Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Timur

515 Tahun Pidie: Jejak Pedir dan Darul Amni yang Tak Boleh Hilang

redaksi by redaksi
20/09/2026
in Lintas Timur
0
515 Tahun Pidie: Jejak Pedir dan Darul Amni yang Tak Boleh Hilang

SIGLI — Puncak Uroe Lahe ke-515 Kabupaten Pidie di Pidie Convention Center (PCC) Sigli bukan sekadar penanda bertambahnya usia daerah. Momentum tersebut menjadi ruang untuk membuka kembali jejak panjang Pidie, dari sejarah Pedir hingga Darul Amni, yang membentuk identitas masyarakatnya.

Rangkaian peringatan HUT ke-515 tersebut diisi berbagai kegiatan, mulai dari Expo dan UMKM, pentas seni, Sidang Istimewa Paripurna DPRK, permainan rakyat, pawai budaya, hingga Khanduri Raya dan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bupati Pidie H. Sarjani mengatakan peringatan Uroe Lahe ke-515 penting untuk menjaga ingatan terhadap perjalanan sejarah Pidie. Menurutnya, hari jadi daerah tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi juga menjadi momentum mengenang akar sejarah dan perjalanan masyarakat Pidie.

“Peringatan Uroe Lahè ke-515 Pidie tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga momentum untuk mengenang perjalanan panjang sejarah Pedir Darul Amni,” ujar salah satu sumber, Sabtu malam (19/9/2026).

Jejak Pedir menempati posisi penting dalam perjalanan sejarah Aceh. Kawasan ini berkembang melalui dinamika perdagangan, pemerintahan dan penyebaran Islam yang turut membentuk kehidupan sosial masyarakat di wilayah Pidie.

Dalam perjalanan berikutnya, sejarah kawasan ini bersinggungan dengan berbagai perubahan politik dan sosial, termasuk narasi Darul Amni yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Pidie.

Oleh karena itu, tantangan hari ini bukan sekadar merayakan usia daerah, tetapi memastikan warisan sejarah tersebut tetap dipahami generasi baru.

Perubahan zaman membuat Pidie terus bergerak. Pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi, pendidikan dan pelayanan publik menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Namun, seluruh proses itu membutuhkan pijakan identitas agar pembangunan tidak berjalan tanpa memahami akar daerahnya.

Momentum Uroe Lahe ke-515 dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat dokumentasi sejarah lokal, membuka kembali arsip, serta memperkenalkan sejarah Pedir dan Darul Amni melalui pendidikan dan ruang kebudayaan.

Dengan begitu, sejarah tidak berhenti sebagai cerita yang muncul setiap perayaan hari jadi. Ia menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari, dikritisi dan diwariskan.

Lima abad lebih perjalanan Pidie pada akhirnya bukan hanya soal angka. Ada jejak masyarakat, kebudayaan dan perubahan zaman yang membentuk daerah ini hingga hari ini.

Dan dari sanalah pesan Uroe Lahe ke-515 menjadi relevan: Pidie boleh terus berubah, tetapi jangan sampai kehilangan ingatan tentang dari mana ia berasal.

Lima abad lebih perjalanan Pidie pada akhirnya bukan sekadar angka yang dirayakan setiap tahun, di balik usia 515 tahun itu, ada warisan sejarah yang semestinya menjadi pengetahuan, bukan sekadar ornamen seremoni.

Sebab akan menjadi ironi jika Pedir dan Darul Amni terus disebut dalam pidato peringatan, tetapi jejak sejarahnya justru semakin jauh dari pengetahuan generasi muda.

Uroe Lahe semestinya tidak berhenti ketika panggung dibongkar, spanduk diturunkan dan rangkaian acara berakhir. Setelah perayaan selesai, pertanyaan yang lebih penting justru dimulai: apa yang benar-benar dilakukan untuk merawat sejarah Pidie, mendokumentasikannya, dan memastikan generasi berikutnya mengenalnya?

Pidie telah bertahan 515 tahun. Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana merayakannya, tetapi apakah generasi hari ini mampu menjaga sejarah itu tetap hidup ketika pesta telah usai.[Mul]

Previous Post

Penambang Kabur, 93 Gelondongan PETI Disikat Aparat di Geumpang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

515 Tahun Pidie: Jejak Pedir dan Darul Amni yang Tak Boleh Hilang

515 Tahun Pidie: Jejak Pedir dan Darul Amni yang Tak Boleh Hilang

20/09/2026
Penambang Kabur, 93 Gelondongan PETI Disikat Aparat di Geumpang

Penambang Kabur, 93 Gelondongan PETI Disikat Aparat di Geumpang

20/09/2026
Aceh Raih Peringkat 4 Nasional di MTQ 2026

Ketua DPRK Minta Pemko Banda Aceh Beri Bonus Layak untuk Pemenang MTQ Nasional, Pemerintah Aceh Diniai Perlu Perhatian Khusus

20/09/2026
RKI Kuta Alam Launching Sekolah Keluarga, Ibu‑ibu Muda Sambut Antusias

RKI Kuta Alam Launching Sekolah Keluarga, Ibu‑ibu Muda Sambut Antusias

20/09/2026
Pidato Perdana Sayuti, Bongkar Empat PR Besar Demokrat Aceh

Pidato Perdana Sayuti, Bongkar Empat PR Besar Demokrat Aceh

20/09/2026

Terpopuler

Produktivitas Padi Abdya Tembus 10,2 Ton per Hektare, Bukti Keberhasilan Penyuluh dan Petani

Produktivitas Padi Abdya Tembus 10,2 Ton per Hektare, Bukti Keberhasilan Penyuluh dan Petani

19/09/2026

515 Tahun Pidie: Jejak Pedir dan Darul Amni yang Tak Boleh Hilang

PKB Pidie Jaya Pasang Target Agresif: Satu Dapil Satu Kursi

TANI Merdeka Indonesia Abdya Apresiasi Kepemimpinan Safaruddin – Zaman Akli atas Capaian Hasil Panen Petani yang Melimpah

Luar Biasa! Hasil Panen di Blangpidie Capai 8,7 Ton per Hektare, Rekor Tertinggi Selama 6 Tahun

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com