MEUREUDU – Karst Aceh bersama UKM PA Leuser USK membersihkan sumur agar air bersih kembali di 7 desa pada 2 kecamatan di Kabupaten Pidie Jaya.
“Hingga hari ini, 182 sumur berhasil dipulihkan. Hampir semuanya berada dalam kondisi berat; penuh lumpur banjir, bercampur ranting, dahan, dan material organik lain yang membuat pembersihan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ujar Ketua Karst Aceh, Abdillah, Rabu 24 Desember 2025.
Di Pidie Jaya, kata dia, lumpur bukan sekadar sisa banjir.
“Ia menipu. Dari atas tampak mengeras, tetapi ketika dipijak, kaki bisa terperosok ke endapan lembek yang menahan kuat. Sepatu sering tertinggal, telapak kaki harus ditarik sekuat tenaga. Dari beberapa sumur, bau menyengat muncul bersama buih dan gelembung kecil: tanda endapan masih hidup, tanah belum benar-benar stabil.”
“Pekerjaan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan mesin. Pompa air memang membantu, tetapi di banyak titik kami harus turun langsung, mengandalkan tangan, insting, dan kewaspadaan. Salah membaca kondisi tanah, dinding sumur bisa runtuh. Dalam situasi seperti ini, warga menjadi penentu keselamatan. Mereka mengenal tanah dan sumur itu sejak lama. Menunjukkan lokasi yang aman, memberi peringatan, dan membantu membuka akses yang licin.”
“Yang paling menguatkan justru terjadi di luar kerja teknis. Di tengah rumah yang rusak dan kebutuhan yang belum terpenuhi, warga tidak menjauh. Mereka menemani relawan, ikut membantu, dan tetap menyuguhkan kopi, makanan ringan, serta hasil dapur seadanya. Ada yang bahkan menawarkan bantuan materi, meski hidup mereka sendiri sedang serba kekurangan,” ujarnya.
Abdillah menyampaikan kekagumannya atas sikap masyarakat di lapangan.
“Kami bekerja di tengah lumpur dan risiko, tapi yang membuat kami bertahan adalah sikap warga. Di saat rumah mereka sendiri rusak parah, mereka masih menyambut kami dengan perhatian dan kehangatan. Ini kekuatan sosial yang luar biasa,” ujarnya dari lokasi kegiatan.

Selain kerja pembersihan sumur, Karst Aceh juga berupaya meringankan beban warga dengan menyalurkan bantuan logistik. Di sela kegiatan, tim turut membantu pendistribusian beras, paket mandi, pakaian layak pakai, perlengkapan ibadah, serta kebutuhan dasar lainnya. Bantuan ini memang tidak menggantikan kehilangan, tetapi diharapkan bisa menjadi penopang awal di masa pemulihan.
Bagi Karst Aceh, kata dia, 182 sumur bukan sekadar angka capaian. Setiap sumur yang kembali jernih berarti satu keluarga bisa kembali memasak, berwudhu, membersihkan rumah, dan melanjutkan hidup dengan lebih bermartabat. Air bersih adalah titik awal pemulihan.
Pengalaman di Pidie Jaya kembali menegaskan satu hal penting: penanganan bencana di Aceh tidak cukup hanya dengan alat dan teknologi. Ia harus dijalankan dengan kerja bersama, rasa hormat, dan kesadaran bahwa masyarakat terdampak bukan objek bantuan, melainkan mitra kemanusiaan.
“Air kini mulai mengalir kembali di banyak sumur. Lumpur mungkin masih tertinggal di halaman dan perkarangan. Tetapi harapan, pelan namun pasti, telah menemukan jalannya di Pidie Jaya,” katanya.










