Jakarta – Nama Bagher Ghalibaf menjadi sorotan usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut membidik dia untuk menjadi pemimpin tertinggi Iran di masa depan.
Dua sumber yang familiar dengan hal tersebut mengatakan beberapa pejabat Gedung Putih memandang Ghalibaf sebagai mitra yang bisa diandalkan Negeri Paman Sam. Ghalibaf dianggap sosok yang bisa diajak negosiasi di masa depan.
“Pemerintahan Trump diam-diam mempertimbangkan ketua parlemen Iran sebagai mitra potensial – dan bahkan pemimpin masa depan,” demikian laporan Politico seperti dikutip Reuters Selasa (24/3).
Di kesempatan terpisah, Trump sempat sesumbar utusan dia sedang bernegosiasi dengan Iran soal perang tanpa menyebut nama dengan rinci.
Sejumlah media AS dan Israel lalu melaporkan Ghalibaf lah orang yang dimaksud Trump. Namun, dia dan pemerintahan Iran membantah.
Siapa Bagher Ghalibaf?
Ghalibaf menjabat sebagai ketua parlemen Iran sejak 2020.
Sebelum duduk di kursi dewan perwakilan rakyat, pria kelahiran 23 Agustus 1961 itu pernah menjadi komandan angkatan udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dari 1997 hingga 2000.
Setelah itu, Ghalibaf menjadi kepala kepolisian negara. Dari tahun 2005 hingga 2017, ia memimpin Teheran sebagai wali kota.
Di periode tersebut, Ghalibaf pernah mencalonkan diri menjadi presiden, tetapi gagal. Ia tercatat pernah nyapres sebanyak empat kali yakni 2005, 2013, 2017, dan 2024, demikian dikutip Al Jazeera.
Namun sebelum pemilu 2017, dia mundur dari kontestasi politik itu.
Lalu pada Mei 2020, Ghalibaf menjadi ketua parlemen, menggantikan Ali Larijani, yang sudah menjabat sejak 2008. Larijani merupakan penasihat dekat mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang tewas pada hari pertama perang AS-Israel pada 28 Februari.
Larijani, juga sempat menjadi pejabat keamanan tertinggi Iran, yang kemudian tewas pada 17 Maret dalam serangan Israel.
1/ Certainly we aren’t seeking a ceasefire. We believe the aggressor must be punished and taught a lesson that will deter them from attacking Iran again.— محمدباقر قالیباف | MB Ghalibaf (@mb_ghalibaf) March 10, 2026
Bagaimana sikap Bagher Ghalibaf ke AS?
Ghalibaf jadi salah satu tokoh yang paling keras mengkritik dan mengecam AS-Israel. Dia juga berulang kali mengeluarkan ancaman ke kedua negara itu, dan negara-negara Teluk.
Ancaman-ancaman tersebut kerap menggemakan peringatan IRGC, dan terkadang melampaui apa yang jadi ancaman miiliter itu sendiri.
“Tentu saja kami tidak mencari gencatan senjata. Kami percaya bahwa agresor harus dihukum dan diberi pelajaran yang akan mencegah mereka menyerang Iran lagi,” kata dia di X pada 12 Maret.
Pada 14 Maret, ia juga mengejek Trump usai mengklaim AS berhasil mengalahkan Iran. Tiga hari kemudian, ia menyatakan Selat Hormuz tak akan kembali ke keadaan sebelum perang.
Kemudian pekan lalu, Ghalibaf memposting bahwa lembaga keuangan yang mendanai militer Washington adalah target yang sah bagi Iran.
“Obligasi pemerintah AS berlumuran darah orang Iran. Belilah, dan Anda membeli serangan terhadap markas besar dan aset Anda,” kata dia.
Lalu pada Senin, Ghalibaf memposting serangkaian unggahan di X berisi bantahan soal pembicaraan dengan AS yang mengaitkan dirinya.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta menghindari jebakan yang menjebak AS dan Israel,” tulis dia.










