BANDA ACEH — Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dan Satgas USK Respons Bencana Senyar memperkuat distribusi logistik serta pengelolaan dapur umum di sejumlah wilayah Aceh pascabencana Senyar yang terjadi sejak akhir November 2025.
Kegiatan ini dilaksanakan di beberapa kabupaten terdampak, antara lain Bireuen, Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Timur, Pidie Jaya, dan Aceh Tamiang, sebagai bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat pada fase tanggap darurat dan pemulihan awal.
Sejak hari-hari awal bencana, Tim PKM USK terlibat aktif dalam penyaluran logistik, penyediaan makanan, layanan kesehatan dasar, dukungan air bersih dan sanitasi, hingga pendidikan darurat dan pendampingan psikososial. Hingga pertengahan Desember 2025, dapur umum yang didukung USK tercatat beroperasi di 7 titik dapur umum dan melayani sekitar 200-500 porsi makanan per hari untuk masyarakat terdampak.
Pengelolaan dapur umum dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan warga setempat dalam perencanaan menu, proses memasak, hingga distribusi makanan. Tim logistik USK secara rutin menyediakan bahan pangan segar seperti ikan, ayam, dan sayuran yang kemudian diolah bersama oleh masyarakat.
“Pendekatan ini penting agar makanan yang disajikan sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan warga, sekaligus menjaga semangat gotong royong di gampong,” ujar Prof. Dr. Muksin.
Untuk memastikan distribusi tepat sasaran, Tim PKM USK melakukan pemetaan kebutuhan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, relawan, dan masyarakat. Berdasarkan pemetaan tersebut, USK mendirikan posko logistik dan mengembangkan dapur umum di titik-titik strategis.
Ketua Tim Logistik USK, Prof. Dr. Muksin, mengatakan bahwa distribusi bantuan tanpa data terintegrasi berisiko tidak merata. “Tanpa pemetaan yang baik, bantuan bisa menumpuk di satu lokasi dan tidak sampai ke wilayah yang paling membutuhkan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, distribusi logistik menghadapi kendala akses akibat jalan rusak dan jembatan terputus. Untuk menjangkau desa terisolasi, relawan USK menempuh berbagai upaya lapangan, termasuk distribusi manual, pemanfaatan drone untuk pemetaan, serta pemasangan sling baja sebagai jalur darurat pengiriman bantuan di Gampong Teupin Mane.
USK menilai bahwa pelibatan masyarakat dalam pengelolaan logistik dan dapur umum menjadi kunci keberlanjutan respons. Ke depan, model distribusi berbasis data dan dapur umum partisipatif ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari sistem penanganan bencana di Aceh.










