Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Timur

29 Desa Hilang dan 94 Ribu Hektare Sawah Rusak Imbas Bencana Aceh-Sumatra

redaksi by redaksi
19/02/2026
in Lintas Timur
0
29 Desa Hilang dan 94 Ribu Hektare Sawah Rusak Imbas Bencana Aceh-Sumatra

29 Desa Hilang dan 94 Ribu Ha Sawah Rusak Imbas Bencana Aceh Sumatra29 Desa Hilang dan 94 Ribu Ha Sawah Rusak Imbas Bencana Aceh-Sumatra. Gambar: TikTok/petaniaceh5

BANDA ACEH – Sebanyak 29 desa dilaporkan hilang akibat bencana alam berupa banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatra pada akhir November 2025.

Menteri Dalam Negeri sekaligus Kepala Satgas Pemulihan Pasca Bencana Sumatra, Tito Karnavian, menyampaikan bahwa wilayah terdampak paling parah berada di Provinsi Aceh, dengan total 21 desa hilang.

Sisanya, delapan desa lainnya berada di Sumatra Utara. Peristiwa ini juga mengakibatkan kerusakan besar terhadap sektor pertanian, terutama lahan sawah, yang mencapai 94 ribu hektare.

Bencana tersebut tidak hanya menghapus permukiman dari peta, tetapi juga berdampak pada sistem administrasi pemerintahan desa yang harus segera ditangani.

“Kemudian yang hilang, ini juga perlu ada penyelesaian. Jadi ada desa yang hilang 29 karena terbawa longsor atau terendam banjir,” ujar Tito dalam rapat dengan Satgas Pemulihan DPR di Kompleks Parlemen, dikutip MPN Indonesia melalui kanal YouTube DPR RI pada Kamis, (19/2).

Tito menegaskan perlunya penanganan cepat untuk menentukan apakah desa-desa yang hilang akan dibangun kembali atau dihapus dari administrasi pemerintahan.

Dalam rapat yang sama, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran Sulaiman, mencatat bahwa kerusakan lahan sawah di wilayah terdampak mencapai 94 ribu hektare.

“Kemudian tingkat kerusakan lahan sawah yang terdampak ada 94 ribu hektare. Hari ini kita sudah kirim dan penanaman kurang lebih 39 ribu hektare,” kata Amran.

Rincian wilayah desa yang hilang menunjukkan bahwa Aceh menjadi daerah paling terdampak dengan 21 desa tersebar di empat kabupaten, yaitu:

Aceh Tamiang
Nagan Raya
Aceh Tengah
Gayo Lues

Sedangkan di Sumatra Utara, delapan desa hilang berada di dua kabupaten:

Tapanuli Selatan

Tapanuli Tengah

“Di Aceh paling banyak yaitu 21 desa kampungnya hilang. Di Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Gayo Lues,” sebut Tito.

Sementara itu, ia memastikan tidak ada desa yang hilang di Sumatra Barat.

“Sumatra Utara ada 8 desa yang hilang, khususnya di Tapsel dan Tapteng. Nama-nama desa juga ada di sana. Dan di Sumbar tidak, Alhamdulillah tidak ada desa yang hilang,” ujarnya.

Bencana alam yang terjadi juga menimbulkan korban jiwa yang besar.

Berdasarkan laporan Tito, total korban meninggal dunia tercatat sebanyak 1.205 orang, dengan 139 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Rinciannya sebagai berikut:

Aceh: 562 orang meninggal, 29 hilang

Sumatra Barat: 267 orang meninggal, 70 hilang

Sumatra Utara: Tidak disebutkan angka pasti, namun terdapat kerusakan besar di 18 kabupaten/kota, 163 kecamatan, dan 897 desa

Jumlah pengungsi juga dilaporkan tinggi. Di Aceh, sebanyak 1,4 juta orang sempat mengungsi dan kini tersisa sekitar 12.144 orang di tenda.

Di Sumatra Utara, pengungsi menurun dari 53 ribu menjadi 850 orang, terutama di Tapanuli Tengah.

Sementara di Sumatra Barat, sebelumnya terdapat 16.164 orang mengungsi. Namun, saat ini tidak ada lagi pengungsi di tenda setelah relokasi ke hunian sementara.

Dampak pada Infrastruktur dan Ketahanan Pangan

Selain hilangnya desa, bencana alam juga merusak berbagai fasilitas umum dan infrastruktur di wilayah terdampak.

Di Sumatra Barat, terdapat kerusakan pada fasilitas pendidikan dan kesehatan. Di Sumatra Utara, kerusakan mencakup rumah-rumah, jalan, serta fasilitas umum lainnya di 18 kabupaten/kota.

