Banda Aceh– Di tengah kondisi dunia yang semakin tidak menentu akibat berbagai konflik global yang berpotensi mengganggu rantai pasok pangan, Senator Aceh Darwati A. Gani mengajak masyarakat untuk semakin mencintai dan memperkuat pangan lokal sebagai langkah bersama menjaga ketahanan pangan daerah dan nasional.
Ajakan tersebut disampaikan saat kunjungannya ke rumah produksi tempe milik Rumoh Pangan Aceh di Desa Alue Naga, Kota Banda Aceh pada Selasa (3/3/2026).
Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Darwati melihat langsung proses produksi tempe berbahan kacang koro pedang serta berdialog dengan para ibu pekerja yang selama ini menjadi penggerak utama rumah produksi tersebut.
Salah satu komoditas yang tengah dikembangkan adalah kacang koro pedang sebagai alternatif pengganti kedelai impor. Inisiatif ini dinilai penting mengingat Indonesia masih mengimpor sekitar 3,2 juta ton kedelai per tahun, yang sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Argentina. Di Aceh sendiri, kebutuhan kedelai mencapai sekitar 6.000 ton per tahun dan hampir seluruh pelaku usaha tahu dan tempe masih bergantung pada pasokan impor.
Menurut Darwati, ketergantungan ini menjadi pengingat bahwa setiap gejolak global, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dapat berdampak hingga ke dapur masyarakat Indonesia melalui kenaikan harga dan gangguan distribusi.
Ia juga mengingatkan pengalaman Aceh beberapa waktu lalu saat bencana banjir melanda sejumlah wilayah. Pada masa itu, distribusi terganggu dan beberapa bahan pangan mengalami kelangkaan serta kenaikan harga. Kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bahwa ketahanan pangan bukan hanya isu global, tetapi juga sangat relevan dalam situasi darurat di daerah sendiri.
“Ketika distribusi terganggu, kita baru menyadari betapa pentingnya memiliki sumber pangan yang kuat di daerah sendiri. Karena itu, penguatan pangan lokal harus menjadi gerakan bersama,” ujar Darwati.
Dalam kesempatan tersebut, Darwati menyatakan komitmennya untuk turut mendukung penguatan gerakan pangan lokal, khususnya dalam aspek edukasi dan promosi kepada masyarakat agar semakin memahami pentingnya konsumsi produk berbasis komoditas lokal.
Ia juga mengapresiasi langkah Rumoh Pangan Aceh yang konsisten mendorong diversifikasi pangan sekaligus memberdayakan perempuan melalui rumah produksi tempe di tingkat desa.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Rumoh Pangan Aceh, Rivan, bersama tim memaparkan capaian program. Mulai dari pendampingan petani koro pedang, penguatan kapasitas produksi ibu-ibu di desa, hingga kampanye konsumsi pangan lokal sebagai alternatif kedelai impor.
Kunjungan ini menjadi momentum mempererat kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemangku kebijakan dalam membangun kemandirian pangan Aceh berbasis potensi lokal sebagai langkah bijak menghadapi ketidakpastian global sekaligus memperkuat ketahanan daerah dari pengalaman krisis yang pernah terjadi.









