Tamiang – Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan bahwa proses pemulihan pascabencana banjir dan longsor di Aceh berjalan sangat cepat dan kini hampir mencapai 100 persen. Pernyataan tersebut disampaikan usai pelaksanaan Shalat Idulfitri di Masjid Darussalam, Aceh Tamiang, Sabtu (21/3/2026).
“Perbaikannya, pemulihannya sangat cepat. Alhamdulillah hampir 100 persen,” ujar Presiden.
Ia juga menyebutkan bahwa saat ini tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian. Menurutnya, masyarakat terdampak telah mulai menempati hunian sementara maupun hunian tetap.
“Semua sudah keluar dari tenda, masuk ke hunian sementara ataupun hunian tetap sudah mulai,” tambahnya.
Selain itu, Presiden mengungkapkan bahwa pasokan listrik di Aceh telah pulih hampir sepenuhnya, dengan hanya beberapa desa yang masih mengalami kendala. Namun, pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari kalangan ulama dan pengurus Nahdlatul Ulama di daerah.
Rais Syuriah PCNU Aceh Tamiang, Tgk Mustofa Abdussalamsyah, menyampaikan bahwa kondisi di lapangan belum sepenuhnya sesuai dengan yang disampaikan pemerintah pusat.
“Realitas di lapangan tidak demikian. Sekitar 70 persen masyarakat masih dalam kondisi terlantar,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).
Ia menjelaskan, masih banyak warga yang belum mendapatkan bantuan secara merata.
“Banyak yang belum mendapatkan apa pun. Ada juga yang belum mendapatkan hunian sementara (huntara), bahkan sebagian tidak mendapatkan hunian tetap (huntap),” ungkapnya.
Menurutnya, masyarakat saat ini masih bertahan dalam kondisi terbatas dan diharapkan untuk terus bersabar.
Senada dengan itu, Sekretaris PCNU Aceh Tamiang, Tgk Sultan, menyebutkan sejumlah wilayah yang hingga kini masih terdampak dan membutuhkan perhatian serius.
Di Kecamatan Karang Baru, kondisi tersebut masih dirasakan oleh warga di Desa Sukajadi dan Desa Banai. Sementara di Kecamatan Kota Kuala Simpang, terdapat Desa Kuala Simpang dan Desa Kota Lintang.
Kemudian di Kecamatan Bandar Pusaka, beberapa desa seperti Alur Jambu, Batang Ara, dan Pantai Cempa juga dilaporkan masih menghadapi dampak bencana.
Selain itu, di Kecamatan Sekerak, kondisi serupa terjadi di Desa Lubuk Sidup dan Desa Pantai Perlak.
“Wilayah-wilayah ini masih membutuhkan perhatian serius, baik dari segi bantuan maupun percepatan pembangunan hunian,” kata Tgk Sultan.
Ia berharap pemerintah pusat dan daerah dapat kembali melakukan verifikasi data secara menyeluruh agar bantuan dapat tepat sasaran.
Menurutnya, percepatan pemulihan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan dampaknya.
“Pemulihan itu bukan hanya angka, tetapi bagaimana masyarakat benar-benar kembali hidup normal,” tegasnya.
Perbedaan antara data pemerintah pusat dan kondisi di lapangan ini menunjukkan perlunya koordinasi yang lebih kuat antara berbagai pihak.
Diharapkan ke depan, proses pemulihan pascabencana di Aceh dapat berjalan lebih merata dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat terdampak.
Dengan demikian, semangat Idulfitri sebagai momentum kebangkitan dan harapan baru benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, khususnya mereka yang masih berjuang bangkit dari dampak bencana.










