Refleksi HUT ke-19 Kabupaten Pidie Jaya
Oleh: Dr. Safwan, M.Ag. Ketua KNPI Pidie Jaya 2008–2013
Sembilan belas tahun lalu, ketika Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2007 melahirkan Kabupaten Pidie Jaya sebagai daerah otonom baru, harapan masyarakat membuncah. Pemekaran diyakini menjadi jalan keluar dari ketimpangan pembangunan yang selama puluhan tahun dirasakan masyarakat di kawasan timur Kabupaten Pidie.
Saat itu, pemekaran bukan sekadar perubahan batas administrasi, melainkan janji politik dan janji sejarah: menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat, pembangunan yang lebih cepat, dan kesejahteraan yang lebih merata.
Hari ini, di usia ke-19 tahun, sudah saatnya kita berhenti sekadar menghitung usia dan mulai mengukur capaian. Sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: apakah Pidie Jaya benar-benar telah menjadi daerah yang lebih maju dari cita-cita awal pemekaran, atau justru masih berkutat pada persoalan yang sama dengan wajah yang berbeda?
Pertanyaan ini penting, karena usia 19 tahun bukan lagi usia bayi yang terus dimaklumi atas keterbatasannya.
Ini adalah usia menuju kedewasaan. Sebuah daerah yang seharusnya sudah mampu berdiri di atas kaki sendiri dan memiliki arah pembangunan yang jelas.
Pemekaran Bukan Tujuan, Melainkan Alat
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi dalam menilai daerah pemekaran adalah menganggap keberhasilan hanya diukur dari berdirinya kantor pemerintahan, terbukanya jalan baru, atau bertambahnya jumlah aparatur sipil negara.
Padahal, tujuan utama pemekaran bukanlah menciptakan birokrasi baru, melainkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam konteks itu, Pidie Jaya memang telah berhasil membangun fondasi pemerintahan. Struktur birokrasi terbentuk, pusat pemerintahan berdiri, pelayanan publik semakin dekat dengan masyarakat, dan berbagai fasilitas dasar telah tersedia.
Namun pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah kesejahteraan masyarakat meningkat secepat pertumbuhan birokrasi?
Fakta menunjukkan bahwa hingga hari ini, sebagian besar masyarakat masih bergantung pada sektor pertanian tradisional yang rentan terhadap berbagai gejolak. Harga gabah naik turun. Harga kakao dan pinang bergantung pada pasar. Nelayan masih menghadapi keterbatasan sarana produksi dan akses pasar.
Artinya, setelah 19 tahun berjalan, transformasi ekonomi yang menjadi ruh utama pemekaran belum sepenuhnya terwujud.
Gempa 2016: Titik Balik yang Mengubah Segalanya
Tidak ada peristiwa yang lebih menentukan perjalanan Pidie Jaya selain gempa bumi 7 Desember 2016. Bencana tersebut tidak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga menguji kapasitas kepemimpinan, ketangguhan birokrasi, dan solidaritas masyarakat.
Di tengah kehancuran itu, Pidie Jaya menunjukkan wajah terbaiknya. Rekonstruksi berjalan cepat. Rumah warga dibangun kembali. Masjid, sekolah, dan pasar kembali berfungsi. Aktivitas ekonomi perlahan pulih.
Kepemimpinan saat itu berhasil mengonsolidasikan kekuatan pemerintah daerah, pemerintah pusat, lembaga donor, dan masyarakat sipil untuk mempercepat pemulihan.
Namun ada satu hal yang perlu diakui secara jujur.
Pasca-gempa, sebagian besar energi pembangunan tersedot untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Akibatnya, agenda transformasi ekonomi jangka panjang tidak berkembang secara optimal.
Pembangunan fisik memang berhasil dilakukan, tetapi pembangunan ekonomi produktif berjalan lebih lambat.
Kita berhasil membangun kembali gedung-gedung yang roboh, tetapi belum sepenuhnya berhasil membangun mesin ekonomi baru yang mampu menciptakan kesejahteraan berkelanjutan.
Pertumbuhan Ada, Lompatan Belum Terlihat
Jika kita melihat perjalanan pembangunan Pidie Jaya selama hampir dua dekade, maka terdapat satu kesimpulan yang sulit dibantah: ada kemajuan, tetapi belum ada lompatan. Jalan bertambah baik.
Gedung pemerintahan semakin representatif.Layanan publik semakin tertata. Digitalisasi mulai berjalan.
Namun kemajuan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh perubahan struktur ekonomi masyarakat. Pidie Jaya masih menjadi daerah yang menjual bahan mentah. Petani menjual gabah. Pekebun menjual kakao mentah. Nelayan menjual ikan segar. Nilai tambah terbesar justru dinikmati oleh daerah lain yang memiliki industri pengolahan.
Akibatnya, uang yang seharusnya berputar di Pidie Jaya justru mengalir keluar daerah.
Inilah paradoks pembangunan yang selama ini terjadi. Daerah kaya sumber daya, tetapi nilai ekonominya dinikmati pihak lain. Ketergantungan Fiskal yang Mengkhawatirkan Persoalan lain yang tidak boleh diabaikan adalah rendahnya kemandirian fiskal daerah.
