BANDA ACEH – Sebanyak 29 desa dilaporkan hilang akibat bencana alam berupa banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatra pada akhir November 2025.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Kepala Satgas Pemulihan Pasca Bencana Sumatra, Tito Karnavian, menyampaikan bahwa wilayah terdampak paling parah berada di Provinsi Aceh, dengan total 21 desa hilang.
Sisanya, delapan desa lainnya berada di Sumatra Utara. Peristiwa ini juga mengakibatkan kerusakan besar terhadap sektor pertanian, terutama lahan sawah, yang mencapai 94 ribu hektare.
Bencana tersebut tidak hanya menghapus permukiman dari peta, tetapi juga berdampak pada sistem administrasi pemerintahan desa yang harus segera ditangani.
“Kemudian yang hilang, ini juga perlu ada penyelesaian. Jadi ada desa yang hilang 29 karena terbawa longsor atau terendam banjir,” ujar Tito dalam rapat dengan Satgas Pemulihan DPR di Kompleks Parlemen, dikutip MPN Indonesia melalui kanal YouTube DPR RI pada Kamis, (19/2).
Tito menegaskan perlunya penanganan cepat untuk menentukan apakah desa-desa yang hilang akan dibangun kembali atau dihapus dari administrasi pemerintahan.
Dalam rapat yang sama, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran Sulaiman, mencatat bahwa kerusakan lahan sawah di wilayah terdampak mencapai 94 ribu hektare.
“Kemudian tingkat kerusakan lahan sawah yang terdampak ada 94 ribu hektare. Hari ini kita sudah kirim dan penanaman kurang lebih 39 ribu hektare,” kata Amran.
Rincian wilayah desa yang hilang menunjukkan bahwa Aceh menjadi daerah paling terdampak dengan 21 desa tersebar di empat kabupaten, yaitu:
Aceh Tamiang
Nagan Raya
Aceh Tengah
Gayo Lues
Sedangkan di Sumatra Utara, delapan desa hilang berada di dua kabupaten:
Tapanuli Selatan
Tapanuli Tengah
“Di Aceh paling banyak yaitu 21 desa kampungnya hilang. Di Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Gayo Lues,” sebut Tito.
Sementara itu, ia memastikan tidak ada desa yang hilang di Sumatra Barat.
“Sumatra Utara ada 8 desa yang hilang, khususnya di Tapsel dan Tapteng. Nama-nama desa juga ada di sana. Dan di Sumbar tidak, Alhamdulillah tidak ada desa yang hilang,” ujarnya.
Bencana alam yang terjadi juga menimbulkan korban jiwa yang besar.
Berdasarkan laporan Tito, total korban meninggal dunia tercatat sebanyak 1.205 orang, dengan 139 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Rinciannya sebagai berikut:
Aceh: 562 orang meninggal, 29 hilang
Sumatra Barat: 267 orang meninggal, 70 hilang
Sumatra Utara: Tidak disebutkan angka pasti, namun terdapat kerusakan besar di 18 kabupaten/kota, 163 kecamatan, dan 897 desa
Jumlah pengungsi juga dilaporkan tinggi. Di Aceh, sebanyak 1,4 juta orang sempat mengungsi dan kini tersisa sekitar 12.144 orang di tenda.
Di Sumatra Utara, pengungsi menurun dari 53 ribu menjadi 850 orang, terutama di Tapanuli Tengah.
Sementara di Sumatra Barat, sebelumnya terdapat 16.164 orang mengungsi. Namun, saat ini tidak ada lagi pengungsi di tenda setelah relokasi ke hunian sementara.
Dampak pada Infrastruktur dan Ketahanan Pangan
Selain hilangnya desa, bencana alam juga merusak berbagai fasilitas umum dan infrastruktur di wilayah terdampak.
Di Sumatra Barat, terdapat kerusakan pada fasilitas pendidikan dan kesehatan. Di Sumatra Utara, kerusakan mencakup rumah-rumah, jalan, serta fasilitas umum lainnya di 18 kabupaten/kota.
Pola bencana sebagian besar terjadi di daerah dataran tinggi yang mengalami longsor akibat curah hujan tinggi, menyebabkan kota-kota terisolasi dan distribusi logistik terganggu.
Baca Juga: Viral! Warga Sibolga Minta Maaf usai Jarah Minimarket karena Tak Kunjung Dapat Bantuan di Tengah Banjir
Dalam sektor pertanian, selain 94 ribu hektare sawah yang rusak, proses pemulihan juga sedang berlangsung.
Amran melaporkan bahwa penanaman ulang telah dilakukan di 39 ribu hektare lahan, sebagian karena adanya material longsoran berupa humus yang subur.
“Sehingga tidak perlu hanya irigasi yang kita perbaiki dan langsung kita melakukan penanaman,” jelasnya.
Pemerintah juga memastikan ketersediaan pangan aman untuk tiga bulan ke depan.
“Insya Allah sektor pertanian khususnya pangan, kita tersedia pangan, kita di lapangan cukup untuk tiga bulan ke depan dan stok nasional kita hari ini Alhamdulillah tertinggi yaitu 3,5 juta ton,” sebut Amran.
Ia menambahkan bahwa stok beras di lapangan mencapai sekitar 100 ribu ton atau setara dengan tiga kali kebutuhan bulanan di lapangan.
Langkah Pemulihan dan Bantuan Pemerintah
Terkait pemulihan, Tito menyatakan bahwa desa-desa yang hilang membutuhkan kebijakan yang jelas, apakah akan direlokasi atau dihapus dari catatan administratif.
“Ini juga perlu penyelesaian, relokasi, dan juga administrasi pemerintahan desa nantinya. Karena desa yang hilang itu, nanti apa kita akan bangun kembali, atau dihilangkan dalam administrasi pemerintahan,” ungkap Tito.
Sementara itu, bantuan pemerintah telah disalurkan melalui skema reguler dan nonreguler.
Total dana yang terealisasi untuk penanganan bencana alam di wilayah Sumatra mencapai Rp1,52 triliun, terdiri dari Rp1 triliun bantuan reguler dan Rp758 miliar bantuan dari mitra serta kementerian terkait.










