Aceh Selatan- Siapa yang tidak kenal dengan “Meukek” salahsatu kecamatan yang terkenal dengan pala,kopi dan durian terbesar di Aceh selatan .
Meukek selain melahirkan tokoh-tokoh intelektual baik ditingkat daerah, provinsi maupun nasional Meukek juga menyimpan kearifan lokal yang beragam.
Keunikan yang ada dikampung ini adalah Berburu eungkot jangko dilakukan bersama-sama,kegiatan seperti ini dilakukan tidak mesti sebatas dihari libur pasca lebaran idul Fitri dan idul Adha saja kegiatan meurumok ini kerap dilakukan oleh masyarakat setempat, budaya berburu ikan asli krueng Meukek ini dimanfaatkan sebagai momentum menyatukan keluarga, kerabat dan sahabat dengan meubureu ikan khas sungai Meukek (seng-seng) penuh keakraban.

Tradisi meurumok atau makan-makan bersama keluarga dengan berburu ikan jangko ikan endemik sungai yang diairi dari hutan lebat lauser, kearifan lokal tersebut terus tumbuh sampai hari ini.
Perburuan Ikan jangko ini salah satu perekat keluarga dan sahabat, misalnya juanda, warga asli desa seng-seng, kecamatan Meukek, bercerita panjang lebar tentang tradisi turun temurun yang tetap dijaga oleh warga Gampong seng-seng hingga kini.
“Juanda, merasa memori nya seakan kembali lagi kemasa lampau dimana masa ia masih kecil dulu kegiatan meubureu (berburu) ikan kecil ini menjadi hari yang ditunggu dan tentunya para anak-anak sangat bahagia, ia juga menuturkan dulu tidak seperti ini dapat ikan nya, biasanya sekali turun ke sungai sudah banyak mendapatkan ikan nya yang terkenal sangat lezat jika dimasak asam keueung bungong kala, ( asam pedas bunga kala) ditambah lagi jika dimasak dengan bumbu khas seng-seng sangat menggugah selera, untuk menambah nikmat nya jika gulai ikan jangko ini disantap dengan nasi hangat. Sambil menikmati panorama alam nya yang memanjakan mata Nyambi berendam beramai-ramai di sungai nan sejuk ini.
Juanda, juga menambahkan. Saat ini ikan jangko sudah mulai sulit didapat mungkin debit air nya sudah kecil dan ikan nya sudah tidak besar-besar lagi kecuali kita naik kehulu yang lumayan jauh dari perkampungan, perbedaan dulu dengan sekarang memang sangat jauh,,” ujar juanda.
Lanjut,juanda. Meubureu ini bukan saja dilakukan saat musim liburan saja melainkan kegiatan berburu ikan ini dilakukan apabila warga mengadakan hajatan sperti acara kawinan,sunatan bahkan acara kematian sekalipun.
kegiatan meubureu ini termasuk budaya yang sudah dibangun oleh Indatu monyang yang sarat bernuansa sosial yang masih terjaga hingga kini, setelah perburuan selesai maka semua ikan tersebut langsung dibawa ketempat hajatan untuk dimasak dan disantap bersama, disitulah keakraban antar warga semakin terjalin erat,” tutup juanda.










