BANDA ACEH – Suhu politik internal Partai Demokrat Aceh kian memanas jelang pemilihan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Empat nama yang mencuat dinilai membawa risiko besar bagi masa depan partai, mulai dari beban masa lalu, ancaman dominasi kekuatan eksternal, hingga krisis komunikasi politik di parlemen.
Peneliti e-TRUST, Indra Azwal, S.IP, mengatakan Demokrat Aceh sedang menghadapi momen paling menentukan dalam satu dekade terakhir.
“Ini bukan kontestasi biasa. Salah memilih Ketua DPD, Demokrat Aceh bisa kembali terperosok ke konflik internal dan kehilangan relevansi politiknya di Aceh,” tegas Indra, Senin (2/2/2026).
Munculnya kembali nama Nova Iriansyah, mantan Gubernur Aceh sekaligus eks Ketua DPD Demokrat, disebut membawa risiko pengulangan konflik lama.
“Stabilitas internal yang ditawarkan Nova itu semu. Secara politik, Demokrat justru pernah terisolasi di DPRA karena gagal membangun koalisi sehat,” ujar seorang pengamat politik Aceh.
Sementara itu, masuknya figur eksternal Illiza Sa’aduddin Djamal dinilai berpotensi menggerus identitas Demokrat sebagai partai kader.
“Kalau gerbong eksternal masuk dan menguasai struktur, kader lama hanya akan jadi penonton di rumah sendiri. Ini bom waktu bagi soliditas partai,” kata Indra Azwal.
Untuk HT Ibrahim (Bram), loyalitas dianggap tidak cukup tanpa kemampuan lobi lintas partai. “Aceh bukan daerah biasa. Tanpa komunikasi dengan partai lokal, Demokrat hanya akan jadi partai pinggiran di parlemen,” lanjutnya.
Di tengah kebuntuan itu, Nurdiansyah Alasta mulai dipandang sebagai opsi regenerasi.
“Isu usia muda itu basi. Justru yang dibutuhkan Demokrat hari ini adalah pemimpin tanpa beban konflik lama dan mampu berbicara dengan semua kekuatan politik di Aceh,” tegas Indra.
Pemilihan Ketua DPD Demokrat Aceh kini dipandang sebagai pertaruhan hidup-mati arah partai. Keputusan yang diambil akan menentukan apakah Demokrat mampu bangkit sebagai kekuatan relevan, atau kembali tenggelam dalam konflik dan stagnasi.[]