Pola bencana sebagian besar terjadi di daerah dataran tinggi yang mengalami longsor akibat curah hujan tinggi, menyebabkan kota-kota terisolasi dan distribusi logistik terganggu.

Baca Juga: Viral! Warga Sibolga Minta Maaf usai Jarah Minimarket karena Tak Kunjung Dapat Bantuan di Tengah Banjir
Dalam sektor pertanian, selain 94 ribu hektare sawah yang rusak, proses pemulihan juga sedang berlangsung.

Amran melaporkan bahwa penanaman ulang telah dilakukan di 39 ribu hektare lahan, sebagian karena adanya material longsoran berupa humus yang subur.

“Sehingga tidak perlu hanya irigasi yang kita perbaiki dan langsung kita melakukan penanaman,” jelasnya.

Pemerintah juga memastikan ketersediaan pangan aman untuk tiga bulan ke depan.

“Insya Allah sektor pertanian khususnya pangan, kita tersedia pangan, kita di lapangan cukup untuk tiga bulan ke depan dan stok nasional kita hari ini Alhamdulillah tertinggi yaitu 3,5 juta ton,” sebut Amran.

Ia menambahkan bahwa stok beras di lapangan mencapai sekitar 100 ribu ton atau setara dengan tiga kali kebutuhan bulanan di lapangan.

Langkah Pemulihan dan Bantuan Pemerintah

Terkait pemulihan, Tito menyatakan bahwa desa-desa yang hilang membutuhkan kebijakan yang jelas, apakah akan direlokasi atau dihapus dari catatan administratif.

“Ini juga perlu penyelesaian, relokasi, dan juga administrasi pemerintahan desa nantinya. Karena desa yang hilang itu, nanti apa kita akan bangun kembali, atau dihilangkan dalam administrasi pemerintahan,” ungkap Tito.

Sementara itu, bantuan pemerintah telah disalurkan melalui skema reguler dan nonreguler.

Total dana yang terealisasi untuk penanganan bencana alam di wilayah Sumatra mencapai Rp1,52 triliun, terdiri dari Rp1 triliun bantuan reguler dan Rp758 miliar bantuan dari mitra serta kementerian terkait.

Sumber: mpnindonesia

Previous Post

DSI Perkuat Sinergi dan Kolaborasi dengan Polresta Banda Aceh

Next Post

Longsor, Jalan Poros di Aceh Tengah dalam Tahap Pembersihan

Next Post
Longsor, Jalan Poros di Aceh Tengah dalam Tahap Pembersihan

Longsor, Jalan Poros di Aceh Tengah dalam Tahap Pembersihan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Lembaga Wali Nanggroe Identifikasi Hukum Materiil Peradilan Adat di Aceh Barat

Lembaga Wali Nanggroe Identifikasi Hukum Materiil Peradilan Adat di Aceh Barat

04/08/2026
PKB Pidie Jaya Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Dayah Istiqamatuddin

PKB Pidie Jaya Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Dayah Istiqamatuddin

04/08/2026
Kebakaran Hanguskan Kompleks Dayah di Bandar Dua

Kebakaran Hanguskan Kompleks Dayah di Bandar Dua

04/08/2026
Ancaman Narkotika, BNN Aceh Teken MoU dengan Pemerintah Abdya Bentuk BNNK

Ancaman Narkotika, BNN Aceh Teken MoU dengan Pemerintah Abdya Bentuk BNNK

04/08/2026
Fraksi Kebangkitan Pembangunan dan Demokrasi Desak Bupati Evaluasi SKPK Pijay

Fraksi Kebangkitan Pembangunan dan Demokrasi Desak Bupati Evaluasi SKPK Pijay

04/08/2026

Terpopuler

Kapolres Pidie Jaya Kritik Evaluasi SKPK: Jangan Bicara Tanpa Data, Rakyat Berhak Tahu Kinerja Pemerintah

Kapolres Pidie Jaya Kritik Evaluasi SKPK: Jangan Bicara Tanpa Data, Rakyat Berhak Tahu Kinerja Pemerintah

03/08/2026

29 Desa Hilang dan 94 Ribu Hektare Sawah Rusak Imbas Bencana Aceh-Sumatra

Dari Atu Singkih ke Lembah Tidar: Alumnus Al Zahrah Lulus Akmil Setelah 3 Kali Gagal

Di Tengah Tuntutan Dua Bulan Penjara, IKA Unigha Desak Restorative Justice untuk Dua Mahasiswa

Lima Tahun Bertahan Tanpa Orang Tua, Lima Bersaudara di Pidie Jaya Pernah Dua Hari Menahan Lapar

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com