NAGAN- Kurang lebih tiga bulan telah berlalu sejak Provinsi Aceh diterjang bencana alam banjir bandang. Namun, 220 murid SD dan SMP di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya hingga saat ini masih belajar di bawah tenda darurat.
“Alhamdulillah, meski terdampak banjir, para siswa di Beutong Ateuh tetap bersekolah meski di bangunan darurat,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Zulkifli pada Jumat (3/4/2026), dilansir ANTARA.
Mereka terdiri dari 55 siswa laki-laki dan 68 siswa perempuan SDN 1 Beutong Ateuh Banggalang. Serta, 54 siswa laki-laki dan 43 siswa perempuan SMPN Beutong Ateuh.
Menurut Zulkifli, pemerintah daerah mengupayakan fasilitas sekolah darurat agar pendidikan tidak terhenti karena gedung sekolah lama sudah tidak dapat digunakan.
Sesuai instruksi langsung dari Bupati Nagan Raya, Aceh, Dr Teuku Raja Keumangan. Lokasi pembelajaran para murid SMP tersebut harus dipindahkan sepenuhnya karena bangunan sekolah yang lama sudah tidak layak atau hancur.
Pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) setempat untuk menggunakan gedung milik dinas tersebut yang sedang tidak terpakai.
“Di SMP ini kan tidak ada lagi bangunannya, jadi dipindah ke lokasi lain. Kami sudah meminta izin pakai ke Disperindagkop Nagan Raya dan alhamdulillah direspons baik oleh kepala dinasnya Pak Samsuar,” tambah Zulkifli.
Zulkifli menyebut mayoritas guru yang mengajar adalah putra-putri asli Beutong Ateuh Banggalang sehingga dapat beradaptasi di sekolah darurat dengan lancar.
Kurikulum yang dipelajari pun tetap reguler Di samping itu para siswa mendapatkan pendampingan khusus dari kalangan mahasiswa hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk memulihkan kondisi psikologis mereka pascabencana.
“Banyak pihak yang memberikan semangat, seperti program trauma healing dari mahasiswa dan LSM. Alhamdulillah, kondisi anak-anak sekarang sudah ceria kembali dan bisa menerima keadaan yang ada saat ini,” ucap Zulkifli.
Lebih lanjut, Zulkifli menuturkan, dua unit sekolah akan dibangun kembali oleh pemerintah pusat pada 2026. Kepastian tersebut diperoleh setelah tim dari Kemendikbud Republik Indonesia berkunjung ke Kabupaten Nagan Raya untuk melakukan survei dan pendataan ke lokasi sekolah yang rusak.
“Insya Allah, jika tidak ada halangan, tahun 2026 ini dua sekolah yang rusak akibat bencana hidrometerologi tahun lalu akan di bangun pemerintah pusat,” ujar Zulkifli.










