BANDA ACEH — Koreografer asal Aceh, Khairul Anwar atau yang akrab disapa Kaka, menilai kualitas pelaksanaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) cabang tari mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, persoalan teknis hingga minimnya transparansi menjadi faktor utama menurunnya mutu lomba.
Kaka mengatakan salah satu persoalan mendasar adalah keterlambatan petunjuk teknis (juknis) yang kerap diterima peserta setelah proses penggarapan karya berjalan. Kondisi tersebut membuat koreografer terpaksa menyesuaikan karya secara mendadak sehingga hasil akhirnya terlihat kurang matang.
“Karena keterlambatan juknis itu, karya akhirnya dipaksakan untuk menyesuaikan aturan. Akibatnya terkesan tidak siap,” kata Kaka dalam diskusi evaluasi pelaksanaan FLS3N.
Menurutnya, panitia seharusnya memastikan juknis diterima peserta lebih awal agar proses penggarapan karya memiliki arah yang jelas sejak awal.
Selain persoalan juknis, Kaka juga menyoroti belum jelasnya standar penilaian yang diberikan kepada peserta. Selama ini peserta hanya mengetahui poin umum seperti wiraga, wirama, wirasa, dan unity tanpa penjelasan detail mengenai indikator penilaian.
“Wiraga itu apa, wirama itu apa, wirasa itu apa, harus dijelaskan secara rinci kepada peserta,” ujarnya.
Ia menilai panitia seharusnya lebih dulu menyepakati mekanisme penilaian bersama peserta sebelum diteruskan kepada dewan juri. Dengan begitu, seluruh pihak memiliki pemahaman yang sama terkait standar penilaian.
Kaka juga mengkritik proses penunjukan dewan juri yang dinilai belum transparan. Menurutnya, peserta perlu mengetahui latar belakang dan kompetensi juri agar tidak muncul keraguan terhadap kualitas penilaian.
“Minimal ada portofolio atau CV juri yang diberikan kepada peserta sehingga tidak muncul ketidakpercayaan,” katanya.
Mantan dewan juri FLS2N itu menilai pelaksanaan lomba saat ini lebih berorientasi pada penyelesaian kegiatan dibanding pendalaman kualitas.
“Yang penting ada juri, ada peserta, lalu selesai. Akhirnya kualitasnya turun,” ujarnya.
Ia juga menyoroti minimnya apresiasi kepada peserta. Padahal, menurutnya, biaya produksi satu karya tari bisa mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta.
“Sekarang peserta hanya menerima sertifikat, sementara proses penggarapan karya itu membutuhkan biaya besar,” kata Kaka.
Karena itu, ia berharap penyelenggaraan FLS3N ke depan lebih profesional, transparan, dan mampu membangun sistem penilaian yang disepakati bersama sehingga polemik di lapangan dapat diminimalkan.










