TAKENGON: Bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dalam setahun terakhir memicu respons keprihatinan sekaligus keteragaran dari kalangan penulis dan sastrawan di Dataran Tinggi Gayo.
Sejumlah penulis dari lima wilayah Gayo mengekpresikan kesaksian mereka dalam bentuk buku antologi puisi dua bahasa. Penulis dari lima wilayah Gayo tersebut adalah berasal dari Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara dan Lokop Serbejadi.
Buku yang akan diterbitkan oleh The Gayo Institute (TGI) tersebut sedang dalam proses pengajuan Internasional Standard Book Number (ISBN), merupakan rangkuman ekspresi duka, kritik ekologis sekaligus ketegaran masyarakat.
Buku antologi puisi yang berjudul “Gayo Teger” ini ditulis oleh para penulis yang berasal dari lima wilayah Gayo direncanakan akan terbit dengan dwi bahasa, yaitu Bhasa Indonesia dan Bahasa Gayo.
Inisiator Salman Yoga S di Takengon, mengatakan buku ini lahir dari keresahan melihat banjir bandang, longsor, dan perubahan iklim ekstrem yang terjadi di kawasan Gayo dan Aceh secara umum.
“Kami tidak hanya melihat ini sebagai bencana alam, tapi bencana kemanusiaan dan kebijakan. Hutan digunduli, Danau Lut Tawar mendangkal, sungai-sungai meluap. Ketika berita hanya jadi angka korban, kami memilih menulis puisi agar optimisme masyarakat muncul sebagai bentuk ketegaran jiwa dalam menghadapi bencana,” ujar Salman, Jumat, 23 Oktober 2026.
Dalam kurun November 2025 hingga bulan Oktober 2026, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat lebih dari 70-an kejadian banjir dan longsor di wilayah tengah Aceh, dengan ribuan rumah terimbas dan ratusan hektar lahan kopi Gayo dan persawahan terdampak langsung, belum lagi jalan dan sarana publik lainnya seperti jalan masjid dan lain-lain.
Buku antologi puisi setebal 226 halaman ini berisi karya dari 39 orang penulis, bahkan ada yang ditulis oleh anak yang masih duduk di bangku MtSN. Layout ditangani oleh Ansar Salihin, Cover buku oleh Rasnaldy dan ilustrasi gambar oleh Khairun Lisik.
Diantara penulis dimaksud diantaranya adalah: Ansar Salihin, Angga Prasetiya, Ardhiansyah Putra bin Alfian KZ, Awaluddin Ishak, Awfia Nafisa, Elda Yani, Eni Penalamni, Fathiya Rahma, Fauraria Valentine, Fitria Panjang, Habas Rangga, Hakimiadi Rawe.
Juga ada nama Hamidah, Ine Salvani Renggali, Irfan Syahrial, Ivana Zara Zeta RJ, Jasa Purnama, Junaidi Ari Delung, Kasad, Lasma Farida,
Lindayanti, Mailida Melsaja, Marhamah Ismail Masna Fitri, Misdalena, Nanda Winar Sagita, Oriza Sativa, Purnamawan K. Ruslan, Rifka Anggraini, Rasnadi Nasry, Riza Amri, Robi Sugara, Sabariah Musnaini Munthe, Yuni Sari, Yusrizal, Zainal Abidin, Zuhra Ruhmi.
Buku pertama dalam sejarah yang menghimpun penulis dari lima wilayah Gayo ini direncanakan akan diluncurkan pada bulan Novermber 2026 di beberapa tempat dan kota.[]









