BANDA ACEH – Suasana Lomba Bertutur Sejarah yang digelar Komunitas Seuramoe Heritage berlangsung penuh penghayatan. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah dari Teuku Mahadiradja Rizki El-Sinki yang membawakan puisi berjudul “Aceh, Tanah yang Tak Pernah Diam.”
Dengan pembawaan yang kuat dan penuh ekspresi, Rizki mengajak penonton menyelami perjalanan panjang Aceh. Lewat bait-bait puisinya, ia mengangkat kejayaan kesultanan, perjuangan ulama dan pejuang, hingga jejak para pendahulu yang membentuk identitas Aceh.
Setiap bait disampaikan dengan intonasi dan gestur yang tegas, menegaskan bahwa sejarah Aceh bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan yang terus hidup dan relevan bagi generasi hari ini.
Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa bertutur sejarah tidak harus selalu lewat narasi konvensional. Puisi mampu menghadirkan suasana, emosi, dan pesan sejarah secara lebih dekat, terutama bagi generasi muda.
“Generasi muda perlu memiliki kedekatan dengan sejarah daerah agar tidak kehilangan akar identitas di tengah perkembangan zaman,” ujar Rizki.
Melalui puisi “Aceh, Tanah yang Tak Pernah Diam”, ia berpesan agar sejarah tidak berhenti sebagai catatan dalam buku, tetapi terus hidup dalam ingatan dan kesadaran kolektif. Aceh digambarkan sebagai tanah yang dinamis, penuh perjuangan, perubahan, dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Penampilan Rizki pun mendapat apresiasi dari peserta dan penonton yang hadir. Panggung Bertutur Sejarah menjadi ruang kreatif bagi anak muda untuk menyampaikan kembali kisah Aceh melalui sastra dan ekspresi budaya.
Kegiatan Bertutur Sejarah Seuramoe Heritage sendiri diharapkan menjadi ruang untuk mendekatkan kembali sejarah Aceh kepada masyarakat, sekaligus menumbuhkan kepedulian untuk merawat warisan budaya yang ada.









