Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Sinkronisasi Antara Logika & Retorika

redaksi by redaksi
29/03/2026
in Opini
0
[Opini] Sinkronisasi Antara Logika & Retorika

Oleh Insanul Arif. Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir.

Perang logika merupakan fenomena yang sangat relevan terjadi di era digital sekarang. Merujuk kondisi sekarang yang sangat kacau, seseorang lebih mendahulukan pendapat sendiri meskipun pendapatnya rancu. Hal ini terjadi karena kurangnya pedalaman ilmu logika yang benar sehingga orang lebih mendahulukan ego-nya dibandingkan pengetahuan.

Di era sekarang seseorang tidak lagi berperang menggunakan fisik melainkan menggunakan logika, hal ini sangat di anjurkan tetapi melalui tata cara yang benar. Jika suatu individu atau kelompok menerapkan sistem berlogika dengan cara yang benar pasti akan mendorong seseorang untuk kritis dalam semua aspek. Seperti di pesantren-pesantren ada forum diskusi yang biasa disebut dengan Bahtsul Masail. Meskipun tidak semua pesantren memiliki forum tersebut, namun perlu kita akui bersama dengan adanya Bahtsul Masail sangat membangun logika menjadi kritis.

Mengambil inspirasi dari tradisi Bahtsul Masail, kita melihat bahwa kebenaran tidak lahir dari ruang hampa, melainkan melalui tumpukan argumen kritis yang hingganya sampai ke titik kesimpulan dengan cara kesepakatan bersama. Di era digital, forum diskusi seringkali berubah menjadi “ruang gema” (echo chamber), di mana orang hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar.

Logika sebagai Fondasi: Tanpa kaidah logika yang kuat seperti ilmu Manthiq dalam tradisi pesantren atau Critical Thinking dalam sains modern, maka diskusi ini hanya menjadi perdebatan sia-sia.

Retorika sebagai Jembatan: Retorika yang santun dan logis berfungsi untuk meruntuhkan ego lawan bicara tanpa harus merendahkan pribadinya.

Seiring terjadinya perang di Timur tengah yang sangat membara , kita sebagai para penuntut ilmu juga di tuntun untuk menyala sebagaimana kondisi sekarang. Salah satunya dalam hal kritis logika.

Biasanya di media sekarang banyak tersebar isu-isu peperangan yang tidak sesuai terjadi di lapangan. Hal ini menuntun kita untuk berpikir kritis dan harus berhati-hati dalam menyaring berita. Di mana telah banyak tersebar berita-berita hoax yang membuat orang menyakininya dari akun media sosial yang tidak real kredibilitasnya.

Sebagai penuntut ilmu yang berjiwa kritis, kita dituntut untuk memiliki “resistensi logika”. Resistensi ini hanya bisa didapatkan jika kita mempraktikkan pola logika yang benar dan terstruktur—sebagaimana kaidah dalam Bahtsul Masail yang selalu mengembalikan persoalan pada teks primer (nash) dan konteks yang relevan (waqi’iyyah). Tanpa itu, kita hanya akan menjadi pion dalam papan catur propaganda global yang dipenuhi dengan berita palsu (hoax).

Perang logika juga dinamakan dengan kebebasan berekspresi atau kebebasan berpendapat. Namun dibalik kebebasan tersebut juga terdapat tata cara tertentu yang telah di tetapkan. Tapi sekarang banyak orang salah memaknai kebebasan tersebut dengan cara semena-mena. Hal ini sangat berbahaya jika lahir oknum-oknum yang lebih mengedepankan retorika ketimbang logika dan pengetahuan.

Retorika tidaklah salah, namun lebih cocok untuk beretorika disaat ilmu sudah benar-benar matang. Karena retorika sering di anggap sebagai estetika dari sebuah gagasan (pengetahuan). Jika retorikanya bagus tapi isinya kosong, maka dianggap sebagai omong kosong. Sebaliknya, jika logika dan pengetahuannya sangat berbobot tapi retorikanya tidak bisa dipahami oleh orang lain, maka hal ini juga tidak dapat berfungsi secara sinkron.

