Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Bertani Kebudayaan di Negeri Atas Awan

redaksi by redaksi
10/06/2024
in Opini
0
[Opini] Bertani Kebudayaan di Negeri Atas Awan

Oleh Ulyadi. Penulis adalah mahasiswa Prodi  Pengembangan Masyarakat Islam UIN Ar-Raniry.

Di tengah perbukitan hijau dataran tinggi tanoh gayo, sebuah kampung yang kaya akan sejarah dan kebudayaan: Kampung Delung Tue. Berlokasi di kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, kampung ini tidak hanya sebuah tempat, tapi juga sebuah cerita yang hidup.

Menurut cerita yang turun-temurun di masyarakat, Delung Tue merupakan kampung tertua kedua setelah Samar Kilang, tempat persembunyian legendaris Bener Merie cikal bakal nama kabupaten Bener Meriah , putra Reje Linge, pada masa kejayaan kerajaan Linge di era kepemimpinan Reje Linge XIII di Tanah Gayo.

Sebagai seorang anak petani yang tumbuh di tengah kehangatan dan keindahan kampung Delung Tue, saya menyaksikan betapa istimewanya tradisi dan budaya yang dijaga dengan teguh oleh penduduknya. Namun, seperti yang terjadi di banyak tempat, adat dan budaya lokal kini mulai memudar, terkikis oleh arus perubahan zaman. Kebiasaan, ritual adat, bahasa daerah semakin jarang terdengar di antara generasi muda, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan penetrasi media sosial. Hal ini mengingatkan pada kata-kata bijak Herakleitos, filsuf Yunani kuno, yang mengatakan bahwa “Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.”

Namun, di tengah-tengah perubahan tersebut, sektor pertanian di Delung Tue masih mempertahankan kekayaan warisan budaya leluhur. Meskipun teknologi telah merambah, kebanyakan petani tetap setia pada siklus pertanian tradisional, menyesuaikan tanaman dengan musim dan bergotong-royong dalam membersihkan sawah dan menyiapkan lahan. Dari panen kentang hingga tanaman padi, dari perawatan kebun kopi hingga panen, setiap langkah dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan kebersamaan. Sistem pembayaran upah yang adil untuk para pekerja panen kopi menjadi bukti komitmen untuk menjaga keadilan sosial di tengah kemajuan ekonomi.

Di malam hari, ketika suhu dingin mulai menyelimuti kampung, suasana damai dan tenang merayap di antara rumah kayu dan sawah hijau. Berbeda dengan kegaduhan dan kehidupan malam di kota besar, Delung Tue menyajikan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Namun, dalam keheningan malam itulah sering kali muncul kerinduan akan tanah kelahiran di kala dalam perantauan, membangkitkan kenangan akan masa kecil dan kehangatan masyarakat yang tak ternilai harganya.

Sebagai seorang anak kampung yang pernah merasakan kedamaian dan kehangatan kampung halaman, saya menyadari betapa berharganya warisan budaya dan tradisi yang telah diteruskan dari generasi ke generasi. Meskipun arus perubahan tak bisa dihindari, kampung Delung Tue tetap menjadi tempat yang istimewa bagi saya, tempat di mana akar budaya terus tumbuh dan merajut kebersamaan di tengah keindahan alam yang memukau.

Di balik pesona alamnya yang memukau, kampung Delung Tue menyimpan banyak kisah dan kenangan yang menggugah tergambar pada tubuh yang pernah singgah . Setiap sudut kampung, setiap riak air sungai yang mengalir, dan setiap sapaan hangat dari penduduknya menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi hidup di sana.

Saat matahari mulai meredup di ufuk barat, kegiatan di kampung ini tidaklah mereda. Di tengah rumah kayu dan kebun-kebun hijau, terdengar suara riang dari anak-anak yang bermain di halaman, suara tawa mereka menyatu dengan gemercik air sungai yang mengalir deras. Seiring dengan perlahan terbenamnya matahari, kehidupan malam di kampung ini pun mulai bergulir.

Para petani yang bekerja keras sepanjang hari kini pulang ke rumah dengan langkah lelah namun penuh kepuasan. Mereka membawa hasil panen yang menjadi bukti kegigihan dan ketekunan mereka dalam merawat tanah leluhur. Di dalam rumah-rumah, aroma masakan tradisional mulai menyebar, menambah kehangatan dan keharmonisan di antara keluarga. Suasana inilah yang membuat kampung Delung Tue terasa begitu hidup dan mengesankan.

Meskipun demikian, semangat gotong-royong dan kebersamaan yang telah menjadi bagian dari budaya kampung Delung Tue, menjadi sumber kekuatan bagi penduduknya. Mereka saling membantu dan mendukung satu sama lain, sehingga bisa melewati segala rintangan dan cobaan dengan tegar.

