WANITA itu berkulit sawo matang. Ia menuntun penulis memasuki jalan sempit di pedalaman Jeunib pada awal Agustus 2022 lalu.
Ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Sedangkan rombongan kami mengekor dari arah belakang dengan menggunakan mobil.
Beberapa kali, ia berhenti dan menoleh ke belakang untuk memastikan kami masih mengekornya dengan benar.
Laju sepeda motornya berhenti setelah hampir 30 menit perjalanan dari pusat kota Jeunib, kabupaten Bireuen.
Di sisi kiri, ada bangunan beton semi terbuka.
“Di sini kuburannya,” ujar wanita tadi saat kami turun dari mobil.
Ia memarkir sepeda motor dan memasuki komplek bangunan tadi.
Demikian juga dengan kami.
Wanita tadi biasa dipanggil Kak Tam. Nama itu merupakan sapaan akrab para gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka semasa konflik untuk wanita murah senyum tadi.
Kak Tam sendiri adalah gerilyawan perempuan yang kini masih aktif berkomunikasi dengan rekan-rekannya sesama pejuang Aceh di masa konflik.
Kak Tam juga mau membantu siapapun yang hendak mencari informasi tentang keberadaan kuburan-kuburan para syuhada Aceh. Salah satunya seperti ketika ia menuntun kami ke lokasi ini.
Kak Tam mengelilingi bangunan. Ia seperti mencari seseorang. Namun setelah dua kali berputar, ia mendekati kami dengan kepala menggeleng dua kali.
“Penjaga makam sedang tak berada di lokasi,” ujarnya kemudian.
Di sisi kanan bangunan tadi, terdapat plamplet berukuran sedang. Ada tulisan di plamplet tadi. Disana tertulis, “nama-nama syuhada 44 yang syahid dalam pertempuran melawan Kolonial Jepang tahun 1945. Desa Lheue Simpang, Kecamatan Jeunib Kabupaten Bireuen.”
Menurut Kak Tam, dinamakan Makam Syuhada 44, karena di lokasi tadi dimakamkan 44 syuhada yang syahid dari masa colonial Jepang hingga konflik Aceh.
Sedangkan nama yang kami cari terdapat di urutan ke 6.
“Tgk Yacob.”
Nama terakhir merupakan gerilyawan Aceh di awal-awal perjuangan Aceh merdeka. Kisah heroiknya-lah yang membakar semangat perlawanan para pemuda Aceh lainnya semasa konflik meletus di Aceh.
+++
AZHAR terdiam lama. Ia seperti kehilangan kata-kata saat diminta menceritakan kisah Teungku Akop semasa hidup.
Lelaki ini merupakan anak kandung dari Teungku Akop.
“Nama asli beliau M Yacob bin Hanafiah. Kalau gak salah saat meninggal berusia 45 tahun,” ujar Azhar kemudian.
“Beliau disapa oleh warga dengan panggilan Teungku Akop Fiah. Nama Fiah adalah kakek saya, Hanafiah.”
“Postur badannya sedang. Seperti hanya kami para anak-anaknya.”
Menurut Azhar, sama seperti gerilyawan Aceh lainnya, Teungku Yacob jarang berada di rumah selama fase 1976 hingga akhir hayat 15 April 1982.
Ini karena Teungku Akop bergerilya dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya.
“Pulang sebentar dan kemudian pergi lagi,” ujar Azhar.
“Saat itu saya masih kecil,” katanya lagi.
Teungku Akop juga termasuk salah seorang yang mengawal keberangkatan Teungku Hasan Tiro keluar dari Aceh melalui Krueng Jeunib. Ini karena saat itu, keadaan Aceh dinilai tidak aman lagi bagi deklarator Aceh Merdeka itu.
Usai mengantar kepergian Teungku Hasan Tiro menyeberang keluar Aceh, Teungku Akop naik gunung untuk meneruskan perjuangan Aceh merdeka. Teungku Akop berada di lokasi yang sama dengan Teungku Ilyas Leubee dan Camat Derih.
Ketiganya merupakan tokoh awal AM di Aceh serta hadir dalam deklarasi Aceh merdeka di gunung Halimun Pidie.
Ketiganya juga meninggal di lokasi yang sama usai dikepung tentara republic. Mereka tertembak saat sedang salat subuh.
Ribuan warga menjemput jenazah tiga tokoh AM yang tertembak tersebut di lembah Alue Bintang Langet. Jeunib dan sekitar dilanda hujan deras saat itu.
“Kemudian dimakamkan di Desa Lheue Simpang,” ujar Azhar.
“Saya masih ingat. Saat itu hujan deras. Kami melihat ketiganya diboyong turun gunung melalui jalan kampung,” ujar Kak Tam di sela-sela wawancara dengan Azhar.
“Saat itu saya sangat sedih,” kata Kak Tam lagi.
“Lokasi persembunyian mereka dibocorkan oleh seseorang,” ujar Azhar kemudian.
“Di Blang Poroh, Glee Jeunib.”
Azhar kemudian kembali terdiam.
“Isya Allah beliau orang baik. Dan akan di-tempat-kan di tempat yang baik pula,” ujar Azhar kemudian.
Menurut Azhar, ayahnya memiliki 4 orang putra. Mereka adalah A Wahab, Abubakar, dirinya sendiri (Azhar-red) dan Hasbi. Semuanya meneruskan perjuangan sang ayah untuk angkat senjata semasa konflik dan terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka.
+++
Di makam Syuhada 44, rombongan kami sempat menggelar doa bersama. Suasana terasa khitmad saat itu. Langit terlihat mendung.
Kak Tam sendiri minta izin setelah doa bersama usai. Ia menunjuk jalan pulang guna memastikan kami tidak tersesat.











