Takdir dan Awal Baru
UGM, Yogyakarta, September 2025
GEDUNG Law Learning Center (LLC) mulai riuh sejak pagi. Di bagian depan bertuliskan Fakultas Hukum. Puluhan wajah baru mulai memadati halaman dengan tubuh pasrah. Mereka memakai baju putih dan rok panjang berwarna hitam. Ada beberapa perempuan yang juga memakai jilbab putih.
Mereka para Maba atau mahasiswa baru. Keberadaan mereka identic dengan caping di atas kepala. Ini berupa topi anyaman bambu berbentuk kerucut khas petani. Atribut ikonik ini menjadi hal yang wajib dimiliki oleh mahasiswa baru (Gamada) saat mengikuti orientasi PIONIR Gadjah Mada di UGM.
Mataku menyorot satu persatu para Maba ini. Di area lelaki, rata-rata bertubuh gembul, berkaca mata, serta kulit sawo matang. Ini tampilan ikonik para kutu buku. Hanya ada beberapa pria bertampang lumayan tapi tinggi pas-pasan di sana.
“Bukan ancaman berarti,” gumamku.
Mataku kemudian beralih ke arah perempuan muda. Rata rata berwajah polos tanpa make up. Aku mengiliminasi hampir setengah dari ‘calon target.’ Kemudian setengah lagi terlihat bertubuh proposional dengan kulit putih tapi tingginya rata-rata di bawah satu meter.
Kepalaku secara tak sadar menggeleng. Pilihan kini tinggal belasan dari ‘calon target.’ Kriteriaku sendiri adalah perempuan berkulit putih atau minimal sawo matang, tinggi serta berpostur ramping.
Saat sedang menyensor, pandangan-ku tiba-tiba menyorot seorang Maba manis di barisan belakang kiri. Postur tubuhnya cukup tinggi hingga terlihat menonjol di antara para Maba perempuan lainnya. Tapi wajahnya sedikit tertutup Caping dari arah depan.
Aku bergegas ke arahnya. Beberapa Maba terlihat histeris saat melihatku. Bola mata mereka bergerak mengikuti langkahku hingga ke area belakang.
“Hei,” ujarku tiba-tiba dengan nada sedang. Perkataanku membuat suasana yang tadinya riuh berubah hening. Para Maba serentak terdiam.
Aku kembali mendekat hingga kini berjarak kurang dari satu meter dari perempuan ‘pilihan’ tadi. Dari arah dekat, posturnya terlihat jauh lebih menonjol. Wajahnya berparas timur tengah, putih tanpa jerawat. Bulu matanya melengkung dan panjang.
“Ini mah spek bidadari,” gumamku dalam hati. Aku menelan ludah. “Tipe cewek idaman.”
Sang Maba tadi terlihat kelabakan. Ia mencoba tersenyum ke arahku. “Saya kak?”ujarnya memastikan.
“Ya, kamu. Namamu siapa,”tanyaku kemudian dengan nada santai. Aku mencoba menunjukan sisi senioritasku atas junior baru. Pandangan seluruh Maba kini tertuju pada kami.
“Saya Rindu, kak,” ujarnya kemudian. Perkataannya membuat suasana riuh seketika.
“Saya tahu kamu rindu saya, tapi tolong lihat situasi. Ini kita sedang di tempat umum,” ujarku kemudian.
Suara ledakan tawa terdengar dari seluruh mahasiswa. Wajah Sang Maba tadi langsung merona. Ia menundukan kepala.
[Bersambung]
Baca Juga
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 10
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)


![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)





