Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Kritik Untuk Pendamping Gampong

redaksi by redaksi
24/06/2025
in Opini
0
[Opini] Kritik Untuk Pendamping Gampong

Penulis adalah Rahmatal Riza (Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh).

Setiap kali kita melangkah masuk ke sebuah gampong, kita membawa harapan. Harapan bahwa kehadiran kita bisa membawa perubahan, bisa membuka jalan, bisa menghidupkan kembali semangat yang mungkin telah lama pudar. Kita datang dengan seragam rapi, dengan program-program yang terdengar megah, dan target-target yang tertulis rapi dalam laporan. Namun, sudahkah kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita benar-benar hadir? Apakah kita lebih dari sekadar tamu yang lewat?

Pendampingan hari ini kerap berjalan seperti itu, cepat, padat, dan terkadang terasa seperti formalitas yang dipaksakan. Kita datang, mengisi daftar hadir, bicara tentang program, lalu meninggalkan gampong dengan janji-janji yang berulang tanpa realisasi yang nyata. Pendampingan menjadi semacam ritual yang terburu-buru, di mana warga diposisikan sebagai objek, dan kita sebagai subjek yang menentukan arah. Padahal, gampong bukanlah sekadar titik koordinat di peta. Ia adalah rumah bagi manusia dengan cerita, luka, harapan, dan keberdayaan yang sesungguhnya. Namun sayangnya, banyak pendamping hari ini masih memandang gampong sebagai “proyek” yang harus diselesaikan, bukan sebagai “tempat” yang harus dihargai dan dipahami.

Pendampingan gampong itu sebenarnya adalah cara membantu masyarakat di desa supaya bisa mandiri dan semakin kuat. Ini bukan cuma soal datang dan bilang “Saya ini pendamping, saya bawa program,” tapi lebih ke bagaimana kita bisa mendampingi mereka melalui berbagai cara seperti asistensi, pengorganisasian, pengarahan, dan fasilitasi. Kalau kita lihat dari aturan resmi (Kepmendes No 40 Tahun 2021), pendampingan gampong punya makna sebagai proses membimbing supaya masyarakat bisa lebih baik dengan cara mereka sendiri. Jadi, fokusnya bukan kita yang terus kasih solusi, tapi membantu mereka menemukan solusi dari dalam diri mereka sendiri.

Penulis sering teringat pada sebuah pagi di sebuah gampong di Aceh Besar. Daun pepohonan di halaman bergoyang pelan, motor pendamping datang satu-satu dengan rompi dan map di tangan. Mereka duduk di balai, menyalakan laptop, dan mulai bicara dengan bahasa yang penuh istilah. Warga hanya tersenyum kaku. Mereka sudah terlalu sering mendengar kata “pemberdayaan,” tapi belum pernah benar-benar merasakan arti kata itu. Tak ada yang bertanya apa yang sebenarnya dirasakan warga hari itu. Tak ada yang menyentuh luka-luka kecil yang mungkin tak terlihat, tapi tetap menganga. Semua berjalan cepat, agenda sudah menunggu. Kita lupa bahwa pendampingan bukan hanya soal program, tapi soal kehadiran yang tulus.

Ada lima prinsip yang harus dipegang dalam pendampingan ini supaya hasilnya benar-benar terasa manfaatnya. Pertama, prinsip kemanusiaan, semua aktivitas pendampingan harus menghormati hak dasar dan menjaga martabat setiap orang di gampong. Jangan sampai karena program kita, ada yang merasa direndahkan atau diabaikan.

Kedua, prinsip keadilan, semua warga harus diperlakukan sama, tanpa membeda-bedakan, tanpa diskriminasi, karena semua berhak mendapatkan kesempatan yang adil.

Ketiga, prinsip kebhinekaan, pendampingan harus menghargai perbedaan yang ada, baik soal pendapat, budaya, identitas, dan lain-lain. Kita harus terbuka dan saling menghormati keberagaman yang ada di gampong.

Keempat, prinsip keseimbangan alam, pendampingan juga harus peduli sama lingkungan. Jadi, dalam membangun dan mengembangkan gampong, kita harus tetap jaga kelestarian alam supaya kehidupan tetap berkelanjutan.

Kelima, prinsip kepentingan nasional, semua kegiatan pendampingan harus selaras dengan kebijakan nasional yang tujuannya adalah kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Jadi, pendampingan gampong itu juga bagian dari kerja besar membangun negara.

