TAMIANG – Setelah kurang lebih tiga minggu bencana di Aceh, masyarakat penyintas mulai merasakan berbagai gangguan kesehatan, paling banyak Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dalam keterangan dari Emergency Medical Team (EMT) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, dari 45 pasien yang dilayani pada mayoritas mengeluhkan ISPA.
Dijelaskan bahwa, untuk menjangkau penyintas yang tersebar, tim membagi personel menjadi dua kelompok kerja. Tim A melakukan koordinasi dan persiapan layanan di wilayah kerja Puskesmas Sungai Iyu yang cakupannya luas.
Sementara Tim B memilih pola layanan mobile di Gampong Air Tenang karena fasilitas layanan dasar setempat belum berfungsi normal. Poskesdes di wilayah itu masih terkendala lumpur, sementara posko yang ada tidak lagi ditempati relawan atau tenaga kesehatan.
Dari 45 pasien yang ditangani Tim B pada 22 Desember 2025, tercatat 26 laki-laki dan 19 perempuan, dengan sebaran usia mulai dari balita hingga lansia. ISPA menjadi penyakit tertinggi dengan 18 kasus, disusul keluhan lain yang lazim muncul pascabencana, termasuk gangguan kulit.
“Tidak ada kasus yang memerlukan rujukan hari ini. Seluruhnya dapat ditangani di lokasi layanan,” ujar dr. Muhammad Ihsan Kitta, Ketua Tim EMT Unismuh Makassar melalui keterangan pers tersebut.
Dia menambahkan, layanan kesehatan dilakukan berdasarkan penempatan hasil koordinasi dengan Health Emergency Operation Center (HEOC) Tanggap Bencana Kabupaten Aceh Tamiang.
“Kami ditempatkan di wilayah Puskesmas Sungai Iyu yang mencakup Sungai Iyu dan Desa Tanjung Kepayang di Kecamatan Bendahara. Selain itu, tim juga bergerak ke Gampong Air Tenang di Kecamatan Karang Baru,” katanya.
Tim juga mencatat, layanan kesehatan reproduksi serta promosi kesehatan belum dilakukan. Adapun kebutuhan yang dinilai mendesak adalah penguatan layanan kesehatan di wilayah kerja serta ketersediaan obat untuk gangguan kulit, yang kerap muncul akibat kontak dengan air kotor dan kondisi sanitasi pascabanjir.
Operasi lapangan ini melibatkan 10 personel EMT yang terdiri atas tenaga medis dan penunjang—dokter, perawat, bidan, tenaga kefarmasian, serta mahasiswa profesi kedokteran—yang bertugas bergilir mengikuti kebutuhan di titik layanan.










