SIGLI – Wacana melibatkan kantin sekolah dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai perlu dikaji secara menyeluruh agar pengembangan pola layanan tidak mengganggu sistem yang selama ini telah berjalan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pelibatan pengelola kantin pada prinsipnya dapat menjadi alternatif untuk memperluas dukungan terhadap program pemerintah, terutama dalam menyediakan makanan yang sehat dan memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Namun, penerapannya membutuhkan kesiapan sistem, standar yang jelas, serta mekanisme pengawasan yang terukur.
Ketua Yayasan Garuda Jaya Agung, Hasanusi, selaku penyelenggara SPPG Gampong Neuheun, Kecamatan Batee, menilai penguatan kapasitas SPPG masih menjadi langkah penting untuk menjaga konsistensi sekaligus kualitas pelaksanaan MBG.
Menurutnya, fasilitas, tenaga pengelola, serta sistem kerja yang telah dibangun melalui SPPG merupakan investasi yang perlu dijaga keberlanjutannya. Karena itu, perubahan atau pengembangan pola layanan sebaiknya tidak dilakukan tanpa kajian yang matang.
“SPPG bukan sekadar tempat produksi makanan, tetapi merupakan bagian dari sistem yang mencakup perencanaan menu, penyediaan bahan pangan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi,” ujar Hasanusi. Senin 10 September 2026
Ia menilai, jika kantin sekolah akan dilibatkan, pemerintah perlu terlebih dahulu mengkaji berbagai aspek, mulai dari standar gizi dan keamanan pangan, kebersihan, pengawasan, mekanisme distribusi hingga pembagian tanggung jawab antara SPPG, sekolah dan pengelola kantin.
Kajian tersebut, kata dia, idealnya melibatkan pemerintah, pihak sekolah, pengelola kantin dan pelaksana MBG sehingga pola yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kesiapan masing-masing satuan pendidikan.
“Waktu dan lokasi penerapan juga perlu ditentukan berdasarkan hasil kajian dan kesiapan sekolah. Jangan sampai pola baru justru menimbulkan tumpang tindih pelayanan atau berdampak terhadap kualitas program yang sudah berjalan,” katanya.
Hasanusi menambahkan, pelibatan kantin tetap terbuka untuk dikembangkan sepanjang dilakukan secara bertahap, terukur dan berada dalam sistem pengawasan yang jelas.
“Yang paling penting, tujuan utama MBG jangan bergeser, yaitu memastikan peserta didik memperoleh makanan yang bergizi, aman, sehat dan tepat sasaran,” ujarnya.









