Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Tengah

Kondisi Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah Dinilai Memprihatinkan

redaksi by redaksi
23/03/2026
in Lintas Tengah
0
Kondisi Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah Dinilai Memprihatinkan

CURHATAN aktor sekaligus relawan, Trisa Triandesa, meminta bantuan buku pelajaran pada Kemendikdasmen untuk anak-anak di Reje Payung, Aceh Tengah. (instagram/trisatriandesa)

TAKENGON – Kondisi pendidikan pascabencana di Aceh Tengah memprihatinkan. Siswa di Reje Payung belajar tanpa buku selama berbulan-bulan, sementara guru mengajar lintas kelas dengan fasilitas terbatas dan penghasilan minim.

Di sebuah tenda darurat milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana, proses belajar-mengajar tetap berlangsung—meski jauh dari kata ideal. Di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, anak-anak duduk berdesakan, mencoba memahami pelajaran tanpa buku yang layak.

Kondisi ini diungkap oleh aktor sekaligus relawan, Trisa Triandesa, melalui unggahan di akun Instagram miliknya. Dalam dokumentasi yang dibagikan, terlihat bagaimana aktivitas belajar pascabencana belum sepenuhnya pulih, bahkan setelah lebih dari tiga bulan sejak bencana melanda pada akhir November 2025.

Menurut Trisa, hingga awal Maret 2026, buku pelajaran belum juga diterima oleh siswa maupun guru. Akibatnya, proses pembelajaran berjalan seadanya, mengandalkan ingatan dan kemampuan guru dalam menyampaikan materi tanpa dukungan bahan ajar yang memadai.

“Kalaupun belajar, hanya mengandalkan apa yang bisa diajarkan dengan segala keterbatasan oleh guru yang ada di sini,” ungkapnya dalam video tersebut.

Tak hanya soal fasilitas, persoalan lain yang mencuat adalah keterbatasan tenaga pengajar. Dalam unggahannya, Trisa menceritakan sosok seorang guru yang harus mengajar seluruh jenjang kelas, dari kelas 1 hingga kelas 6, dalam satu ruang darurat yang sama.

Guru tersebut, yang disebut bernama Pak Ijal, menerima gaji sekitar Rp250.000 per bulan. Dengan jumlah tersebut, ia tetap menjalankan tugasnya mengajar di tengah keterbatasan sarana dan kondisi pascabencana yang belum sepenuhnya pulih.

Situasi ini memperlihatkan realitas pendidikan darurat yang kerap luput dari perhatian. Di satu sisi, semangat belajar dan mengajar tetap hidup. Namun di sisi lain, keterbatasan sumber daya memperbesar risiko ketertinggalan pembelajaran bagi siswa.

Trisa pun menyampaikan permohonan terbuka kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah agar segera mengirimkan bantuan buku pelajaran ke wilayah tersebut. Ia bahkan menyatakan kesiapan relawan untuk membantu distribusi apabila terdapat kendala teknis.

Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini kontras dengan besarnya alokasi anggaran pendidikan nasional. Pada 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memiliki pagu anggaran mencapai Rp55,4 triliun.

Anggaran tersebut, menurut Menteri Abdul Mu’ti, difokuskan pada berbagai program strategis, mulai dari peningkatan kompetensi guru hingga penguatan digitalisasi pembelajaran.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa distribusi manfaat program belum sepenuhnya menjangkau wilayah terdampak bencana secara merata. Dalam situasi darurat, kebutuhan dasar seperti buku pelajaran dan ruang belajar layak justru menjadi prioritas mendesak.

Fenomena ini menggarisbawahi tantangan klasik dalam tata kelola pendidikan: bagaimana memastikan bahwa kebijakan dan anggaran yang besar dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata, terutama bagi kelompok paling rentan.

Di tengah segala keterbatasan, harapan tetap ada—bertumpu pada perhatian yang datang tepat waktu, sebelum satu generasi kehilangan kesempatan belajar yang seharusnya mereka dapatkan.

Sumber: jalurinfosulbar.id

Previous Post

Iran Ancam Tutup Total Selat Hormuz jika Fasilitas Energi Diserang

Next Post

Bupati Tarmizi Jenguk Mantan Kombatan GAM yang Sakit di Arongan Lambalek

Next Post
Bupati Tarmizi Jenguk Mantan Kombatan GAM yang Sakit di Arongan Lambalek

Bupati Tarmizi Jenguk Mantan Kombatan GAM yang Sakit di Arongan Lambalek

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Polres Aceh Selatan Patroli Cegah Aksi Kejahatan

Polres Aceh Selatan Patroli Cegah Aksi Kejahatan

23/03/2026
Banjir di Lokasi Bencana Alam di Pedalaman Aceh Barat Sudah Surut

Banjir di Lokasi Bencana Alam di Pedalaman Aceh Barat Sudah Surut

23/03/2026
Para Pedagang Keripik Mulai ‘Hijrah’ dari Saree ke Padang Tiji

Para Pedagang Keripik Mulai ‘Hijrah’ dari Saree ke Padang Tiji

23/03/2026
Bupati Tarmizi Jenguk Mantan Kombatan GAM yang Sakit di Arongan Lambalek

Bupati Tarmizi Jenguk Mantan Kombatan GAM yang Sakit di Arongan Lambalek

23/03/2026
Kondisi Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah Dinilai Memprihatinkan

Kondisi Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah Dinilai Memprihatinkan

23/03/2026

Terpopuler

Kondisi Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah Dinilai Memprihatinkan

Kondisi Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah Dinilai Memprihatinkan

23/03/2026

Pernyataan Prabowo Soal Pemulihan 100 Persen Bikin Korban Banjir Aceh Geram

Saat ‘Bupati Panton’ Lupa Luas Aceh Utara

Jak Bak Jeurat; Cara Warga Aceh Bersilaturahmi dengan Kerabat yang Sudah Tiada

Isu Mosi Tak Percaya 67 Anggota DPRA Dinilai Operasi Politik Adu Domba, Soliditas di Bawah Zulfadhli Ditegaskan Tetap Kokoh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com