SIGLI – Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh, Drs. Isa Alima, ajak masyarakat perkuat silaturahmi dan solidaritas di tengah provokasi di ruang digital yang bisa ganggu persatuan bangsa. Apalagi Saat ini, bangsa lagi berduka karena bencana alam, jadi yang dibutuhkan adalah empati, bukan emosi.
Alima ingatkan, perpecahan sosial bisa melemahkan daya tahan bangsa, jadi bijaklah menyikapi informasi dan tahan diri dari provokasi.
“Saat ini Indonesia Diuji Algoritma Provokasi, mari kita Ajak Perkuat Silaturahmi dan Solidaritas Bangsa,” kata Isa Alima. Selasa 30 Desember 2025.
Dikatakan Isa, Indonesia tengah menghadapi ujian berat berupa derasnya arus provokasi di ruang digital yang menyasar persatuan bangsa. Maka dari itu Isa Alima mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat silaturahmi dan solidaritas.
Menurut Alima, provokasi berbasis identitas akan menghambat kerja-kerja kemanusiaan dan memperpanjang penderitaan rakyat, terutama di tengah kondisi bangsa yang sedang berduka akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor.
“Dalam suasana musibah seperti sekarang, yang paling dibutuhkan adalah empati, bukan emosi. Silaturahmi dan solidaritas harus kita kedepankan agar penanganan kemanusiaan dapat berjalan dengan baik dan lancar,” ujar Isa Alima.
Alima mengingatkan bahwa perpecahan sosial adalah pintu masuk bagi melemahnya daya tahan bangsa. Ketika masyarakat terbelah oleh narasi kebencian, energi kolektif yang seharusnya digunakan untuk saling menolong justru habis dalam konflik yang tidak produktif.
Isa Alima mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih bijak menyikapi informasi yang beredar dan menahan diri dari provokasi. “Menahan diri adalah bentuk keberanian di era digital. Persatuan bukan slogan, tapi sikap sadar untuk tidak mudah diprovokasi,” tegasnya.
“Kita berharap masyarakat tetap teguh menjaga persatuan nasional dengan akal sehat, empati, dan tanggung jawab bersama,” Ucap Isa Alima Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh.[Mul]