Kritik terhadap pendamping hari ini bukan tanpa alasan. Banyak yang merasa bahwa pendampingan lebih mirip “kunjungan kerja” daripada “perjalanan bersama.” Ada jarak yang terbangun. Jarak antara pendamping dan warga, antara teori dan kenyataan, antara rencana dan aksi.

Pendamping sering datang dengan sikap yang sudah terlanjur “benar.” Mereka membawa rancangan, solusi, dan instruksi, tapi lupa bahwa perubahan di gampong tidak bisa dipaksakan dari luar. Perubahan itu lahir dari dalam, dari kesadaran dan kekuatan warga sendiri.

Pendamping lupa bahwa mereka bukan bos, bukan atasan yang harus memerintah. Mereka harusnya menjadi teman, sahabat, yang duduk bersama di serambi rumah, mendengar cerita, dan ikut merasakan getir kehidupan sehari-hari.

Salah satu bentuk konkrit pendampingan itu adalah asistensi. Asistensi adalah bagian dari pendampingan di mana kita membantu masyarakat atau lembaga desa menjalankan tugasnya. Misalnya, membantu data warga supaya perencanaan pembangunan bisa lebih tepat sasaran, atau membimbing lembaga desa supaya lebih teratur dalam mengelola pembangunan.

Lewat asistensi ini, kualitas data dan kebijakan pembangunan gampong bisa lebih bagus karena didasarkan pada kondisi nyata yang terjadi di lapangan. Jadi, kita tidak asal program tanpa tahu kebutuhan sebenarnya.

Selain asistensi, pengorganisasian juga penting untuk membantu warga sadar akan potensi dan kekuatan yang mereka punya. Kita bantu mereka mengelompokkan diri, membangun kerja sama, dan menciptakan pola kerja yang baik. Contohnya, kita bisa bantu membentuk pusat kegiatan masyarakat seperti balai desa atau taman yang bisa jadi tempat berkumpul warga. Di sana, warga dari berbagai latar belakang mulai dari tokoh agama, adat, petani, perempuan dan anak muda bisa ikut berpartisipasi aktif. Pendamping juga berperan memfasilitasi terbentuknya forum mitra gampong, yaitu kelompok sukarelawan yang jadi penggerak kegiatan pembangunan dan pemberdayaan di desa.

Selain itu, pengarahan menjadi bagian penting dari pendampingan, di mana pendamping memberikan panduan yang tepat mulai dari pendataan, perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban pembangunan gampong.

Termasuk juga bagaimana memanfaatkan dana desa dengan benar sesuai aturan yang berlaku. Jadi, pendamping bertugas memberi arah supaya semua proses pembangunan berjalan lancar dan sesuai aturan, agar dana dan tenaga yang dikeluarkan bisa memberikan hasil yang maksimal.

Dan yang terakhir fasilitasi, berarti membantu masyarakat dan pemerintah desa agar berbagai proses pembangunan dan pemberdayaan berjalan dengan lancar. Contohnya membantu pendataan warga dan kondisi desa sebagai dasar perencanaan, membimbing masyarakat dalam menyusun rencana pembangunan bersama, dari musyawarah hingga pengawasan, mengawasi pelaksanaan pembangunan supaya berjalan transparan dan akuntabel, membantu mengelola keuangan desa dengan baik agar semua jelas dan terbuka, serta mendorong kerja sama antar desa supaya makin maju bersama.

Selain itu, fasilitasi juga membantu pengembangan usaha masyarakat, pembentukan kader, pelatihan, sampai pengelolaan usaha milik desa agar ekonomi lokal makin berkembang. Kalau ada masalah atau keluhan, pendamping juga jadi fasilitator untuk mencari solusi lewat musyawarah agar semua bisa selesai dengan baik dan damai.

Apa jadinya jika kita terus memaksakan model pendampingan yang “standar”? Model yang hanya fokus pada angka, capaian, dan laporan? Gampong akan tetap menjadi tempat yang sepi dari kepercayaan.

Warga akan tetap merasa terpinggirkan, sementara kita sibuk dengan tugas-tugas administrasi. Padahal, setiap gampong punya kekayaan yang tak ternilai. Ada sejarah panjang yang tak bisa digantikan oleh statistik. Ada kekuatan sosial yang tersimpan dalam kebersamaan, dalam gotong royong, dalam tawa yang tercipta saat kenduri. Tapi semuanya itu hanya akan terlihat jika kita benar-benar mau melihat, mendengar, dan menghargai.

