BANDA ACEH – Koreografer muda Tarina Seulanga mengangkat Sebuah karya tari berjudul “Fitnah” dari cerpen “Malelang dan Madiyon” karya Muhammad Yusuf Bombang atau Apa Kaoy, mengangkat kisah tragis tentang dampak tuduhan tanpa bukti yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang. Karya ini memadukan gerak tari tradisional Aceh dengan sentuhan kontemporer yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi adat, kebersamaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Tarian “Fitnah” dimainkan oleh Sanggar Keumala Intan digelar pada festival Tari yang diikuti oleh 13 kelompok tari di Aceh. Dilaksanakan oleh Komunitas Meureuno Art dan Ranup Fest 2026 di Teater Tertutup Taman Seni dan Budaya Aceh, Banda Aceh, Sabtu (25/7/2026) malam.
Tarian ini berpusat pada tokoh Mayalah yang dibesarkan bersama Madiun oleh Siti Jamilun. Hubungan ketiganya digambarkan melalui rangkaian gerak tari yang lembut dan penuh keakraban, mencerminkan ikatan persaudaraan yang tumbuh dalam suasana harmonis.
Konflik dalam karya tari ini mulai muncul ketika sebuah peristiwa disalahartikan oleh masyarakat. Melalui ekspresi gerak yang dinamis dan penuh tekanan, digambarkan bagaimana fitnah menyebar dengan cepat hingga memengaruhi pandangan warga tanpa adanya klarifikasi yang jelas. Hal ini kemudian memicu keputusan yang berujung pada penderitaan bagi tokoh yang tidak bersalah.
Pada bagian klimaks, korban digambarkan berusaha memperjuangkan kebenaran melalui gerak tari yang sarat emosi, melambangkan upaya meminta waktu dan ruang untuk tabayun. Namun, arus fitnah yang telah terlanjur meluas digambarkan sebagai kekuatan besar yang sulit dibendung, membawa dampak yang menyakitkan bagi semua pihak.
Melalui rangkaian koreografi yang sarat makna, tarian “Fitnah” mengajak penonton untuk tidak mudah mempercayai kabar yang belum terbukti kebenarannya. Karya ini juga menjadi refleksi pentingnya menjunjung keadilan, melakukan klarifikasi sebelum mengambil keputusan, serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan mengangkat kearifan lokal Aceh sebagai inspirasi gerak dan suasana, karya tari ini diharapkan menjadi media edukasi sekaligus pengingat akan bahaya fitnah yang dapat merusak kehormatan, persaudaraan, dan masa depan seseorang.
Tarian ini juga melibatkan komputer Musik Moritza Taher dan penari sebanyak 10 orang.
Tarina Seulanga adalah Koreografer yang sebelumnya juga pernah mengangkat kisah Suku Sentinel di India. Saat ini Gadis ini berstatus sebagai guru seni di SMA Muhammadiyah 1 Banda Aceh dan guru privat pada beberapa sekolah sekopah mengah.[]









