Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 15

redaksi by redaksi
15/10/2026
in Cerbung
0
Sang Kombatan [Jilid 2]

Dari arah belakang panggung, aku mengangkat tangan. Dekan jelas-jelas sedang mencari gara-gara denganku. Kami sudah sering berinteraksi selama ini. Keaktifanku di lembaga mahasiswa dan perwakilan angkatan, membuat kami bertemu. Dalam pertemuan sebelumnya, ia mengingat jelas nama dan wajahku.

Aku berdiri dan melangkah ke depan Maba. Henky masih terus tertawa melihat sosokku yang salah tingkah. Di area bawah panggung, hanya aku dan Rindu yang berdiri.

“Saya pak,” ujarku sambil mendekat di sisi kiri panggung. Dekan mengamatiku di atas sambil tersenyum.

“Sepertinya Gus. Calon mertuamu itu bukan orang sembarangan. Mulai sekarang, bapak sarankan, kamu mulai rajin olahraga. Latihan karate atau silat. Badanmu yang kurus itu akan langsung tewas jika dipukul calon mertua karena menyakiti Rindu,” ujar Dekan kemudian.

Suara tawa langsung pecah dari yang hadir. Sedangkan aku dan Rindu pucat basi. Aku mencoba tersenyum tapi berharap aksi usil dekan segera berlaku.

“Bung Gusti. Sepertinya targetmu kali ini sangat berat,” katanya lagi dengan pengeras suara.

Dekan kemudian terdiam. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Tangan kanannya memberi isyarat agar suasana kembali tenang.

“Karena Rindu sudah diklaim milik Gusti. Bapak berharap para senior lain, jangan coba-coba berebut. Bapak mau lihat, sebesar apa tekad Gusti menaklukan srikandi kita dari Aceh,” ujar dekan lagi usil. Pernyataan dekan diiringi sorak dari yang hadir. Termasuk Henky.

“Rindu. Kalau Gusti ternyata cuma main main. Kamu telepon orangtuamu suruh ke Yogya ya,” kata dekan.

Kali ini wajah Rindu justru terlihat bermimik serius. Dari arah depan, Rindu justru mengangguk hingga tawa yang hadir kembali terdengar. Tubuhku seperti diguyur air es. Dingin dan kaku. Aku tak menyangka dekan mengusili-ku sedemikian rupa di depan semua yang hadir.

Aku berharap aksi dekan itu segera berakhir. Tetapi Pak Tua itu sepertinya masih pemanasan.

“Anak-anak. Coba lihat tampang senior kalian ini, Gusti. Tinggi dan lumayan ganteng-kan? Persis seperti bapak waktu muda dulu. Nilai akademik dan kemampuan organisasinya juga lumayan. Ini asset penting dari Fakultas Hukum,” kata dekan lagi sedikit memuji. Namun aku yakin, sayapan kalimat berikutnya pasti lebih parah. Mahasiswa biasa mungkin sudah pingsan sejak tadi.

“Tapi berhubung yang bersangkutan sudah memilih Rindu. Maka kalian harus berlapang dada untuk melepasnya pulang ke Aceh,” ujar dekan kemudian. Tawa dan sorakan kembali terdengar. Bagiku ini bukan pujian tapi cara dekan mengubah suasana menjadi lebih hidup. Sayangnya, aku adalah kelinci Pak Dekan.

“Sudah. Kalian berdua silahkan duduk. Nanti yang kurang dibicarakan berdua saja. Bapak mendukung,” ujarnya sambil menutup sambutan.

Tepuk tangan, siulan serta sorakan kembali terdengar. Pak Dekan memang piawai mengambil hati pendengar. Jika jadi politisi, ia pasti memiliki pengaruh besar.

Aku mengangguk sambil mengamati Rindu. Entah kenapa, hatiku berdetak kencang. Aku justru berharap doa dari dekan dan lelucon hari ini menjadi nyata di masa depan.

“Apa artinya GAM. Tentara Mongol menyerbu-pun akan kutantang,” gumamku dalam hati.

“Aku, Gusti, memang lahir dan besar di Yogya. Tapi sejarah mencatat bahwa cinta abadi bisa meruntuhkan tembok Berlin. Apalagi hati seorang calon mertua dari Aceh.”

Aku menatap Rindu. Matanya tiba-tiba kembali melihat ke arahku. Ia kembali terlihat salah tingkah dan kelabakan. Tangan kananku kemudian menunjuk ke arahnya. “Suatu saat, kau menjadi milikku,” gumamku dalam hati sambil tersenyum. Aku menepuk dada dan balik badan ke arah Henky.

[Bersambung]

Baca Juga:

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 11

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 12

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 13

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 14

 

Tags: Musa AMsang kombatanSang kombatan jilid 2
Previous Post

DTSEN Pidie Jaya Catat 52.866 KK, Sebanyak 3.284 KK Belum Punya Desil

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Sang Kombatan [Jilid 2]

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 15

15/10/2026
DTSEN Pidie Jaya Catat 52.866 KK, Sebanyak 3.284 KK Belum Punya Desil

DTSEN Pidie Jaya Catat 52.866 KK, Sebanyak 3.284 KK Belum Punya Desil

14/10/2026
Pemilik Teras Kupi Blangpidie Salurkan Zakat Lewat Lazismu Abdya

Pemilik Teras Kupi Blangpidie Salurkan Zakat Lewat Lazismu Abdya

14/10/2026
Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]

Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 2]

14/10/2026
Pemkab Bengkalis Ajak Masyarakat Aceh Perkuat Ukhuwah dan Berkontribusi Bagi Daerah

Pemkab Bengkalis Ajak Masyarakat Aceh Perkuat Ukhuwah dan Berkontribusi Bagi Daerah

14/10/2026

Terpopuler

Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]

Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]

14/10/2026

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 15

Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 2]

Bupati Tembus Bappenas, SKPK Pidie Jaya Kembali Usulkan Revisi R3P

Harga Emas Antam Bertengger di Rp2,574 Juta per Gram Hari Ini

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com