Oleh karena itu penting bagi kita penuntun ilmu untuk menyeimbangkan antara logika (pengetahuan) dan retorika agar sampai kepada tujuan yang dimaksudkan.

Salah satu tantangan terbesar dalam perang logika sekarang adalah perubahan standar kebenaran. Dahulu, kebenaran yang hasilnya dari sebuah gagasan diukur melalui kedalaman ilmu dan validitas metodologi. Namun, di era digital sekarang kebenaran seringkali dikalahkan oleh jumlah pengikut (followers) dan tingkat keterlibatan (engagement). Fenomena ini menciptakan bias konfirmasi, di mana individu hanya mencari pembenaran atas egonya sendiri, bukan mencari kebenaran secara objektif.

Retorika dalam Islam sering dikaitkan dengan konsep Balaghah, yaitu kemampuan menyampaikan sesuatu sesuai dengan kondisi pendengar (لكل مقام مقال). Di sini, retorika bukan sekadar teknik persuasi untuk memenangkan perdebatan, melainkan bentuk pengabdian (khidmat) agar ilmu yang bermanfaat bisa meresap ke hati masyarakat.

Jika seorang intelektual hanya memiliki logika yang kaku tanpa kemampuan retorika yang inklusif, maka ruang publik akan diisi oleh para orator yang pandai berbicara namun dangkal ilmunya. Sinkronisasi antara keduanya merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat dipisahkan. Logika memberikan bobot, sedangkan retorika memberikan daya pikat.

Perang logika di era digital menjadi salah satu ujian bagi integritas seorang penuntut ilmu. Kebebasan berpendapat yang tidak dibarengi dengan kedalaman ilmu hanya akan melahirkan kerancuan pemikiran. Dengan menggabungkan ketajaman logika dan keindahan retorika, kita tidak hanya menjadi penonton dalam sejarah, tetapi menjadi penggerak perubahan yang mampu meluruskan narasi-narasi bengkok demi kemaslahatan bersama.

Dengan demikian, tugas kita bukan hanya menjadi perpustakaan berjalan yang penuh dengan logika, tetapi juga menjadi komunikator ulung yang mampu meluruskan kekacauan informasi. Dengan menyeimbangkan bobot pengetahuan dan keindahan retorika, kita dapat menciptakan iklim diskusi yang mencerahkan, bukan memperkeruh suasana.

Previous Post

Al-Farlaky Dialog dengan Warga Pelalu, Soroti Lambannya Progres Huntara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

[Opini] Sinkronisasi Antara Logika & Retorika

[Opini] Sinkronisasi Antara Logika & Retorika

29/03/2026
Al-Farlaky Dialog dengan Warga Pelalu, Soroti Lambannya Progres Huntara

Al-Farlaky Dialog dengan Warga Pelalu, Soroti Lambannya Progres Huntara

29/03/2026
Wabup Muchsin Melaksanakan Monitoring Ke 2 Titik Perbaikan Jalan Celala

Wabup Muchsin Melaksanakan Monitoring Ke 2 Titik Perbaikan Jalan Celala

29/03/2026
Sriwijaya FC Kalah Tipis 2-1 dari Persiraja Banda Aceh

Sriwijaya FC Kalah Tipis 2-1 dari Persiraja Banda Aceh

29/03/2026
Pemkab Aceh Besar Matangkan Usulan Formasi ASN 2026

Pemkab Aceh Besar Matangkan Usulan Formasi ASN 2026

29/03/2026

Terpopuler

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

27/03/2026

Truk Hauling LKT Hantam Becak Motor, Satu Nyawa Melayang

Teungku Muhammad Nur: Aktivis Dayah Jadi Direktur di PT PEMA

[Opini] Sinkronisasi Antara Logika & Retorika

Prof Saifullah Resmi Mendaftar sebagai Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com