BANDA ACEH – Semangat pelestarian budaya Aceh bergema dari Gedung Tertutup Taman Seni dan Budaya Aceh ketika puluhan pelajar SMP dan SMA yang tergabung dalam Grup Ratoh Junior Sanggar Seueng Samlakoe tampil memukau di hadapan penonton. Penampilan tersebut menjadi simbol lahirnya generasi baru penjaga Seni Ratoh sekaligus bagian dari upaya membawa warisan budaya Aceh memasuki era digital.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) yang didanai DRTPM BIMA Kemdiktisaintek dengan tema “Transformasi Pertunjukan Seni Ratoh ke Platform Digital sebagai Strategi Menyelamatkan Seni Tradisi Aceh dari Kepunahan.”
Ketua program, Dr. Zahraini, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan minat generasi muda menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan Seni Ratoh. Karena itu, pelestarian harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih relevan.
“Program ini bertujuan mendukung pelestarian dan pengembangan Seni Ratoh sebagai warisan budaya Aceh yang memiliki nilai seni, pendidikan, dan identitas budaya yang tinggi. Transformasi ke platform digital diharapkan mampu memperluas jangkauan sekaligus menarik minat generasi muda,” ujarnya.
Melalui program tersebut, tim UBBG melakukan dokumentasi digital pertunjukan, publikasi melalui media sosial dan website, pembuatan konten edukatif, hingga pengembangan media promosi berbasis teknologi informasi agar Seni Ratoh semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Program ini juga melibatkan Sanggar Seni Seueng Samlakoe dalam pembinaan Grup Ratoh Junior serta menggandeng Majelis Seniman Aceh (MaSA) sebagai mitra pelestarian budaya. Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, seniman, dan masyarakat diharapkan melahirkan model pelestarian budaya yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai tradisinya.
Rektor UBBG, Prof. Dr. Lili Kasmini, S.Si., M.Si., menyambut baik pelaksanaan Program Inovasi Seni Nusantara. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat karakter mahasiswa, tetapi juga mengangkat marwah kebudayaan Aceh.
“UBBG memiliki Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh yang memang berkomitmen menjaga dan mengembangkan budaya daerah. Kami berharap kolaborasi seperti ini terus berlanjut dan Seni Ratoh dapat tampil pada berbagai ajang nasional hingga internasional,” katanya.
Apresiasi juga datang dari Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh, Piet Rusdi, S.Sos. Ia menilai UBBG sebagai kampus yang mampu menerjemahkan gagasan pelestarian budaya menjadi aksi nyata.
“Ke depan kami berharap kolaborasi antara Balai Pelestarian Kebudayaan dan UBBG semakin kuat untuk bersama-sama menjaga keberlanjutan kebudayaan Aceh,” ujarnya.
Penampilan enerjik para pelajar malam itu menjadi bukti bahwa Seni Ratoh masih memiliki masa depan. Dengan sentuhan teknologi, dukungan perguruan tinggi, dan kolaborasi berbagai pihak, warisan budaya Aceh diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menembus panggung dunia.[]