Sebagai seseorang yang tumbuh di tengah kehangatan dan keindahan kampung Delung Tue, saya merasa beruntung telah menjadi bagian dari masyarakat yang luar biasa ini. Setiap hari di sini memberikan pelajaran berharga tentang arti sejati dari kehidupan, tentang nilai-nilai kebersamaan, kerja keras, dan kesederhanaan.

Dengan harapan dan keyakinan yang kuat, kami, penduduk kampung Delung Tue, terus menjaga dan merawat warisan budaya dan alam yang telah turun-temurun kami terima. Kami yakin, di tengah arus perubahan yang tak terelakkan, keunikan dan keistimewaan kampung kami akan tetap abadi, menjadi cahaya dan inspirasi bagi generasi-generasi yang akan datang.

Di banyak aspek ada kesamaan dengan gampong-gampong di Indonesia sering memiliki tantangan yang serupa fasilitas umum yang terbatas, lapangan kerja yang terbatas, akses informasi yang lambat, dan kekurangan dalam pendidikan. Ini memerlukan peremajaan dan perbaikan agar gampong dapat menjadi motor utama pembangunan berkelanjutan secara nasional dengan menjaga keseimbangan antara lingkungan dan pembangunan.

Peningkatan infrastruktur, seperti jaringan jalan yang lebih baik antara gampong dan kota-kota terdekat, akan memperluas akses terhadap pasar, pendidikan, kesehatan, dan layanan lainnya. Seiring dengan kemajuan teknologi, infrastruktur harus mencakup akses internet yang cepat dan terjangkau, memungkinkan gampong untuk terhubung dengan dunia luar dan membuka peluang bisnis serta akses informasi yang lebih luas.

Ketika gampong-gampong mampu menghasilkan gagasan dan inovasi untuk perkembangannya sendiri, hal ini dapat mempercepat pembangunan secara nasional, terutama dalam hal ketahanan pangan. Gampong-gampong memiliki potensi besar dengan kesuburan tanah dan sumber daya alam yang melimpah, yang dapat digunakan untuk mengatasi kemiskinan secara signifikan.Dengan optimalisasi pembangunan gampong secara merata, banyak permasalahan di Indonesia dapat diatasi. Perubahan menuju Indonesia yang gemilang harus memposisikan gampong sebagai ujung tombaknya, seperti yang dikatakan oleh Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta: “Indonesia tidak akan bersinar karena obor besar di Jakarta, tetapi akan bercahaya karena lilin-lilin di desa.”

Previous Post

YARA Apresiasi Pj Bupati Dukung Kewajiban Plasma HGU di Singkil

Next Post

Jemaah Haji Kloter 12 Aceh Tiba di Arab Saudi

Next Post
Jemaah Haji Kloter 12 Aceh Tiba di Arab Saudi

Jemaah Haji Kloter 12 Aceh Tiba di Arab Saudi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Hardiknas dan HUT ke-19 Pidie Jaya, 600 Pelajar dari Wilayah Terdampak Bencana Ikuti Dialog Interaktif

Hardiknas dan HUT ke-19 Pidie Jaya, 600 Pelajar dari Wilayah Terdampak Bencana Ikuti Dialog Interaktif

11/06/2026
Pijay dari Masa ke Masa: Antara Harapan dan Kenyataan

Pijay dari Masa ke Masa: Antara Harapan dan Kenyataan

11/06/2026
Buku Muhammadiyah Abdya Diterbitkan, Dr. Safaruddin: Jadi Referensi Generasi Penerus

Buku Muhammadiyah Abdya Diterbitkan, Dr. Safaruddin: Jadi Referensi Generasi Penerus

11/06/2026
Pemkab Abdya Percantik Wajah Kota dan Dongkrak PAD Lewat Videotron

Pemkab Abdya Percantik Wajah Kota dan Dongkrak PAD Lewat Videotron

11/06/2026
Lepas Kontingen Seleksi Pra-POPNAS Ke Aceh Barat, Jhon Rolexs: Jadilah Kebanggaan Daerah

Lepas Kontingen Seleksi Pra-POPNAS Ke Aceh Barat, Jhon Rolexs: Jadilah Kebanggaan Daerah

11/06/2026

Terpopuler

14 Gampong Belum Ajukan Dana Desa Tahap I, Karena Tuha Peut dan Syarat Pendamping Desa

14 Gampong Belum Ajukan Dana Desa Tahap I, Karena Tuha Peut dan Syarat Pendamping Desa

04/06/2026

Ohku, 56 Izin Tambang Terbit dalam 5 Tahun, Aceh Menuju Darurat Ekologis?

Plt Sekda Lantik 50 Pejabat Fungsional Tenaga Kesehatan dan Guru

Pesantren Jadi Lokomotif Pertanian Modern, IPB Kenalkan Varietas Padi Cerdas Iklim di Pidie Jaya

‎Masyarakat Gayo Patungan Perbaiki Jalan Nasional, YARA: Pengakuan Tito Karnavian Soal Infrastruktur Rusak Harus Dibuktikan dengan Aksi Nyata

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com