan kopinya. Selain itu, juga ada sejumlah catatan tentang Aceh dari pandangan Teungku Ilyas Leubee.

Teungku Munadi juga masih mengingat dengan jelas hari dimana ayahnya tertembak.

“Hari itu, Rabu. Ada personil Koramil yang menjemput kami di sini. Katanya, ayah sudah tertangkap,” ujar Munadi dengan nada berat.

“Kami kemudian di bawa ke Jeunib. Setengah jalan baru diberitahu bahwa ayah kami tertembak. Kalau gak salah, itu pada 15 April 1982. Mayatnya kami bawa pulang dengan diantar oleh ratusan warga,” kenang Munadi.

+++

TEUNGKU Munadi membawa kami ke komplek kuburan keluarga. Jaraknya sekitar 200 meter di belakang rumah panggung tadi.

Kuburan Teungku Ilyas Leubee berada di atas bukit kecil di di Desa Bandar Lampahan, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah.

Kuburan Teungku Ilyas Leubee cukup terawat. Di sana juga ada beberapa makam lainnya milik sang istri Salamah binti Salihin Inen Hudna serta makam sang anak Iklil bin Ilyas Leubee serta Ilham bin Ilyas Leube.

Di sana juga ada beberapa kuburan keluarga lainnya.

Dari atas bukit, Bandar Lampahan terlihat dengan jelas. Konon semua area tersebut adalah milik keluarga Teungku Ilyas Leubee yang dihibahkan kepada masyarakat setempat untuk dijadikan kebun dan tempat tinggal.

“Saya biasa ke sini saat kecil. Kami sering memetik buah di rumah tadi,” ujar Itomo.

Bagi Munadi dan masyarakat Gayo, Teungku Ilyas Leubee bukanlah sosok biasa. Ia adalah reje yang juga ulama besar.

Teungku Ilyas juga memiliki saham dari salah satu perusahaan besar di Sumatera Utara. Hasil dari usaha ekspor kopi di perusahaan tadi digunakan untuk berdakwah Islam di tanah Karo. Konon, pada masa itu, dakwah Teungku Ilyas Leubee telah mampu mengislamkan puluhan ribu warga di tanah Karo.

“Atas dasar itu, dibangun masjid di tanah Karo serta diberinama dengan Masjid Baiturrahman. Sama seperti yang di Banda Aceh. Kami pernah diundang ke sana. Tapi yang mewakili adalah anak saya,” ujar Munadi.

Munadi mengaku sering mendengar petuah-petuah sang ayah semasa kecil. Petuah tersebut juga sempat disampaikan ibunya semasa hidup.

Kata sang ibu, sebelum berangkat bergerilya, sang ayah berpesan kepada dirinya.

“Jaga kerukunan keluarga, jangan sampai kocar- kacir,” pesan Ilyas Leube dalam Bahasa Gayo kepada sang istri yang diceritakan Kembali kepada Teungku Munadi semasa hidup.

Hal inilah yang terus dipegangnya hingga kini.

Previous Post

Polresta Tetapkan Tersangka Kasus Korupsi Pengadaan Lahan Zikir Nurul Arafah Islamic Center

Next Post

Safaruddin Serap Aspirasi Warga Kuala Batee untuk Infrastruktur dan Rumah Ibadah

Next Post
Safaruddin Serap Aspirasi Warga Kuala Batee untuk Infrastruktur dan Rumah Ibadah

Safaruddin Serap Aspirasi Warga Kuala Batee untuk Infrastruktur dan Rumah Ibadah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

PMI Jakarta Pusat Jalankan Misi Kemanusiaan Tahap ke-3 di Tamiang

PMI Jakarta Pusat Jalankan Misi Kemanusiaan Tahap ke-3 di Tamiang

12/04/2026
Mahasiswa Asal Abdya Nahkodai HMP Kesejahteraan Sosial UIN Ar-Raniry Periode 2026–2027

Mahasiswa Asal Abdya Nahkodai HMP Kesejahteraan Sosial UIN Ar-Raniry Periode 2026–2027

12/04/2026
Negara Tak Boleh Tutup Mata: Warga Kuala Kepeung Tuntut Pengembalian Tanah dari HGU PT ASN

Negara Tak Boleh Tutup Mata: Warga Kuala Kepeung Tuntut Pengembalian Tanah dari HGU PT ASN

12/04/2026
Ohku, Tiga Kurir Ganja 151 Kilogram Asal Aceh Kini Dihukum Mati

Ohku, Tiga Kurir Ganja 151 Kilogram Asal Aceh Kini Dihukum Mati

12/04/2026
Gen Z Milenial Membaca Gelar Ekspedisi di Gampong Wisata Lubok Sukon

Gen Z Milenial Membaca Gelar Ekspedisi di Gampong Wisata Lubok Sukon

12/04/2026

Terpopuler

20 Santri Al Zahrah Beunyot Dinyatakan Lulus SPAN PTKIN 2026

20 Santri Al Zahrah Beunyot Dinyatakan Lulus SPAN PTKIN 2026

09/04/2026

Heri Ahmadi dan 4 Tokoh Lainnya Dicalonkan Jadi Kandidat Ketua DPC PKB Pidie Jaya

Ketua TP PKK Aceh Tengah: Perempuan Kunci Utama Kemajuan Bangsa

Mualem Kantongi Dua Nama Calon Pengganti Abang Samalanga

Negara Tak Boleh Tutup Mata: Warga Kuala Kepeung Tuntut Pengembalian Tanah dari HGU PT ASN

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com