Usai kehebohan yang aku buat, para Maba disuruh duduk oleh panitia. Acara beralih ke seremonial penyambutan. Sesi acara mulai memperkenalkan kampus dan seluk beluk perkulihan.
Sedangkan kami, para senior dari sesi keamanan, turun panggung dan memantau dari bawah. Sesekali, pandanganku menyorot keberadaan Caping “Milik Gusti” diantara kerumunan Maba. Caping itu terlihat mencolok. Entah kebetulan atau tidak, pandangan Rindu juga mengarah ke tempatku. Saat pandangan kami beradu, ia terlihat kelabakan dan kembali tertunduk malu. Maba polos itu ternyata diam-diam memperhatikanku usai kehebohan tadi.
Melihat hal ini, aku tersenyum penuh kemenangan.
“Hei Gus. Itu ulahmu ya,” ujar seseorang tiba-tiba sambil menepuk bahu kiriku dari arah belakang. Aku menoleh dan ternyata sosok itu adalah Henky. Teman se-angkatan dan sahabat karibku sejak menempuh Pendidikan di Fakultas Hukum. Henky berpostur kurus dengan rambut cepat. Wajahnya lumayan serta sama sama berasal dari Yogyakarta.
Berbeda dengan Henky, rambut-ku sedikit gondrong untuk lelaki. Namun aku lebih tinggi beberapa senti darinya. Aku berteman dengannya, selain karena ia baik, keberadaannya juga tak menutup pesonaku.
Henky menunjuk ke arah Caping ‘Milik Gusti’ sambil tersenyum lebar. Sedangkan aku cuma mengangguk sambil tetap bersikap cuek. Kedua tangan bersilang di dada.
“Tahu aja loe, bibit unggul,” ujarnya kemudian.
“Ini tanda khusus. Biar senior lain tahu diri dan mundur teratur,” kataku sambil tersenyum.
“Barang bagus, kalau tak ditandai dengan jelas, akan banyak orang yang mengincar. Itu pandangan para Maba lelaki, selaku mengarah ke dia dari tadi pagi. Untung para senior banyak yang belum ke kampus tadi pagi. Makanya ku stempel terus,” ujarku lagi.
Henky mengangguk. “Sepakat,” kata dia.
Suara mikrofon tiba tiba terdengar dari arah panggung. Suasana berubah hening. Moderator mempersilahkan dekan untuk tampil guna memberi sambutan.
Melihat hal ini, aku meminta Henky untuk duduk bersila di tempat. Kemudian mengangkat telunjuk ke depan hidung sebagai isyarat agar Henky diam. Pasalnya, dekan sangat membenci mahasiswa yang berbicara saat ia sedang berpidato.
Dekan naik ke panggung. Ia terlihat piawai merangkai kata demi kata. Sesekali, kami menepuk tangan keras saat Dekan berbicara soal kehebatan Fakultas Hukum. Ia berbicara hampir 30 menit tanpa jeda dan minum.
“Tak semua orang bisa masuk ke sini. Jadi, kalian adalah orang-orang pilihan. Dari seluruh Indonesia, hanya kalian yang lolos ke Fakultas Hukum UGM,” ujar Dekan di akhir pidatonya. Suara tepukan tangan serentak terdengar dari yang hadir.
Pandangan dekan terlihat menyorot para Maba. Matanya tiba tiba terhenti ke arah bagian belakang Maba perempuan. Aku tiba-tiba punya firasat tak enak.
“Itu, yang pakai caping Milik Gusti. Coba bangun,” kata Dekan dari atas panggung.
Henky tertawa lepas sambil memegang perut. Wajahku merah padam. Beberapa panitia menolek ke arahku sambil tersenyum. Tawa meledak dari arah Maba.
[Bersambung]
Baca Juga:
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)


![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)





