BANDA ACEH – Sejumlah anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) Pase mengaku gerah dengan kepemimpinan Zulfadli alias Abang Samalanga di kursi Ketua DPR Aceh. Pasalnya, sosok tersebut dinilai kurang peka dengan aspirasi para kombatan di lapangan. Baik terkait soal pemberdayaan ekonomi para kombatan, penguatan ekonomi masyarakat maupun butir-butir MoU Helsinki yang tak kunjung terealisasi.
Hal ini disampaikan sejumlah anggota KPA seusai menghadiri doa bersama di komplek Makam Wali Nanggroe Hasan Tiro di Meureu, Kabupaten Aceh Besar.
“Alokasi anggaran untuk pemberdayaan anggota KPA nyaris tidak ada. Pase (Aceh Utara-red) sebagai mesin utama pemenangan Mualem juga ditinggalkan. Buktinya dalam APBA dua tahun terakhir, sangat sedikit untuk Aceh Utara,” kata salah seorang anggota KPA Pase, Minggu 29 Maret 2026.
“Soal MoU Helsinki juga hana mau diperjelas. Padahal nyan marwah ureung GAM. Hoe ta mee muka teuk (mau dibawa kemana muka-red.”
“Si Abang (Ketua DPRA-red) ka rap 3 thon sebagai ketua. Tapi ta WA hana dibalas. Ta telepon hana diangkat. Tajak bak DPRA, sabee hana jih di ruangan. Kiban cara ta komunikasi. Watee ta peugah bak Mualem, dipeugah sedang diadu-domba,” katanya.
“Kamoe preh preh na di acara Meureu (doa bersama-red), tapi hana dijak,” ujar sosok yang dikenal dekat dengan Mualem ini lagi.
Sebelumnya, ribuan eks pejuang Aceh Merdeka dari wilayah Samudera Pasee, Kuta Pase, dan Aceh Rayeuk menggelar ziarah akbar ke makam Hasan Muhammad di Tiro, deklarator Gerakan Aceh Merdeka, serta makam Pahlawan Nasional Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman di Gampong Meureue, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh penting dari kalangan eks kombatan dan elite politik Partai Aceh. Tampak hadir Ketua KPA Wilayah Samudera Pasee Pon Yaya, Ketua KPA Wilayah Kuta Pase Ableh Kandang, Ketua KPA Wilayah Aceh Rayeuk Aduen Muchlis, serta para petinggi KPA/Partai Aceh.
Selain itu, turut hadir Anggota DPRA Muharuddin, Ketua DPRK Aceh Utara Arafat Ali, Anggota DPRK Aceh Utara Tajuddin, dan para anggota legislatif lainnya, Wakil Bupati Aceh Utara Tarmizi Panyang, serta Wakil Wali Kota Lhokseumawe Saini Pom bersama eks pejuang GAM lainnya.
Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah anggota DPR Aceh, tetapi minus Ketua DPR Aceh Zulfadli atau Abang Samalanga. Sebelum acara, para anggota KPA berharap pertemuan di Meureu bisa menjadi ajang kesah anggota KPA dengan sesama, termasuk mereka yang saat ini mengemban amanah sebagai pimpinan public di Aceh.
“Ternyata hana dijak (Abang Samalanga-red),” ujar anggota KPA dari Pase.
“Kamoe preh Mualem untuk merumpok langsung,” kata dia.
Ziarah sendiri berlangsung khidmat dengan rangkaian doa bersama di pusara tokoh-tokoh penting Aceh tersebut. Namun, momen paling mencolok terjadi ketika ribuan eks kombatan yang merupakan mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka menggelar prosesi sumpah massal.
Dalam prosesi tersebut, para peserta berdiri rapat sambil bergandengan tangan sebagai simbol solidaritas. Dua orang di barisan terdepan memegang Al-Qur’an sebagai landasan sumpah, sementara seorang pemandu memimpin pembacaan ikrar yang diikuti secara serempak oleh seluruh eks kombatan.
Sumpah yang diucapkan berisi komitmen untuk terus memperjuangkan hak-hak Aceh serta menuntut pemenuhan kewajiban Pemerintah Indonesia sebagaimana yang telah disepakati dalam MoU Helsinki.
Di Meureu, Ketua Partai Aceh Pang Joni menyampaikan bahwa jajaran eks KPA harus bersatu dan tidak tercerai-berai. Ia juga mengingatkan tentang kekompakan jajaran KPA Pasee yang mampu menangkan Mualem sebagai gubernur dengan perolehan suara 83 persen di Aceh Utara.

“Di media-media disampaikan bahwa, kunci kemenangan Gubernur Aceh Mualem adalah Pase… sebesar 83 persen. Ini adalah bukti bahwa kami wilayah Pasee sangat kompak,” tutur Pang Joni.
Sementara itu, di tempat yang sama, Bendahara KPA Wilayah Kuta Pase, M Yasir Umar, menyebut kegiatan ini sebagai refleksi atas perjalanan panjang perjuangan Aceh.
“Ziarah ini mengingatkan kami pada jasa para pendahulu dan menjadi refleksi atas fondasi perjuangan yang telah dibangun,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh anggota KPA untuk mengisi masa damai dengan kontribusi nyata dalam pembangunan Aceh, terutama di bawah kepemimpinan Muzakir Manaf.
Ketua KPA Wilayah Aceh Rayeuk, Mukhlis Basyah, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap ziarah serupa dapat terus dilakukan oleh seluruh wilayah KPA.