Renungkan, apakah kita sudah cukup sabar? Sudah cukup mendengarkan? Sudah cukup hadir tanpa terburu-buru? Atau kita lebih sering datang dengan agenda sendiri, tanpa memberi ruang bagi warga untuk berbicara? Pendampingan bukan soal banyak bicara, tapi soal mampu diam dan mendengar. Karena dalam keheningan, kita bisa menemukan kisah-kisah yang tak pernah tertulis di buku laporan. Kisah tentang harapan yang hampir padam, tapi masih tersisa secercah semangat.

Kita juga harus sadar bahwa pendampingan yang baik tidak bisa hanya dilakukan sekali atau dua kali kunjungan. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan waktu, kepercayaan, dan konsistensi. Sayangnya, banyak pendamping yang hanya datang sebentar, lalu hilang begitu saja, meninggalkan warga dengan pertanyaan dan kebingungan.

Jika pendamping hanya sebatas tamu yang lewat, maka jangan harap gampong akan menjadi lebih baik. Tapi jika pendamping mampu menjadi bagian dari kehidupan warga, ikut merasakan suka dan duka mereka, maka perubahan perlahan akan tumbuh dengan sendirinya. Pada akhirnya, pendampingan sejati adalah tentang bagaimana kita membangun hubungan manusiawi.

Bagaimana kita belajar rendah hati dan mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya. Bagaimana kita membuka ruang dialog tanpa hierarki, tanpa kekuasaan yang menekan. Mari mulai berhenti memandang gampong sebagai proyek yang harus selesai tepat waktu. Mari mulai melihat warga sebagai subjek yang punya suara dan pilihan. Mari mulai menjadi pendamping yang hadir dengan hati, bukan sekadar kepala penuh target.

Ini adalah panggilan hati bagi kita semua yang bertugas mendampingi. Mari kita refleksikan kembali niat dan cara kita bekerja. Mari kita menjadi pendamping yang benar-benar hadir, yang tidak hanya membawa program, tapi juga membawa perhatian, kepercayaan, dan rasa hormat. Karena tanpa itu, semua upaya akan terasa kosong. Tanpa itu, gampong akan tetap sepi, dan janji tinggal janji. []

Previous Post

Putin: Rusia Akan Bantu Rakyat Iran

Next Post

Pemkab Aceh Besar Tindak Pedagang Berlakukan Sewa Atas Sewa

Next Post
Pemkab Aceh Besar Tindak Pedagang Berlakukan Sewa Atas Sewa

Pemkab Aceh Besar Tindak Pedagang Berlakukan Sewa Atas Sewa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Polres Aceh Selatan Patroli Cegah Aksi Kejahatan

Polres Aceh Selatan Patroli Cegah Aksi Kejahatan

23/03/2026
Banjir di Lokasi Bencana Alam di Pedalaman Aceh Barat Sudah Surut

Banjir di Lokasi Bencana Alam di Pedalaman Aceh Barat Sudah Surut

23/03/2026
Para Pedagang Keripik Mulai ‘Hijrah’ dari Saree ke Padang Tiji

Para Pedagang Keripik Mulai ‘Hijrah’ dari Saree ke Padang Tiji

23/03/2026
Bupati Tarmizi Jenguk Mantan Kombatan GAM yang Sakit di Arongan Lambalek

Bupati Tarmizi Jenguk Mantan Kombatan GAM yang Sakit di Arongan Lambalek

23/03/2026
Kondisi Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah Dinilai Memprihatinkan

Kondisi Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah Dinilai Memprihatinkan

23/03/2026

Terpopuler

[Opini] Kritik Untuk Pendamping Gampong

[Opini] Kritik Untuk Pendamping Gampong

24/06/2025

Pernyataan Prabowo Soal Pemulihan 100 Persen Bikin Korban Banjir Aceh Geram

Saat ‘Bupati Panton’ Lupa Luas Aceh Utara

Jak Bak Jeurat; Cara Warga Aceh Bersilaturahmi dengan Kerabat yang Sudah Tiada

Isu Mosi Tak Percaya 67 Anggota DPRA Dinilai Operasi Politik Adu Domba, Soliditas di Bawah Zulfadhli Ditegaskan Tetap Kokoh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com