SIMPANG Mesra penuh dengan kelap-kelip cahaya pada Minggu malam 14 Desember 2025. Demikian juga dengan kawasan Rawa Sakti. Ini ujungnya Kota Banda Aceh.
Warga Kutaradja mulai ‘merdeka’ setelah sekian lama diselimuti kegelapan pasca bencana. Pemandangan seperti itu hanya mampu ditatap warga di ‘sisi kanan’ jembatan dengan rasa iri.
Mereka hanya bisa ‘gigit jari’ melihat saudaranya menikmati cahaya.
Memasuki Jembatan Krueng Cut, Kabupaten Aceh Besar, puluhan roda dua terlihat terparkir di sisi jembatan. Para pengguna rata-rata berusia 20-an. Mereka menepi untuk mencari ‘sinyal’ guna berkomunikasi dengan keluarga.
Jembatan Krueng Cut dan Jembatan Lamnyong merupakan dua tempat favorit baru bagi para pencari sinyal. Tempat lain adalah area depan Polda Aceh.
“Kami tinggal di Labuy (Kecamatan Baitussalam-red) bang. Begitu lewat jembatan Krueng Cut. Sinyal langsung terputus. Makanya sering berlama-lama di sini,” ujar Ridwan, 21 tahun, salah seorang mahasiswa USK, yang ditemui atjehwatch.com.
Ridwan memilih mencari sinyal di Jembatan Krueng Cut dibanding beramai-ramai ke Warkop seperti para mahasiswa lainnya.
“Lebih hemat,” ujar Ridwan.
Meninggalkan Ridwan, laju kendaraan kemudian Kembali menelusuri Jalan Laksamana Malahayati yang dipenuhi rumah-rumah warga yang redup cahaya. Ini merupakan pekan ketiga, kawasan ‘Krueng Cut’ dan ‘Krueng Raya’ gelap gulita.
Hanya satu dua Ruko yang tampak bercahaya. Mereka mengandalkan ginset sendiri. Sementara bagi yang tak mampu beli ginset, terpaksa bergelap-gelapan.
“Yang membuat kita kesel, daerah lain padam dua hari, kemudian bisa menyala sehari. Sedangkan kita itu, hampir satu Minggu ini padam total,” kata Firdaus, 38 tahun, warga Baet.
“Yang menyakitkan lagi. Selama listrik padam, sinyal telekomunikasi pun hilang. Jadi Krueng Cut Aceh Besar dengan Syiah Kuala Banda Aceh itu seperti dua dunia yang berbeda. Jembatan Krueng Cut jadi penghubungnya,” kata Firdaus lagi.

Kata Firdaus, jika dihitung sejak bencana banjir dan longsor menimpa Aceh pada 26 November lalu, kawasan Krueng Cut hanya tiga kali mendapat jatah listrik menyala.
“Kali pertama menyala 6 jam, kemudian padam 3 hari. Kedua, menyala 12 jam, kemudian padam dua hari. Terakhir, menyala sekitar satu hari, dan sudah padam hampir satu Minggu.”
“Harusnya PLN lebih adil dalam mendistribusikan arus listrik,” ujar Firdaus.
Zubaidah, 54 tahun, warga Desa Neuheun, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, juga mengaku kesal dengan pemadaman listrik yang tak berujung dari PLN.
“Siapa yang tak kesal. Listrik padam, sinyal hilang. PDAM juga mati. Anak-anak mandi gak ada air berhari-hari,” ujarnya.
“Mau nangis rasanya. Berhari hari tanpa listrik, tanpa air, dan tanpa sinyal. Sementara para pejabat hanya bisa berjanji-janji. Saat tak bisa ditepati, cuma minta maaf,” ungkapnya kesal.