Hampir dua dekade setelah pemekaran, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pidie Jaya masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan pembangunan. Sebagian besar anggaran daerah masih bergantung pada transfer pemerintah pusat.
Kondisi ini menciptakan ketergantungan yang berbahaya.
Karena setiap perubahan kebijakan fiskal nasional akan langsung berdampak terhadap kemampuan daerah membiayai pembangunan.
Fakta ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi lokal belum mampu menghasilkan basis pendapatan yang kuat bagi daerah.
Padahal salah satu tujuan utama pemekaran adalah menciptakan daerah yang lebih mandiri secara ekonomi.
Krisis Lapangan Kerja dan Hilangnya Generasi Produktif
Masalah yang lebih serius adalah fenomena migrasi tenaga kerja muda.
Setiap tahun, banyak pemuda Pidie Jaya yang memilih merantau ke Medan, Banda Aceh, Batam, Malaysia, bahkan Timur Tengah.
Sebagian berhasil.
Sebagian lainnya hanya menjadi buruh dengan upah minim. Fenomena ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif dengan kemampuan daerah menyediakan lapangan kerja.
Lebih menyedihkan lagi, banyak lulusan perguruan tinggi yang akhirnya tidak bekerja sesuai bidang keahliannya karena terbatasnya peluang kerja lokal.
Jika kondisi ini terus berlangsung, maka Pidie Jaya akan menghadapi ancaman kehilangan sumber daya manusia terbaiknya.
Daerah membiayai pendidikan anak-anak muda, tetapi hasilnya dinikmati daerah lain.
Potensi Besar yang Belum Menjadi Kekuatan Pidie Jaya sesungguhnya memiliki banyak keunggulan kompetitif.
Posisi geografis strategis di jalur nasional.
Sektor pertanian yang kuat, Potensi perikanan yang besar
Sumber daya manusia yang religius dan memiliki semangat sosial tinggi. Namun hingga hari ini, potensi tersebut belum sepenuhnya diubah menjadi kekuatan ekonomi.
Kita masih terlalu fokus pada pembangunan administratif dan kurang agresif dalam membangun ekosistem investasi.
Kita masih berbicara tentang produksi, tetapi belum serius berbicara tentang industri.
Kita masih sibuk meningkatkan hasil panen, tetapi belum maksimal meningkatkan nilai jual hasil panen.
Padahal daerah yang maju bukanlah daerah yang menghasilkan banyak komoditas, melainkan daerah yang mampu mengolah komoditas menjadi produk bernilai tinggi.
Kepemimpinan dan Tantangan Masa Depan
Setiap pemimpin yang pernah memimpin Pidie Jaya memiliki kontribusinya masing-masing. Para perintis membangun fondasi pemerintahan. Kepemimpinan berikutnya membangun stabilitas dan menghadapi bencana besar.
Era transisi memperkenalkan reformasi birokrasi dan digitalisasi.
Kini, pemerintahan H. Sibral Malasyi dan Hasan Basri menghadapi tantangan yang berbeda. Tantangan mereka bukan lagi membangun kantor pemerintahan atau memulihkan daerah dari bencana. Tantangan mereka adalah menciptakan lompatan ekonomi.
Membangun industri berbasis pertanian.Mengembangkan sektor perikanan modern. Menciptakan lapangan kerja baru, Meningkatkan PAD, Menarik investasi dan memastikan bahwa generasi muda memiliki masa depan di tanah kelahirannya sendiri.
Karena sejarah tidak akan mengingat berapa banyak rapat yang dilakukan pemerintah. Sejarah akan mengingat apakah rakyat hidup lebih sejahtera atau tidak.
HUT ke-19: Momentum Introspeksi, Bukan Sekadar Seremoni
Peringatan HUT ke-19 Kabupaten Pidie Jaya seharusnya tidak berhenti pada pesta rakyat, panggung hiburan, baliho ucapan selamat, atau seremoni seremonial lainnya.
Momentum ini harus menjadi ruang evaluasi kolektif. Kita perlu jujur mengakui keberhasilan yang telah dicapai. Tetapi kita juga harus berani mengakui berbagai kegagalan dan ketertinggalan yang masih ada. Karena daerah yang besar bukanlah daerah yang selalu merasa berhasil. Melainkan daerah yang berani mengoreksi dirinya sendiri.
Sembilan belas tahun lalu, masyarakat bermimpi tentang Pidie Jaya yang maju, mandiri, dan sejahtera.
Hari ini, sebagian mimpi itu telah terwujud.
Namun sebagian lainnya masih menunggu untuk diwujudkan. Tugas generasi hari ini adalah memastikan bahwa pada usia ke-25 atau ke-30 tahun nanti, Pidie Jaya tidak lagi hanya dikenang sebagai daerah pemekaran yang berhasil bertahan hidup, tetapi sebagai daerah yang benar-benar berhasil menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-19 Kabupaten Pidie Jaya. Semoga refleksi menjadi awal perbaikan, dan harapan benar-benar berubah menjadi kenyataan










