Tamiang- Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang mencatat sebanyak 14.143 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi pada periode 2 Desember 2025–19 Februari 2026, pascabencana banjir bandang yang menerjang pada akhir November 2025.
“Jadi, kumulatif dari laporan itu ada 14.143 (kasus ISPA). Ini merupakan jumlah kumulatif, dia bergerak,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang Mustakim ketika ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Jumat.
Mustakim menyampaikan kondisi debu pada bulan Desember dengan Februari jauh berbeda. Pada Desember, lumpur masih berada di setiap sudut kota, sehingga debu yang beterbangan lebih parah apabila dibandingkan dengan Februari.
Saat ini, lumpur sudah mulai dibersihkan dan dipinggirkan, sehingga debu yang terbawa oleh angin tidak separah Desember lalu.
“Kalau misalnya dilihat secara komparasi antara Desember, Januari, dengan Februari, saya yakin bulan Februari ini pasti lebih menurun (kasus ISPA) dibanding dengan bulan Desember,” ucap Mustakim.
Akan tetapi, ia belum tuntas mengelompokkan data per bulan, sebab selama ini pencatatan dilakukan secara kumulatif.
Sehubungan dengan maraknya kasus ISPA, Mustakim menyampaikan sudah melakukan pembagian masker. Langkah tersebut juga didukung oleh relawan dan tenaga kesehatan yang tergabung di dalam Tenaga Cadangan Kesehatan Emergency Medical Team (TCK-EMT).
TCK-EMT adalah tim medis profesional (tenaga kesehatan dan non-kesehatan) yang dibentuk oleh Kementerian Kesehatan RI untuk memberikan pelayanan kesehatan cepat, terkoordinasi, dan berstandar internasional di lokasi bencana atau darurat kesehatan.
Selain pembagian masker, Mustakim juga menyampaikan telah melakukan sosialisasi perilaku hidup bersih, salah satunya dengan menerapkan cuci tangan pakai sabun (CTPS).
“Kami berupaya maksimal untuk menekan agar angka ini tidak bergerak lebih cepat, tidak meningkat lebih cepat. Ini yang kami khawatirkan,” ucap Mustakim.
Selain kasus ISPA, kasus yang saat ini menuai perhatian Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang adalah peningkatan populasi nyamuk. Terkait kasus tersebut, Mustakim menyampaikan Aceh Tamiang membutuhkan bantuan berupa alat dan obat fogging untuk menangani peningkatan populasi nyamuk pascabencana banjir bandang.
“Obat fogging itu dalam kurun waktu dua minggu ini akan habis. Jadi kami sudah mengirim surat ke Kementerian Kesehatan,” kata dia.










