BANDA ACEH — Suasana kritik sosial mewarnai acara baca puisi “Jalan yang Lurus Din Saja” yang digelar di Taman Jeda (Ruang Bicara), kawasan Batoh, Banda Aceh, Sabtu (29/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, penyair dan pembaca puisi Ella Gayo membacakan karya Wiratmadinata berjudul “Tuan Katakan Dusta”. Puisi yang ditulis pada Desember 2025 itu menyuarakan kegelisahan terhadap kondisi masyarakat Aceh di tengah bencana serta mempertanyakan cara penguasa merespons penderitaan rakyat.
Melalui larik-larik yang tajam, puisi tersebut menggambarkan kritik terhadap narasi kekuasaan yang dinilai kerap berseberangan dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat di lapangan.
“Tak apa tuan berdusta, karena tuan adalah penguasa,” menjadi salah satu penggalan yang menegaskan nada kritik dalam karya tersebut.
Puisi itu juga mengangkat gambaran bencana banjir bandang dan kayu gelondongan, kampung yang hilang, jembatan yang rusak, terputusnya akses masyarakat, kelangkaan kebutuhan pokok, hingga penderitaan warga yang harus berjuang mendapatkan pangan.
Salah satu bagian puisi menyoroti kondisi masyarakat Bener Meriah yang disebut harus berjalan jauh untuk menjual hasil pertanian dan menukarkannya dengan beras demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi Ella Gayo, pembacaan puisi tersebut tidak sekadar menjadi pertunjukan sastra. Puisi menjadi medium untuk menghadirkan kembali suara masyarakat yang mengalami langsung situasi sulit ketika bencana terjadi.
Kritik dalam puisi juga diarahkan pada kecenderungan kekuasaan untuk menentukan sendiri narasi mengenai sebuah bencana. Penyair mempertanyakan ketika penderitaan yang dirasakan masyarakat justru dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau tidak perlu mendapat perhatian lebih luas.
Pada bagian akhir, Wiratmadinata menempatkan doa rakyat sebagai bentuk perlawanan terakhir terhadap ketidakberdayaan. Dusta kekuasaan, menurut pesan puisi tersebut, pada akhirnya akan tercatat dalam ingatan masyarakat dan sejarah.
Acara “Jalan yang Lurus Din Saja” di Taman Jeda menjadi ruang perjumpaan antara puisi, kegelisahan sosial, dan suara kritis masyarakat. Pembacaan karya Wiratmadinata oleh Ella Gayo memperlihatkan bagaimana sastra tetap dapat menjadi ruang untuk mempertanyakan kekuasaan dan menyuarakan pengalaman rakyat.
Melalui puisi, kritik tidak disampaikan dalam bentuk pidato politik, melainkan melalui kata-kata, metafora, dan pengalaman kemanusiaan yang mengajak pembaca untuk melihat kembali apa yang terjadi di tengah masyarakat.
Sementara kritik sosial penyair Din Saja disamoaikan melalui puisi “Makan Sate”. Di Saja tidak sendirian, kolaborasi Makan Sate dengan Lagu Kuala Tripa Rafly makin kuatkan suasana malam di ruang Acara tersebut.
Hadir juga penyair Wina SW1, Pelantun Blues Aceh Sarjev, dan Apa Kaoy. Ada Rektor UTU, Dr Fuad Rahmatilah, dan sejumlah tokoh dari berbagai profesi.[]









