“Pakwa, kau salah paham. Aku sama sepertimu, aku juga diundang untuk bertamu ke sini malam ini,” ujar Mustafa.
Ia masih mencoba menenangkan diriku sambil melepas diri dari cengkraman.
“Kita berempat malam ini sama-sama diundang ke sini. Setidaknya, hingga malam ini, kami belum memutuskan untuk bergabung atau tidak,” ujarnya kemudian.
“Kenapa kau mengiringku kemarin? Bukankah kalian sama dengan menjebakku?”ujarku lagi.
Mustafa mundur. Ia melirik Rusli yang sejak tadi lebih banyak memilih diam. Seolah ia meminta Rusli ikut berbicara.
“Aku tahu Pakwa. Kau sangat tak puas dengan kondisi Aceh hari ini. Kami juga tahu dengan kemampuanmu mengatur Tentara Nanggroe sebelum damai terjadi. Dengan kemampuan pas-pasan Mualem saat ini, 100 persen, kuyakin cita-cita perjuangan kita tak akan tercapai,” kata Rusli.
Perkataannya begitu menohok. Aku seperti disiram bensin di kepala.
“Tapi aku tak pernah berencana melawan komando. Apalagi melawan Mualem,” ujarku kemudian.
“Pernah,” kata Mustafa tiba-tiba.
Aku melirik ke arah Mustafa. Ia begitu yakin bahwa aku juga pembangkang seperti mereka.
“Pilkada Lhokseumawe di 2007,” ujar Mustafa lagi sambil mengungkit ‘dosaku’ di masa lalu.
Perkataan Mustafa ini bagai petir di kepalaku. Aku terdiam lama. Kakiku tiba-tiba terasa lemah. tanganku menggenggam erat sudut meja guna menompang tubuh.
“Itu beda. Aku melawan putusan wilayah tapi bukan putusan komando. Aku menerima peunutoh yang berbeda dengan wilayah,” jawabku kemudian.
“Itu peunutoh Mualem. Meski tak pernah diakui,” kataku lagi pelan. Sesuatu yang berat untuk kukatakan.
“Aku cuma pion.”
Mendengar hal ini, Mustafa seperti sedang memegang kartu AS-ku. Ia seperti hendak memegang kendali pertemuan malam ini.
“Tapi yang kami tahu, kaulah yang memimpin sebahagian eks Tentara Nanggroe untuk menentang keputusan wilayah. Kau orang lapangan-nya. Karena keputusan tersebut, kau dan pasukan itu dicap pengkhianat oleh wilayah,” ujar Mustafa.
Perkataannya seperti menusuk ribuan jarum di tubuhku.
“Terlepas benar atau tidak, apakah kau setuju dengan cara-cara peunutoh seperti itu? Apakah kau tahu Pakwa, ada banyak orang-orang sepertimu di barisan Tentara Nanggroe sekarang. Menerima peunutoh dan kemudian disingkirkan setelah dipakai. Kau mungkin bisa menerimanya, tapi aku tidak,” kata Mustafa.
“Aku tak ingin lagi, ada satupun Tentara Nanggroe, jadi korban untuk meraih kekuasaan elit GAM,” kata dia.
[Bersambung]
Baca juga:
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)






![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)


![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-350x250.jpeg)