BANDA ACEH — Malam sastra Puitika Tanah Rencong yang menghadirkan sastrawan nasional Taufik Ismail berlangsung sukses, khidmat, dan menggugah di kawasan bersejarah Taman Sari Gunongan, Senin (27/4/2026) malam.
Acara yang dihadiri pegiat literasi, dan masyarakat umum itu menjelma menjadi ruang pertemuan antara sejarah, sastra, dan spiritualitas. Sejak awal, suasana terasa hidup ketika Taufik Ismail membuka pembacaan puisinya dengan sapaan hangat, sebelum membawa hadirin menyelami jejak panjang kesusastraan Aceh.
Dalam pembacaan puisinya, ia menyinggung karya-karya besar Aceh seperti syair Hamzah Fansuri hingga Hikayat Perang Sabi, karya monumental Tengku Syik Pantai Kulu. Ia menyebut karya tersebut sebagai puisi panjang yang hidup di hati rakyat dan telah menjadi penggerak perlawanan terhadap kolonialisme selama puluhan tahun.
“Sulit ditemukan padanannya dalam kesusasteraan negeri mana pun,” ungkapnya dalam bait puisi yang disambut tepuk tangan hadirin.
Tak hanya mengangkat sejarah perlawanan, Taufik Ismail juga menghadirkan refleksi religius yang mendalam. Melalui metafora setetes air di ujung jari dibanding luasnya samudera, ia menggambarkan betapa kecilnya arti dunia dibanding kehidupan akhirat—pesan yang membuat suasana semakin hening dan penuh perenungan.
Malam sastra tersebut juga semakin semarak dengan partisipasi para penyair Aceh. Sejumlah nama turut membacakan puisi di antaranya LK Ara, Fikar W Eda, Salman Yoga, Wina SW1, dan Juliana Ibrahim. Selain itu, suasana semakin hidup melalui penampilan musikalisasi puisi oleh Devi Matahari bersama Rahmad Sanjaya yang memadukan kekuatan kata dengan harmoni musik.
Nuansa historis Taman Sari Gunongan berpadu dengan lantunan puisi dan getaran nilai-nilai spiritual, menjadikan malam itu bukan sekadar pertunjukan sastra, tetapi juga ruang refleksi kolektif tentang identitas dan jati diri Aceh.
Di penghujung acara, Taufik Ismail mengungkapkan kerinduannya untuk kembali membacakan puisi di Tanah Rencong, sebelum menyerahkan panggung kepada para penyair lokal Banda Aceh.
Panitia menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta yang memadati lokasi hingga akhir acara. Mereka berharap Puitika Tanah Rencong dapat terus digelar sebagai panggung sastra yang merawat ingatan, memperkuat literasi, dan menjaga denyut kebudayaan Aceh.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 22.30 WIB itu pun ditutup dengan suasana hangat dan penuh inspirasi—menandai suksesnya sebuah malam ketika puisi tidak hanya dibacakan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat perlawanan, keimanan, dan kecintaan pada Tanah Rencong.[]










