BANDA ACEH — Pemerintah Aceh menargetkan kebangkitan kembali forum penyair antarnegara sebagai bagian dari strategi mengangkat Aceh ke panggung sastra dunia. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, dalam gelaran Puitika Tanah Rencong bersama penyair nasional Taufiq Ismail, Selasa (28/4/2026).
Menurut Dedy, pengalaman Aceh menjadi tuan rumah Temu Penyair Internasional 2016 yang menghadirkan 120 penyair dari delapan negara menjadi fondasi kuat untuk menghidupkan kembali jejaring sastra lintas negara.
“Kami berharap momentum temu penyair internasional 2016 dapat kita ulangi kembali, agar Aceh kembali menjadi panggung pertemuan penyair dunia,” ujarnya.
Ia menegaskan, forum antarnegara bukan sekadar ajang pertemuan, tetapi ruang diplomasi budaya yang mampu memperkenalkan identitas Aceh ke dunia melalui puisi dan karya sastra.
Dalam acara tersebut, hadir pula sastrawan nasional Taufik Ismail yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam menghubungkan sastra Aceh dengan panggung nasional hingga global.
Selain mendorong forum internasional, Disbudpar juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor, termasuk sinema, untuk mengangkat karya sastra Aceh ke level yang lebih luas.
Dedy menambahkan, pengakuan dunia terhadap warisan budaya Aceh oleh UNESCO menjadi modal penting dalam memperkuat posisi Aceh dalam jaringan budaya global.
“Ini bukan hanya soal acara, tapi bagaimana Aceh menjadi simpul pertemuan budaya dunia,” tegasnya.
Melalui Puitika Tanah Rencong, pemerintah berharap lahir kembali semangat kolaborasi antar penyair lintas negara sekaligus memperkuat peran Aceh sebagai pusat literasi dan kebudayaan di tingkat internasional.[]











